
Setelah kepulangan pasien dan hanya ada kakek Jiu dan Tang Su yang ada di ruangan. Mereka duduk berdua di sudut ruangan.
“Terima kasih kakek sudah membantuku di saat kondisi genteng Jika saja kakek terlambat sedikit saja Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada pasien tadi.”ucap Tang Su yang masih merasakan sisa rasa ketakutan pada dirinya.
“Nona Tang Su beberapa titik yang nona tusuk tadi sudah benar tapi ada titik lain yang belum ditusuk makanya pasien seperti tadi. Tapi tidak apa dengan semakin banyak berlatih nanti akan semakin terampil.” balas kakek Jiu memberikan petuah bijaknya pada Tang Su.
Tang Su mengangguk mendengar penjelasan sang kakek. dirinya benar-benar beruntung karena kakek Jiu tidak memarahi dirinya dan malah memberikan petuah padanya.
Dengan kejadian itu Tang Su semakin rajin belajar pada kakek Jiu. Seharian penuh Tang Su mempelajari ulang semua yang ada di bukunya serta membaca kembali buku titik vital tubuh manusia yang diberikan oleh kakek Jiu padanya.
Malam hari di saat semuanya tidur gadis itu masih terjaga dan terlihat membaca buku pemberian dari kakek Jiu.
Untuk menghafal lebih cepat Tang Su mengambil selembar kertas kosong dan juga sebuah pena. Ia duduk di sudut ruangan sambil menggambar tubuh manusia lengkap dengan titik vitalnya.
“Sudah selesai.”gumam Tang Su saat selesai menggambarnya. Ia memperhatikan dan membacanya berulang kali.
“Aku ingin cepat menghafalkan semua ini.”gumam Tang Su memegang gambar letak titik vital, tak sabar ingin cepat menghafalnya.
Gadis yang tidak sabaran itu kemudian ngambil satu kertas kosong lagi dan mulai menggambar titik vital manusia. Tang Su mengulanginya beberapa kali hingga garis itu merasa lelah dan ketiduran di atas meja.
Pagi hari Tang Su bangun dan baru menyadari jika dirinya ketiduran di meja.
“Oh.... Bahu ku terasa pegal.”ucap Tang Su setelah berdiri dan merasakan bahunya hanya terasa pegal.
Ia pun segera membereskan kertas-kertas berserakan di meja dan menata nya lalu keluar dari kamar dan menuju ke belakang rumah untuk membantu kakek Jiu menata kayu bakar atau hal lainnya.
Sesampainya di belakang rumah dia melihat Lin Fan dan Kakek Jiu tidak menata kayu bakar namun memasak sesuatu.
“Kakek... Lin Fan... kalian masak apa, boleh aku membantu kalian ?”tanya Tang Su mendekat.
Ia mencium bukan aroma masakan namun aroma seperti obat dari kuali yang di aduk oleh Lin Fan.
“Kami sedang membuat ramuan obat nona.”jawab kakek Jiu sambil tersenyum.
__ADS_1
Tang Su melihat kakek Jiu mengolah jamur beraneka warna dan beberapa akar-akaran.
“Lin Fan biar aku bantu memasak.”ucap Tang Su berani menghampiri anak kecil itu.
Lin Fan pun membiarkan Tang Su membantunya. Tang Su mengambil pengaduk kemudian mengaduk bejana yang terbuat dari tanah liat itu dengan pelan.
“Lin Fan tolong bantu kakek sebentar.” Panggil kakek Jiu yang membutuhkan bantuan saat ini.
“Kakak sebentar ya.”ucap Lin Fan pada Tang Su lalu menghampiri kakek untuk membantunya.
“Apa yang bisa ku bantu, kek ?”tanya Lin Fan berdiri di samping kakek.
“Tolong jemur beberapa akar yang basah ini di sana.”ucap Kakek Jiu memberikan satu keranjang penuh berisi agar-agar yang masih baru dicabut pada Lin Fan.
