Buku Keberuntungan

Buku Keberuntungan
Eps. 102 Hari Eksekusi


__ADS_3

Keesokan paginya di altar istana terlihat ramai sekali. Hampir penghuni istana berada di sana untuk melihat eksekusi May.


Flash back malam sebelumnya.


Kaisar Luoying masuk ke kamar setelah mendapatkan laporan dari petugas istana jika pelakunya adalah May.


Lelaki itu duduk menghadap ke meja dan berpikir hukuman apa yang pantas diberikan untuk pelayan itu.


“kriek....” seseorang membuka pintu dan terlihat Permaisuri Shen Shanyu masuk ke kamar namun kaisar tak menyadari kedatangannya.


Permaisuri Shen melihat kaisar duduk merenung dan berpikir mendalam.


“Yang mulia... apa ini sedang anda pikirkan ?”ucap permaisuri. Shen menghampiri kemudian duduk di sebelah kaisar.


Kaisar menoleh dan terkejut dengan kedatangan permaisuri yang entah sejak kapan duduk di sampingnya.


“Permaisuri Shen... petugas istana sudah menemukan siapa yang meracuni ku. Aku sedang memikirkan sebuah hukuman yang pantas untuknya.”jawab Kaisar menoleh menatap permaisuri.


Permaisuri sedikit gugup mendengar penuturan dari sang Kaisar.


“Ya kaisar harus memberikan hukuman yang berat untuk pelayan itu agar dia jera dan sebagai contoh untuk yang lainnya agar tidak berani macam-macam pada anda.”jawab Permaisuri Shen.


“Hukuman apa yang bisa membuat mereka jera ?”ucap kaisar meminta pendapat.


Tiba-tiba permaisuri terpikirkan sebuah ide yang sangat bagus demi kebaikan dirinya sendiri.


“Yang mulia bagaimana jika yang mulia menjatuhkan hukuman mati saja pada pelayan itu ?”balas sang permaisuri sambil tersenyum menyeringai.


“Apa hukuman itu tidak terlalu berat ? Kenapa tidak mengeluarkannya saja dari istana ?”balas Kaisar masih mempunyai hati nurani dan tak tega melakukannya.


“Kaisar pelayan itu pantas mendapatkan hukuman itu. Bukankah itu sama saja dengan percobaan pembunuhan ? Dan harus memberikan hukuman yang setimpal padanya ?”ucap sang permaisuri mencoba meyakinkan sang kaisar.


Karena melihat sang kaisar masih ragu dan mempertimbangkannya Permaisuri Shen terus membujuk kaisar dengan berbagai argumen.


“Yang mulia, anda harus tegas. ini tak hanya menyangkut nyawa anda saja tapi menyangkut reputasi kerajaan secara umum di mata publik.”ucap sang permaisuri kembali membujuk sang Kaisar.


Kembali ke waktu saat ini. Terlihat petugas penjaga sel tahanan membawa tubuh tersangka ke altar.


“Hukum seseorang yang mencoba melakukan pembunuhan pada Kaisar Luoying !”teriak seorang warga yang ada di istana.

__ADS_1


“Yang mulia tolong ampuni nyawa teman kami. Dia pantas diberikan kesempatan kedua !”teriak seorang pelayan yang juga bekerja di bagian dapur seperti May.


Suasana di altar ramai sekali karena kembali terjadi pro-kontra pendapat di sana.


Kaisar Luoying dan Permaisuri Shen duduk dan menunggu petugas istana membawa May ke depan mereka.


May yang terikat oleh rantai tangannya saat ini terbaring di atas sebuah papan dengan kayu yang membelenggu bagian lehernya.


“Permaisuri Shen tolong selamatkan aku...”ucap May menatap permaisuri yang berada tepat di depannya.


Permaisuri Shen sebenarnya mendengar apa yang diucapkan oleh pelayan itu padanya namun dia pura-pura tidak mendengar dan mengenalnya sama sekali.


“Yang mulia segera saja minta petugas untuk mengeksekusi pelayan ini.”ucap Permaisuri Shen Shanyu tak ingin mendengar sepatah kata pun keluar dari mulut wanita itu lagi.


Kaisar Luoying berdiri dan memanggil para petugas bagian eksekusi yang ada di sana.


“Petugas... lakukan sekarang !”ucap kaisar memberi perintah.


“Baik yang mulia !”jawab petugas eksekusi.


