
Langit begitu cerah di tambah lampu kerlap kerlip pertokoan yang berjejer rapi di sebelah kiri dan kanan jalan raya yang masih sangat ramai oleh aktivitas penduduknya.
*Lama di pandang kau tambah cantik saja* Ambran membuka suara.
Anet memalingkan pandnagannya pada ambran *Gombal*
*Hahaha aku seius net, kau sangat pandai memadu padankan dan menyesuaikan apa yang kau pakai, saat ke kampus, di rumah, dan sekarang, kau memakai pakaian dengan sangat pas dengan suasana dan tempatnya* puji ambran.
*Bisa aja kk. ini semua kak dea yang membelikannya. dia juga yang mengajarkan bagaimana cara berpakaian.* anet mengatakan sejujurnya.
*Oh ya,* tanya ambran dengan pandangan tetap fokus kedepan.
*Ya, dia yang sudah membeli dan dia juga yang sudah menata serta menentukan baju baju tas, sepatu itu di pakai pada saat kemana.* jelas anet.
Percakapan pun berlanjut sampai smterdengar sebuah nada notifikasi pesan masuk di ponsel Anet.
Ting..
Anet mengambil benda pipih itu di dalam tas nya.
__ADS_1
*Datang ke hotel permata kamar 108 sekarang juga, kalau tidak kakak mu akan kami celakai, Jangan beritahu polisi ataupun keluargamu* isi pesan tersebut.
Wajah anet terlihat pucat seketika dan rasa cemas mulai ia rasakan.
*Kenapa, siapa yang mengirim pesan* Tanya ambran melihat perubahan pada wajah gadis itu.
*tidak tau, nomornya baru kak, Aku takut* ucap anet.
Ambran menepikan mobilnya dan mengambil ponsel anet dan membaca pesan tersebut. *Sekarang kita kesana, Jangan kwatir, dea pasti baik baik saja* Anet mengangguk dan Ambran melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena juga merasa panik mengingat isi pesan adalah masalah nyawa dea teman sekaligus pacar sahabatnya.
-
-
mereka terlihat baik baik saja dan saling tertawa dan tadik ada yang dalam bahaya satu orang pun. Sampai seseorang masuk dengan tergesa gesa *Dia sudah di lobby bersama seorang lelaki, mungkin pacarnya* ucap pemuda yang di bayar paman untuk menjadi kamera nyata itu.
*Itu Sahabatku, ambran.* ucap robi pada saat semua terdiam mendengarkan info dari pemuda tadi.
*Kalau gitu, dea cepat pura pura menangis, dan ketakutan. klian cepat pakai masker sama kacamatanya. lampu monitor cepat sorot le arah dea saja.* papi memberi arahan untuk melancarkan rencana mereka.
__ADS_1
Dengan langkah tetgesah gesah bahkan bisa di katakan sedikit berlari, anet dan ambran menuju kamar 108 tersebut. saat di depan kamar Ambran menahan anet untuk membuka pintu, dan menarik anet ke belakangnya, *Kamu yang tenang ya, tetap di belakang kakak* perintah ambran, anet mengangguk.
Saat pintu di buka, mereka lansung melihat dea meringkuk di atas kursi rodanya dan di depannya ada seorang pemuda yang memegang ikat pinggang dengan gaya akan mencambuk dea dengan ikat pinggang tersebut, dan seorang lelaki lagi berdiri disampingbdea tertawa terbahak bahak. semntara dea memekik ketakutan dan minta ampun. Anet yang melihat itu lansung berlari dan mendorong lelaki yang akan mencambuk dea ke samping, hingga lelaki itu tersungkur dilantai. dan memeluk dea yang menagis sementara ambran menekuk tangan lelaki satunya lagi ke belakang.
*Kakak, ini aku. aku datang untuk kakak, kakak jangan takut lagi. kita akan keluar dari sini.* ucap anet sambil memeluk dea dan manangis terisak.
*Abet, maafkan kakak, sudah membuat mu cemas, maafkan akak net* Dea berekting namun sebanrnya dia menangis benaran katena merasakan tulusnya kasih sayang anet padanya.
*Sudah tidak apa. yang penting kak dea tidak apa apa, Sekarang kita pergi dari sini, pasti papi mami mengkwatirkan kakak* Anet melepas pelukannya dan berdiri di belakang dea. sementara ambran sudah membuat dua pria tadi pinsan dan tergeletak di lantai.
Saat anet, ambran dan dea berada dibtengah ruangan, sebuah cahaya lilin muncul dari sebelah kanan ruangan dan anet melihat muka bunda di balik cahaya lilin tersebut. serta detik kemudian lampu ruangan menyala, semua yang ada disana menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk anet.
Robi menghampiri merwka bertiga dan mendorong dea agak menjauh, semntar anet maaih diam mematung di tempatnya, kaget, bahagia,sedih, terharu, semua menjadi satu. dia memeluk bunda yang ada di depannya. dengan sigap ambran mengambil alih cake yang di bawa bunda. *Bunda* Bunda membalas pelukan anet dan mengucapkan selamat ulang tahun pada putri kesayangannya itu.
Semua di yang berada disana secara bergantin memberikan ucapan selmat pada anet, dan yang terakhir memberikan ucapan tersebut adalah Ambran.
*Selamat bertambah usia sayang, semoga kau menjadi wanita yang lebih baik dan dewasa lagi, segala doa terbaik untuk mu.* ucap ambran sambil memegang jemari lentik anet dan memeluk gadis cantik tersebut, tentunya di depan semua yang ada disana.
*Ciieeee, udah sayang sayang aja ni,* ucap salah seorang teman kampus anet.
__ADS_1
Anet dan ambran melepas pelukannya dan wajah keduanya memerah karena malu.
Bersambung.....