
lanjutan flashback
*Anet, kamu memang anak yang baik. paman akan 1000% bersedia membantu niat baik mu ini.* ucap paman setelah mendengar penjelasan anet.
*Ya, papi juga akan membantu mu.* papi tak kalah semangat.
Mami dan bunda saling pandang dan tersenyum, *Kami juga* ucap mereka bersamaan. semua yang ada di meja tersebut tertawa bahagia sampai mengundang pengunjung lain untuk melihat ke arah mereka.
*Oh iya, kapan kau ingin menjenguk ibu teman mu itu nak* tanya bunda.
*Malam ini bun, apa ada yang mau ikut* tanya anet pada mereka berempat. dan tentu saja memua mengangguk ingin ikut.
Saat malam tiba Anet berangkat ke rumah sakut bersama paman dan bunda, karena malam ini jadwalnya tidur di rumah bunda. papi dan mami menyusul. namun tiba di halaman rumah sakit bersamaan.
Sesampai di depan ruang rawat rumah sakit, tempat dimana ibu dinda di rawat. Anet dan yang lain tertegun melihat dinda dan dua adiknya saking merangkul dengan isakan tangis yang menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya.
Anet berlari ke arah dinda *Dinda kalian kenapa menagis* tanya anet. dinda dan dua adiknya melepas pelukan mereka dan melihat anet dan juga orang tua anet.
*Anet, kenapa kamu ada disini. apa ada kerabatmu yang juga di rawat di aini* tanya dinda sambil mengelap air matanya.
__ADS_1
*Aku kesini untuk menjenguk ibu mu* anet menoleh ke belakang. *Mereka adalah orang tuaku* lanjutnya memeperkenalkan orang tuanya pada dinda. dinda merasa heran kenapa krang tua anet ada empat, tapi dia tak ingin ikut campur urusan keluarga orang lain.
Dinda dan kedua adiknya menyalami orang tua anet secara bergantian. *Kenapa kalian menangis nak* tanya paman membuka suara.
*Ibu kami harus di operasi secepatnya om. kalau tidak dokter tidka bisa menjamin apa yang terjadi kedepannya* jawab dinda sendu dan memeluk kedua adiknya.
*Jangan bersedih, sekarang antarkan paman ke resepsionis. kita selesaikan disana* Ajak paman pada dinda. awalnya dinda bingung apa tujuan paman mengajaknya ke resepsionis. namun Anet mengangguk pada dinda. Paman dan papi mengikuti langkah dinda ke resepsionis.
Sementara anet dan dua ibunya menemani dua adik dinda di kursi tunggu depan ruang rawat ibu mereka.
*Kalian sudah makan* tanya mami pada dua gadia kecil itu, mereka menggeleng pelan sambil tertunduk. lalu mami memberikan satu palistik besar berisi makanan seperti roti dan juga susu kotak. mami sengaja membawakan nya karena mendengar cerita anet sebelumnya tentang keluarga malam ini.
*Terima kasih kak, tante. kami jadi merepotkan kalian semua. maafkan kami* ucap adek dinda yang SMA dengan sangat sopan.
*Tidak masalah. kita semua adalah saudara, jadi sesama saudara kita harus salin tolong kan* bunda berkata sambil mengusap kepala adik dinda yang bungsu, sementara anet dan mami menggenggam tangan adik dinda yang besar.
Setelah kembali dari resepsionis rumah sakit, dinda berlari dan memeluk dua adiknya dengan haru. membuat anet dan dua orang tuanya ikut menitikkan air mata.
*Kakak, kenapa menangis, ibu baik baik saja kan* tanya adinya nya yang bungsu dengan polos.
__ADS_1
*Iya sayang, sebentar lagi ibu kita akan sembuh, karena om dan tante serta kakak ini telah membantu kita membayar semua biaya ibu* Ucap dinda masih terisak pada dua adiknya.
Kedua adik dinda melepas pelukan nya dari sang kakak, memeluk papi, paman dan juga bunda serta mami bergantian.
*Terima kasih om dan tante susah menolong kami, kami janji suatu saat nanti akan membalas jasa om dan tante semua*
*Sudah, jangan menagis lagi. sekarang kita tinggal berdoa semoga operasi ibu kalian berjalan lancar nantinya* mami menguatkan dinda dan adik adiknya. anet selau setia mengenggam tangan dinda, sementara adek dinda paling kecil berada dalam pelukan bunda.
Setelah operasi berjalan dengan lancar dan 2 minggu kemudian ibu dinda di boleh kan pulang. Anet dan dua orang tuanya sudah menyiapkan sebuah rumah kecil dua kamar untuk dinda dan keluarganya. rumah ini dia beli dari uang peninggalan kedua orang tuanya dan.
Karena sepulang dari rumah sakit saat menjenguk ibu dinda malam itu, anet di beitahukan sebuah rahasia lagi dari dua orang tuanya, yaitu sebuah rumah dan aset lainnya peninggalan orang tuanya, dan tentu saja termasuk perusahaan dan sebuah lestoran mahal milik almarhumah ibunya.
Makan dari itu anet ingin sebagian harta peninggalan orang tuanya itu di jadikan amal jariah salah satunya membatun keluarga dinda.
Selain rumah, anet juga membuatkan warung kecil di depan rumah tersebut, agar ibu dinda tak perlu lagi jadi tukang ojek setelah sembuh, dengan adanya warung itu anet juga berharap dinda tak perlu lagi bekerja sampai larut malam. karena setelah meningval ayahnya, dinda bekerja menjadi pelayan cafe setah pulang kuliah dan selalu pulang larut malam demi membantu perekonomian keluarganya.
***Bersambung....
Udah triple bab ya..
__ADS_1
Semoga besok bisa up lagi***...