Seketika suasana Altar bertambah semakin tegang dan mencekam saat melihat petugas bagian eksekusi berjalan menghampiri pelayan tadi sambil membawa pedang panjang yang tajam.


“Aku titip anak ku Tuhan, tolong jaga dia dengan baik untukku.”batin May pasrah dan bersiap menerima hukuman mati untuknya.


“crash.... !” petugas eksekusi Mengayunkan dengan cepat pedang tajam ke leher nelayan tadi.


“Argh.... !!!”teriak para warga dan penghuni istana yang melihat kepala May menggelinding dan jatuh dari sebuah papan ke lantai.


Bahkan Kaisar Luoying sampai memejamkan matanya saat melihat mata pelayan itu yang masih terbuka.


“tap.... tap... tap...”Kaisar Luoying yang merasa bergetar hatinya dan tak kuasa melihat hal itu segera angkat lagi dari sana dan kembali masuk istana.


Melihat kaisar pergi dari sana, Jenderal Xuan mengambil alih dan menenangkan suasana yang saat ini ramai.


“Kalian bisa melihatnya sendiri bagi siapa saja yang berani melakukan percobaan pembunuhan pada Kaisar dan anggota keluarga akan mengalami nasib yang sama.” ucap Jenderal Xuan memberikan peringatan pada semua yang hadir di sana agar tidak ada yang melakukan hal seperti itu lagi.


“Prosesi eksekusi sudah selesai dan kalian semua sekarang bubar ! Untuk yang masih ada pekerjaan segera selesaikan pekerjaan kalian semua !”ucap Jenderal Xuan memberi perintah. Dan seketika satu persatu orang yang menyaksikan eksekusi hukuman mati pergi dari altar.


Altar sekarang tampak sunyi dan hanya anda petugas eksekusi beserta petugas istana lainnya serta Permaisuri Shen.

__ADS_1


Permaisuri Shen berjalan menghampiri tubuh May tanpa kepala dan tersenyum miris kecil menatapnya.


“Orang yang sudah mati tak akan bisa memberikan kesaksian apapun.”ucap Permaisuri Shen kemudian berbalik dan berjalan masuk mengejar kaisar Luoying.


Jauh dari sebuah tempat terlihat Selir Wan Rou terlihat gemetar melihat pemenggalan kepala barusan.


“Selir Wan Rou, apa anda baik-baik saja ?”ucap Bai Yu saat melihat kondisi selir yang berubah menjadi pucat.


“Aku tidak apa-apa Bai Yu ayo kita kembali sekarang.”balas Selir Wan Rou mengajak pelayannya untuk meninggalkan tempat itu karena merasa ngeri melihat kejadian barusan.


Sore harinya terlihat Permaisuri Shen keluar dari maison bulan sabit. Wanita itu keluar seorang diri dari kediamannya menuju ke beranda.


Di ujung jalan terlihat sebuah kereta kuda yang sudah menunggunya.


“Yang mulia....silahkan masuk.”ucap Xubei yang berada di depan kereta kuda dan membukakan pintu untuk permaisuri.


Wanita itu masuk dan duduk dengan tenang di dalam kereta kuda. di sampingnya terdapat dua peti koin emas, tiga peti perak, dan lima peti perunggu sebagai tambahan untuk mengenang jasa May yang rela mengorbankan dirinya demi permaisuri.


“Kusir jalan sekarang !”ucap permaisuri memberi perintah.


“Hiat... cetar... !”


Xubei hanya melihat saja kereta kuda yang membawa permaisuri meninggalkan maison bulan sabit.


“Kau tahu rumah May ?”ucap sang permaisuri bertanya.


“Ya yang mulia permaisuri. Apa kah kita menuju ke sana ?”jawab sang pengusir dengan sopan sambil menoleh ke belakang.


“Benar percepat laju kudanya agar segera sampai.”ucap Permaisuri Shen.


Sepuluh menit kemudian kereta yang membawa sang permaisuri sudah tak nampak lagi di jalan.


Di dalam maison bulan sabit terlihat Putri Shen Bailian berjalan di sekitar kamar Permaisuri. Dia lalu masuk ke kamar Ibunya dan mendapati kamar itu kosong.


“Kemana ibu pergi ? Xubei juga tidak terlihat di sekitar sini.”gumam Putri Shen Bailian.


Dia pun kemudian keluar dan menuju ke ruang belajarnya untuk melanjutkan belajar menulis kaligrafi.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2