“Baik kakek...”jawab Lin Fan.
Anak itu membawa satu keranjang penuh berisi maka negara dan menuju ke halaman belakang lalu mengeluarkan akar-akaran itu dari keranjang dan mulai menjemurnya.
Tang Su memperhatikan Kakek Jiu dan Lin Fan secara bergantian lalu alih manatap kuali yang sedang diaduknya.
“Aku belum menghafal titik vital tubuh jadi apa aku juga harus mempelajari ilmu meracik obat ?”batin Tang Su menjadi tertarik ingin mempelajari ilmu meracik obat juga.
Selesai menjemur beberapa akar Lin Fan kembali ke Sisi Tang Su.
“Lin Fan.... apa ini sebuah ramuan ?”tanya Tang Su sambil terus mengaduk ramuan.
“Ya benar kak. ini adalah ramuan dasar untuk berbagai penyakit nanti tinggal menambahkan beberapa bahan lainnya sesuai dengan penyakit yang akan di obati.”jawab Lin Fan menjelaskan tentang ramuan yang saat ini sedang diaduk oleh Tang Su.
“Apa kakak ingin mempelajari ini juga ?”tanya Lin Fan menebak.
Tang Su mengangguk dan tersenyum kecil.
“Mungkin lain waktu jika aku sudah Mahir dan hafal semua tidak vital di tubuh manusia.”balas Tang Su.
__ADS_1
Sore hari Tang Su masuk ke kamar setelah membantu kakek Jiu mengobati pasien.
Di kamar dia kembali membuka buku tentang titik vital yang diberikan oleh kakeknya dan membacanya.
selesai membaca gadis itu kembali mengambil kertas kosong dan menggambar titik vital yang dihafal di sana.
“Astaga... masih ada yang salah juga ?!”teriak Tang Su histeris saat melihat apa yang dia gambar dan menyamakannya dengan gambar yang ada di buku sambil mengetok kepalanya.
Tang Su kemudian mencari ide lainnya agar dia bisa cepat menghafal titik vital tubuh manusia. Setelah lama berpikir Akhirnya dia pun menemukan sebuah ide.
Tang Su keluar dari kamar dan masuk ke istal. Di sana dia melihat ke sekitar dan menemukan beberapa tumpuk jerami di depan pintu masuk.
“Ini yang ku cari.”gumam Tang Su lalu mengambil beberapa jerami. Ia pun membawanya keluar dan duduk di halaman belakang rumah.
Tang Su mulai merakit dan membentuk jerami tadi menjadi sebuah boneka setelah mengikat bagian ujungnya membentuk menyerupai manusia.
“Sudah jadi...”gumamnya sambil tersenyum.
Tang Su membawa boneka jerami kembali masuk ke kamar. Di sana dia segera duduk menghadap meja sambil membuka buku titik vital tubuh.
Tang Su mencelupkan pena ke tinta lalu menggambar titik vital manusia di boneka jerami tadi.
“Jika seperti ini mungkin aku akan lebih mudah menghafalnya.”gumam Tang Su memperhatikan hasil kerjanya dan merasa puas dengannya.
Tang Su melihat boneka jerami buatannya sambil membaca tulisan yang ia goreskan di sana.
“Titik chi di bagian perut...”ucap Tang Su menghafal sambil melihat boneka jerami dan mengulangi ucapannya berulang kali.
Hingga malam pun gadis itu masih berkutat dengan boneka jerami buatannya. Gadis itu pun kembali tertidur di depan meja.
“Titik yin... titik yan... tubuh dingin...”gumam Tang Su mengigau dan bermimpi sedang mengobati pasien.
Tang Su selalu membaca berulang kali boneka jerami buatannya hingga dua hari berikutnya dari situ benar-benar bisa menghafalnya di luar kepala.
__ADS_1
“Oh... akhirnya aku bisa menghafal titik vital manusia....!”ucap Tang Su girang sambil melompat kecil di udara.
BERSAMBUNG...