Bukan Gadis Desa Biasa

Bukan Gadis Desa Biasa
BAB 48


__ADS_3

Roby datang dengan nafas tersenggal, sejak mendapat pesan singkat dari Ambran tadi pikirannya kacau dan panik memikirkan dea sang kekasih hati. sampai di lobi rumah sakit, robi menelpon ambran guna menanyakan dimana ruangan dea. Setelah mendapat jawaban dari ambran robi lansung berlari menuju ruangan yang tersebut. saat sampai depan ruang IGD ia melihat anet menangis sesugukan di kursi tunggu dan ambran di sebelahnya mencob menenangkan anet.


*Bro, gimana kondisi dea ?* tanya robi panik.


*Dia masih di dalam, tenanglah dulu* ambran melihat robi dan menepuk kursi kosong d sebelahnya. robi yang panik duduk di sebelah ambran menjambak rambutnya sendiri.


*Kau kenapa bi, jangan buat aku gila* ucap robi sedikit berteriak. tak lama dokter keluar dari IGD, semua yang menunggu berdiri melihat dokter tersebut, dengan cepat robi dan anet bertanya kondisi dea.


*Dok, bagaimana kondisi dea* tanya robi dan saat bersamaan anet juga bertanya *Dok, gimanan kondidsi kak dea ?* Dokterpun menepuk pundak robi, dan melihat ke arah anet. *Pasien mengalami koma, sebenatar lagi akan kami pindahkan ke ruangan rawat intensif* dokter memberi jawaban. robi lansung linglung dan terduduk dikursi.-


*Sebenarnya apa yang terjadi dengan kak dea dok, kenapa sampai koma* tanya anet.


*Pasien sebenarnya mengidap penyakit serius, apakah anda kerabatnya pasiaen* tanya dokter.

__ADS_1


Anet bingung harus menjawab apa, tapi dengan rasa kwatirnya dia menjawab. *saya saudaranya dok,*


*baiklah. mari ikut saya ke ruangan saya dulu.* dokterpun melangkahbmenuju ruangannya. sementara anet melihat Ambran, dan robi bergantian. ambran yang mengerti akan maksud anet mengangguk *bro, kau tunggu disini, aku akan menemani anet sebentar* robi hanya mengangguk tanpa melihat ambran dan anet.


Saat di ruang dokter, anet dan ambran saling lirik karena melihat wajah dokter yang seperti sangat serius. *Silahkan duduk dulu* dokter mempersilahkan mereka duduk, setelah anet dan Ambran duduk dokter mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada dea.


*Sebenarnya dea adalah pasien tetap saya,* Anet mendengar itu lansung menyeritkan keningnya bingung apa maksud dokter tersebut.


*Ya, dea sebenarnya melarang saya untuk mengatakan ini pada keluarganya, bahkan saya sudah berjanji untuk tidak mengatakannya. tapi saya rasa ini sudah darurat jadi mau tidak mau harus saya sampaikan pada keluarganya.* ujar sang dokter.


*Dok, tolong jangan membuat saya takut, katakan sebenarnya ada apa* ucap anet mjlai terbawa emosi.


*Dea mengalami kangker otak, dan sekarang sudah stadium 3, itulah yang menyebabkan nya koma. saya sudah pernah sarankan untuk melakukan operasi, tapi dia menolaknya.* jelas sang dokter. Anet mendengar penjelasan dokter lansung syok, badannya pun lemas, air matanya tumpah tanpa permisi. Ambran memegang jemari anet.

__ADS_1


Setelah, keluar dari ruangan dokter, mereka menuju ruang rawat dea yang di dalamnya terlihat robi sedang menangis dan mencium tangan pucat dea. melihat itu Anet merasa tambah bingung, membiarkan robi di dalam, dan memilih duduk di kursi tunggu depan ruangan itu dan ambran mengikutinya. Prasaan anet kacau, Apakah ia harus memberitahukan Papi dan mami dea tentang penyakit ini, tapi jika di beritahu mereka pasti sangat hancur mendengarnya, karena mereka sudah sangat menyayangi dea, lagi pula mereka pasti sedang sibuk mengurus perusahaan di luar negri.


*Dek, lebih baik adek kasih tau saja sama orang tua dea, ini bukan masalah janji dokter dan dea, tapi ini sudah sangat serius dek. kakak tau adek pasti sedang bingung sekarang harus apa* Ambran memberi saran dan lagi lagi menggenggam jemari Anet.


Anet melihat Ambran.


***Bersambung.........


Selamat pagi bundsiast. bantu koment nya dong, biar cerita ini gak bikin bosan bundsist semua saat baca.


Karna akhir akhir ini author suka ngebleng, ..


love you bundsistku😘😘😘***

__ADS_1


__ADS_2