
Tiga jam kemudian saat hari beranjak sore Tang Su yang terbaring di rumah kakek Lin Jiu membuka matanya.
Dia melihat sebuah atap rumah di atasnya dan sebuah kasur di bawah tubuhnya. Dia menoleh ke samping dan melihat ada sebuah pintu yang terbuka menuju ke ruangan lain.
Di samping kirinya ada sebuah jendela. Dia pun membuka sedikit tirai jendela dan melihat ada beberapa pepohonan di sana.
“Dimana sebenarnya aku berada ? Bukannya tadi aku berada di tepi sungai ?”gumam Tang Su setelah teringat dimana dia berada sebelumnya.
Gadis itu menggerakkan lengannya yang terasa lebih enteng dari sebelumnya.
“Siapa yang mengobati luka ku ?”gumam Tang Su saat melihat lukanya tertutup oleh sebuah ramuan berwarna coklat.
“tap... tap...tap...”
Tang Su mendengar suara langkah kaki dari kejauhan.
Seorang anak lelaki kecil masuk ke ruangan dan menghampiri Tang Su yang sedang duduk menatapnya.
“Kakak... kakak sudah sadar ?”ucap Lin Fan tersenyum menyapa Tang Su.
“Kau... kau... apa kau yang telah menyelamatkan diriku ?”ucap Tang Su menatap sosok anak kecil di depannya sambil tersenyum kecil.
“Ya kakak... bagaimana keadaan kakak ?”tanya Lin Fan.
“Terima kasih sudah menolong ku adik kecil, siapa nama mu ?”balas Tang Su balik bertanya.
“Aku Lin Fan... tapi sebenarnya yang mengobati kakak bukanlah aku tapi kakek ku.”balas Lin Fan polos dan jujur.
Lin Fan menoleh ke belakang dan menatap asap yang mulai mengepul di sudut ruangan.
“Kakak tunggu sebentar di sini.”ucap Lin Fan pada Tang Su.
Anak itu berbalik dan keluar ruangan menuju ke tempat asap mengepul.
“Untung saja tidak gosong.”ucap Lin Fan duduk berjongkok di depan tumpukan daun berasap sambil memegang sebatang kayu kecil dan membolak-balik ubi yang dalam tumpukan daun kering.
Lin Fan mengambil beberapa ubi yang sudah matang dan menaruhnya di tempat terpisah.
“Auwh panas...”gumam Lin Fan kecil sambil meniup tangannya setelah menaruh umbi.
__ADS_1
“kriek...”Kakek Lin Jiu masuk ke dalam rumah setelah selesai memberi makan kuda mereka.
Kakek itu mencium aroma lezat saat masuk ke dalam rumah.
“Lin Fan apa yang kau masak ? Baunya harum sekali.”ucap Kakek Jiu yang baru masuk rumah dan segera duduk di samping cucunya.
“Ini ubi untuk kakek.”balas Lin Fan mengambilkan umbi yang sudah matang dan memberikannya pada kakek Jiu.
Tang Su dari kejauhan melihat Lin Fan dan kakeknya sedang memakan ubi bakar. Aroma hangat ubi bakar membuat perutnya menjadi berisik.
“kruuk... kruuk... kruuk...”
Kakek Jiu dan Lin Fan seketika menoleh ke belakang setelah mendengar perut Tang Su yang berbunyi.
Tang Su menjadi malu saat mereka berdua melihatnya.
“Nona itu sudah sadar rupanya.”ucap Kakek Jiu melihat Tang Su yang menundukkan kepala sambil memegangi perutnya.
Setelah menghabiskan satu ubi kakek Jiu berdiri dan masuk ke ruangan tempat Tang Su berada. Lin Fan ikut berdiri dan membawa beberapa ubi yang sudah matang mengikuti kakek Jiu masuk ke rumah.
“Nona.... bagaimana keadaanmu ?”tanya kakek Jiu berdiri di depan Tang Su.
“Kakek aku sudah merasa jauh lebih baik. Terima kasih sudah membantuku.”balas Tang Su dengan tulus.
Lin Fan maju dan memberikan beberapa ubi bakar pada Tang Su.
