Buku Keberuntungan

Buku Keberuntungan
Eps. 41 Mencoba Panci Alkimia


__ADS_3

Di luar istana Jendral Xuan bertemu dengan pemimpin pasukan bayangan, Wen Hang. mereka bertemu di bawah pohon dekat dengan istal.


“Kenapa kau mengajakku ke sini? Apa yang ingin kau bicarakan denganku ?”tanya Wen Hang yang melihat raut muka Jenderal Xuan terlihat serius.


“Ini memang masalah serius. Dan jangan sampai ada yang mendengarnya.”jawab Jenderal Xuan sambil melihat ke sekitar dan ternyata tempat itu masih sepi.


“Jangan berbelit-belit katakan saja !”ucap Wen Han.


“Ini mengenai kematian Putri Wu Shuang. Dalam penyelidikan ku aku menemukan bukti pelakunya.”ucap Jenderal Xuan lalu mengeluarkan cadar hitam yang dia bawa dan menyerahkannya pada pemimpin pasukan bayangan.


Wen Han menerima cadar hitam itu.


“Bagaimana bisa dia menemukan bukti ini ? Dasar ceroboh sekali mereka !”batin Wen Han mengumpat kinerja anak buahnya yang tidak becus.


“Jenderal Xuan aku tidak tahu maksudmu.”balas Wen Han tidak mau mengaku.


“Apa bukti ini masih kurang jelas ?”tanya Jenderal Xuan lagi dan terus mendesak.


Wen Han diam saja dan mengucapkan sepatah kata apapun untuk menanggapinya.


“Kurasa kita adalah teman baik. Tapi kenapa kau tak mau bercerita padaku ?”ucap Jenderal Xuan lagi.


Wen Hang teringat jika dulunya mereka berdua adalah teman satu angkatan saat menjalani pendidikan wajib militer dua puluh tahun yang lalu dan hubungan mereka cukup baik.


“Jenderal Xuan sampai kapanpun kita akan bersaudara. Tapi untuk masalah kali ini aku tak bisa cerita denganmu dan aku tak ingin kau terlibat.”jawab Wen Hang.


“Jadi memang pasukan bayangan lah yang membunuh sang putri ? Lalu siapa yang menyuruh mu melakukan itu ?”tanya Jenderal Xuan lagi berusaha menggali lebih dalam.


Wen Han tak berani mengambil resiko jika dia menceritakan siapa yang menyuruhnya, pastilah tak hanya dirinya saja yang akan menjadi buruan tapi seluruh keluarganya akan dihabisi oleh kaisar.


“Jenderal Xuan... maaf aku tidak bisa memberitahu mu.”jawab Wen Han tetap tak mau memberitahukan dan terlalu meninggalkan Jenderal Xuan.


“Jadi siapa yang ada di balik semua ini jika bukan kaisar ?”gumam sang jenderal berpikir keras namun dia tetap tidak mempunyai gambaran siapa dalangnya.


Kaisar Luoying duduk di samping Selir Wan Rou yang kembali tak sadarkan diri setelah mendengar kabar kematian Putri Wu Shuang.


“Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku berharap adanya suatu keajaiban dan putri ku masih hidup agar istriku tidak bersedih seperti ini.” ucap Kaisar Luoying sambil menggenggam tangan Selir Wan Rou.

__ADS_1


Dalam keadaan tidak sadarkan diri, Selir Wan Rou pun masih menitikan air matanya yang membuat sang kaisar semakin sedih melihatnya.


Di lain tempat Tang Su dan Lin Fan akhirnya tiba di rumah. Meski hanya keluar untuk membeli alat pengobatan namun sudah membuat pikiran nya kembali fresh.


“Kakak bagaimana apa kaki kakak saat ini pegal ?”tanya Lin Fan saat mereka masuk ke halaman rumah.


“Sama sekali tidak. Lain kali kalau pergi ke pusat herba lagi ajak aku, Lin Fan.”jawab Tang Su yang sudah merasa hilang Rasa pegalnya secara tiba-tiba.


Lin Fan dan Tang Su mencari Kakek Jiu di dalam rumah, namun mereka tak melihatnya di manapun.


