
Rembulan yang bertatah di tengah kegelapan malam beransur turun dari singgasananya dan akan di gantikan sang mentari yang teramat meyilaukan mata saat menatapnya. Namun sebelum benar benar bertahtah matahari membiarkan awan awan hitam yang beransur memutih itu untuk melindunginya agak tak lamsung bercahaya kuat, dan embun pun masih membasahi setiap helai dedaunan dan rerumputan hijau di muka bumi.
Anet membuka mata saat merasakan sedikit sinar menerpa tubuhnya dari balik gorden jendela kamarnya.
*Alhamdulillah, masih di beri nikmatenghirup udara pagi yang segar* anet menggeliat menegangkan otot otot tubuhnya.
Sejak tinggal di rumah sendiri anet merasa lebih lelah dari hatlri hari sebelumnya. bagaimana tidak, tiap pagi ke kampus dan setiap harinya setelah pulang kuliah ia menyempatkan mampir ke lestoran peninggalan ibunya, dan kadang dia juga sering di minta menginap oleh bunda atau pun mami di rumah mereka, dengan alasan rindu padanya.
Hari ini rencananya anet ingin bersantai saja di rumah, kebetulan ini hari libur. dan kemaren sudah mengatakan pada manajer lestoran bahwa hari ini dia tak datang ke sana.
Setelah mandi, anet ke bawah, rencananya ia akan memasak serapan sendiri hari ini. dan meminta biknah untuk istirahat saja.
Saat sampai di dapur anet terkejut melihat Ambran sudah duduk manis di meja makan dan secangkir teh buatan biknah.
*Pagi sayang, baru bangun* ambran berlagak seperti tuan rumah.
*Sayang sayang, anda siapa pagi pagi buta sudah di rumah saa* anet berdiri berdecak pinggang dan memasang wajah sok marah.
__ADS_1
*Aku, adalah pangeran yang sebentar lagi akan menjadi suami mua sayang* ambran bukannya takut malah menjadi jadi menggida anet.
Anet duduk di depan ambran dan melihat dua cap bubur ayam di atas meja *Ooh, sudah salah gak mau ngaku, trus ini apa. mau nyogok ya* anet bersusah payah menahan tawanya.
*Ooh, tidak. ini adalah bentuk rasa sayang pangeran untuk calon permaisurinya* Ambran cengengesan.
*Aah sudah sudah, capek ah actingnya* Anet akhirnya menyerah.
*Kenapa kakak ada di sini. apa semalam kakak menyelinp masuk rumah ini* tanya anet mengerutkan dahinya.
*Aiz, suuzon aja, kakak belum lama sampai loh. bawakan bubur ayam buat adek dan yang lain*
*Makannya biar kakak gak bucin terus, terima dong cinta kakak ini, pliiiissss* Ambran memasang muka malas dan mengatup kedua tangannya.
*Kan udah di bilang, anet gak mau pacar pacaran* anet memakan bubur ayamnya.
*Mmmmm bosan dengar alasannya, itu mulu* Ambran memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
*Hahaha, kalau bosan udah jangan di bahas lagi, mending cepatan makan buburnya nanti gak enak kalau udah dingin* anet hanya makan dan cuek saja.
Setelah sarapan bubur, Ambran mengajak anet untuk jalan jalan. tapi malah di tolak Anet, dia malah meminta ambran untuk mengajarkannya tentang cara berbisnis.
*Dari pada jalan jalan mending ajarkan aku dunia bisnis, lebih bermanfaat* ucap anet saat mereka duduk santai di tepi kolam renang di samping rumah anet.
*Boleh juga, tapi ada syaratnya*
*Aiz, pakai syarat segala, gak iklas* anet mencubit lengan ambran yang duduk di sebelahnya.
*Aduh, sakit. ini KDRT namanya, bisa kena pasal berlapis ni* ambran mengusap lengannya.
*Laporin sana, gak takut* Anet tambah jutek.
*Ooh, oke, pulang dari sini kakak laporin kamu ya, sama mama, biar kamu di datangi mma buat di jadikan mantunya*
*Menyebalkan bangat sih jadi orang* Anet memiringkan posisi duduknya dan ambran menarik pinggang gadia itu kedalam pelukannya.
__ADS_1
Tak lupa untuk mengacak rambut wanita idamannya itu dengan gemas, tentu saja itu sudah jadi kebiasaanya sejak mengenal anet. dan anet sudah terbiasa dengan tingkah pria ini, selalu manja dan selalu menganggap anet kekasihnya. dan anet tak pernah bisa marah dengan ambran, karena sebenarnya dia juga merasa nyaman di dekat pria ini.
Bersambung....