“Makanlah nona... makanan ala kadarnya dari kami.”ucap sang kakek pada Tang Su saat gadis itu sudah menerima pemberian Lin Fan.
Tang Su yang memang merasa lapar mengangguk dan tanpa sungkan segera memakannya.
“Hmm....enak sekali... rasanya benar-benar seperti ubi milik ayah ibu yang ada di desa.”batin Tang Su saat merasakan ubi hangat itu.
Mereka bertiga pun makan ubi bersama dan kembali mengobrol.
“Nona aku kakek Jiu. Jika boleh tahu siapa nona ini ?”ucap sang kakek bertanya.
Tang Su menghentikan makannya dan diam sejenak untuk berpikir. Gadis itu mempersiapkan jawaban yang akan diucapkannya dengan identitasnya sendiri saat ini karena dia tidak begitu mengetahui identitas asli Putri Wu Shuang dari kerajaan Wanzhou.
“Oh ya... sebelumnya ada pasukan bayangan yang mengejar ku dan berusaha membunuhku. Mungkin saja saat ini mereka mengira diriku sudah mati. Jadi sebaiknya aku menggunakan identitas ku saja untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.”batin Tang Su setelah teringat pada kejadian saat beberapa waktu lalu bertemu dengan pasukan bayangan dan pertimbangan lainnya demi keselamatan dirinya sendiri.
__ADS_1
“Nama ku Tang Su kakek. Aku tinggal di kota Ming.”jawab Tang Su menyebutkan nama kota Yang dia ingat yang terdapat di dalam buku komik yang di bacanya.
Kakek Jiu mengangguk tanda mengerti. Dia pun kembali mengajukan pertanyaan berikutnya.
“Lalu kenapa nona bisa sampai ada di sini dan bisa terluka ?”tanya kakek Jiu yang masih penasaran dengan asal-usul gadis yang diselamatkannya.
“Aku keluar dari kota untuk.... bla..
bla...”jawab Tang Su menjelaskan pada sang kakek dengan mengarang cerita yang masuk akal.
Kakek Jiu lagi-lagi mengangguk tanda mengerti dan mempercayai semua yang diucapkan oleh Tang Su.
Hari berganti malam. Kakek Jiu sebelumnya meminta Tang Su untuk tinggal dan menginap di rumah mereka sampai lukanya benar-benar pulih.
Sedangkan Tang Su merasa senang sekali mendapat tawaran itu karena dia tak punya tempat tujuan.
Malam hari kakek Jiu memasak sup ginseng yang dipercaya baik untuk kesehatan. Apalagi jika ginseng yang dimasak berusia puluhan tahun maka khasiat yang terkandung di dalamnya akan semakin besar.
“Nona Tang Su silakan makan sup ini.”ucap kakek Jiu membawa sub ginseng untuk mereka bertiga.
“Terima kasih kakek Jiu.”balas Tang Su.
Mereka bertiga kemudian memakan sup ginseng bersama-sama.
Tang Su terlihat lahap memakan sop ginseng yang baru pertama kali dimakannya.
“Ternyata seperti ini rasanya sup ginseng.”batin Tang Su yang juga baru pertama kali melihat ginseng secara langsung karena di zamannya keberadaan ginseng sudah sangatlah langka.
Selesai makan Tang Su membereskan semua makanan dan membawanya ke dapur. Dia pun mencucinya.
“Nona kau tidak perlu mencucinya. Biar Lin Fan saja yang melakukannya.”ucap Kakek Jiu menghampiri Tang Su yang sedang mencuci piring.
“Tidak apa kakek... aku bisa mengerjakannya ini hanya masalah kecil bagiku.”balas Tang Su sambil tersenyum menatap kakek Jiu. Dia tetap mencuci piring kotor itu meski tangannya terasa sakit saat dipakai untuk mencuci. Semua itu dia lakukan sebagai rasa terima kasih karena sudah menolong dirinya.
Selesai mencuci piring Tang Su kembali masuk ke dalam ke kamar tempat dia berada sebelumnya.
Di saat kakek Jiu dan Lin Fan sudah tidur dia masih terjaga dan duduk menatap keluar jendela.
BERSAMBUNG....
__ADS_1