“Dimana kakek ?”gumam Lin Fan menoleh ke kanan dan menoleh ke kiri.


“Mungkin di belakang.”jawab Tang Su.


Mereka berdua kemudian menuju ke belakang rumah dan melihat kakek Jiu sedang membalik beberapa akar obat yang masih basah.


“Kakek kami kembali. Dan Ini pesanan kakek.”ucap Lin Fan menyerahkan panci alkimia pada kakeknya.


“Terima kasih sudah membantu kakek.”jawab kakek Jiu menerima panci alkimia.


Kakek Jiu mencuci barang-barang itu terlebih dulu baru menggunakannya. Ia memasukkan beberapa akar yang sudah kering ke sebuah panci alkimia yang berukuran kecil dan meletakkannya di atas tungku.


“Kakek pil apa yang kakek buat ?” tanya Tang Su penasaran.


“Ini namanya dan pil.”jawab kakek Jiu kemudian menjelaskan jika itu merupakan sebuah pil dasar untuk semua jenis penyakit.


Dan pil sendiri dibagi menjadi berbagai tingkatan mulai dari level satu hingga level sepuluh. Dan pil yang paling bagus kualitasnya adalah dan pil level sepuluh namun di butuhkan kemahiran yang sangat tinggi untuk menciptakannya dan bukan sembarang alchemist yang bisa. membuatnya.


Setelah satu jam lamanya kakek Jiu mengeluarkan beberapa ramuan dan pil yang sudah jadi.


“Ini dia dan pil level lima yang sudah jadi.”jawab kakek Jiu menunjukkan pil-pil berwarna coklat tua dari dalam panci alkimia.


Tercium aroma semerbak dari dan pil yang sudah jadi.


“Aromanya segar kek.”ucap Tang Su mengambil satu dan melihatnya.


“Ya... semakin tinggi tingkatan dan pil maka akan semakin ringan aromanya.”jawab kakek Jiu menjelaskan.

__ADS_1


Tang Su semakin tertarik setelah mendengar penjelasan sang kakek yang membuatnya ingin mempelajarinya.


“Kakek lain waktu aku ingin kakek mengajari ku membuat dan pil.”ucap Tang Su.


“Ya tentu saja boleh nona.”jawab kakek Jiu singkat.


Lin Fan ikut membantu memasukkan ke dalam guci beberapa dan pil yang sudah jadi.


Kakek mencoba membuat ramuan lain dan memasukkan bahan-bahannya ke dalam panci alkimia.


“Kakek biar aku saja yang memasukkan semua bahannya.”ucap Tang Su ingin mencoba membuat ramuan.


Tang Su mengambil akar dan beberapa bahan obat lainnya dari kakek Jiu dan memasukkannya dalam panci alkimia.


“boom...”lima menit setelah Tang Su memasukkan semua bahan terdengar suara letupan kecil.


“Kenapa terdengar suara ledakan kecil ?”batin Tang Su.


Ia pun membuka panci alkimia dan asap mengepul dari dalamnya.


Kakek Jiu menghampiri Tang Su dan tersenyum saat melihat Tang Su berbalik dengan wajah yang hitam terkena asap dari panci alkimia.


“Nona... kau salah teknik sehingga membuat ramuan ini hangus.”ucap Kakek Jiu.


Tang Su merasa bersalah karena bukannya membantu malah merusak.


“Kakek maafkan aku gagal membuat dan pil dan malah merusak nya.”ucap Tang Su dengan menyesal.


“Tidak apa nona... semua itu perlu proses. Dengan melakukan kesalahan maka kau akan berpengalaman.”jawab sang kakek membesarkan hati Tang Su.


Lin Fan mengambil sebuah kain kecil bersih dan memberikan nya pada Tang Su.


“Kakak... coba lihat wajah kakak dan bersihkan dengan ini. Aku benar-benar tidak mengenali kakak saat ini.”ucap Lin Fan sambil tertawa kecil.


“Ah...ada apa dengan wajah ku ?”jawab Tang Su lalu menyentuh wajahnya dan ujung tangannya menjadi hitam.


Dia pun langsung berdiri dan berlari menuju ke kamar mandi karena merasa malu dengan tampilan wajahnya yang gosong seperti angus.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2