
Tang Su berjalan keluar dari toko bersama kakek Jiu dengan memegang satu kotak berisi satu set jarum perak dengan senang.
Mereka berjalan melewati pertokoan lainnya yang membuat Tang Su berpikir.
“Benar juga aku sudah menumpang selama beberapa hari di rumah kakek dan aku tidak memberikan apapun di sana.”batin Tang Su yang merasa tak enak hati sudah menumpang makan dan minum secara gratis di rumah kakek Jiu.
Tang Su berhenti di sebuah toko perhiasan dan masuk ke sana.
“Kakek... tolong tunggu sebentar di sini.”ucap Tang Su meminta kakek Jiu untuk menunggu di luar sebelum dirinya masuk ke toko.
Kakek Jiu tidak tahu apa yang akan dilakukan Tang Su tapi dia menunggu di luar.
Di dalam toko terlihat Tang Su sedang bicara dengan pemilik toko. Gadis itu mengambil beberapa perhiasan yang ia pakai lagi.
“Tuan... aku mau menjual perhiasan ini.”ucap Tang Su kemudian menyerahkan perhiasan nya.
Penjual menaksir harganya lalu memberikan beberapa koin pada Tang Su.
“Banyak sekali...”batin Tang Su yang terkejut saat menerima yuebao yang banyak dan cukup untuk keperluan hidup sampai beberapa bulan ke depan.
Tang Su memasukkan uang emas di dalam kantung merah dan keluar dari toko menghampiri kakek Jiu.
“Kakek ayo kita pergi.”ucapnya mengajak kakek untuk berjalan.
Mereka berdua kembali berjalan melewati deretan toko. Kakek Jiu sekali melihat ada beberapa penjual tak ingin membeli apapun.
“Kakek ingin membeli apa?” tanya Tang Su saat mereka ada di tengah jalan.
“Tidak nona... aku tidak ingin membeli apapun di sini.”jawab Kakek Jiu.
Tang Su menjadi lapar mata melihat banyaknya penjual yang ada di sana. Apalagi barang yang mereka jual adalah barang-barang kuno di zaman dahulu.
“Mungkin jika aku bisa memiliki beberapa barang di sini dan membawanya ke dunia nyata benda ini akan menjadi barang yang sangat langka.”gumam Tang Su.
Ia pun berhenti sebentar di sebuah toko yang menjual aksesoris. Dia memilih-milih gelang giok untuk ibu dan adiknya. Tang Su membayar gelang giok yang dia beli lalu kembali berjalan.
“Apa sebaiknya aku beli bahan makanan saja untuk kakek ?”batin Tang Su saat melihat toko bahan makanan yang ada di samping kirinya.
__ADS_1
Ia pun masuk ke toko itu dan membeli beberapa bahan makanan.
“Kakek ini untuk persediaan makan kakek.”ucap Tang Su berkeringat membawa beberapa barang yang sudah dibelinya setelah keluar dari toko.
“Nona tak perlu repot-repot begitu.”jawab kakek Tang Su kemudian membantu membawa beberapa barang belanjaan Tang Su.
Dalam hati kakek Jiu merasa senang berterima kasih pada Tang Su.
Di tengah jalan Tang Su ingat pada Lin Fan lalu dia terpikirkan apa yang akan membuat anak kecil itu senang.
“Tuan... tolong manisannya tiga.”ucap Tang Su saat melihat penjual manisan dan langsung membelinya untuk ia berikan pada Lin Fan.
Tang Su kembali berjalan setelah membayarnya. Karena hari sudah semakin siang ia pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah kakek Jiu.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di rumah kakek Jiu. Lin Fan yang melihat mereka berdua datang dari kejauhan segera keluar dari rumah.
“Apa yang kakek beli, banyak sekali ?”tanya Lin Fan pada sang kakek sambil membawa barang-barang yang di bawa oleh kakek masuk ke rumah.
“Bukan kakek yang membelinya tapi nona Tang Su.”jawab kakek Jiu sambil tersenyum.
Tang Su menghampiri Lin Fan dan menyerahkan manisan yang dibelinya.
“Manisan... enak sekali. Terima kasih kakak.”jawab Lin Fan tersenyum lebar saat membukanya dengan mata bulat yang berkilat dan langsung memakannya.
Tak terasa satu minggu sudah Tang Su berada di rumah kakek Jiu. selama itu pula gadis itu benar-benar serius belajar pada kakeknya Lin Fan meskipun dia Belum berani mengobati pasien sendiri
Tang Su belum hafal titik vital tubuh manusia dan hal itu sangat fatal sekali jika tidak bisa di hafal dan di ingat dengan baik.
Gadis itu sedang duduk dan mengingat vital di seluruh tubuh.
“Nona apa yang sedang kau pikirkan ?”tanya kakek Jiu masuk ke ruangan dan melihat Tang Su tampak berpikir.
Tang Su yang terbiasa menopang dagu ketika berpikir segera menariknya saat melihat kakek Jiu datang.
“Oh kakek Jiu... aku hanya memikirkan titik vital di tubuh saja kek, karena aku belum hafal.”balas Tang Su menjelaskan apa masalahnya pada sang kakek.
“Hmm... jadi itu masalahnya.”balas kakek Jiu mengangguk.
Lelaki itu kemudian pergi meninggalkan Tang Su dan masuk ke kamarnya. Beberapa saat kemudian dia keluar dengan membawa sebuah buku.
__ADS_1
“Nona mungkin ini akan membantumu.”balas kakek Jiu menyerahkan buku yang dipegangnya pada Tang Su.
Tang Su menerima buku pemberian dari kakek Jiu. Dia membukanya dan tersenyum lebar dengan mata yang bulat.
“Kakek Jiu... terima kasih.”ucap Tang Su pada sang kakek setelah mendapatkan buku tentang letak hotel di seluruh tubuh manusia.
“Jika ada kesulitan atau hal lainnya bisa tanya pada kakek.”ucap Kakek Jiu lalu pergi berlalu dan kembali ke kamarnya.
Sementara Tang Su terus membaca buku itu hingga malam hingga membuatnya tertidur.
Keesokan harinya Tang Su menemani kakek saat ada seorang pasien. Ia Perhatikan dengan seksama sambil sesekali membuka buku yang diberikan oleh kakek semalam.
“Oh jadi di situ titik vitalnya.”batin Tang Su saat melihat Kakek sedang mengobati seorang wanita hamil yang merasakan perutnya sakit sekali.
Siang hari kakek Jiu pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar bersama Lin Fan. Saat itu ada seorang warga yang datang mencari kakek.
“tok... tok... tok...”
Tang Su segera menuju ke pintu saat mendengar seseorang mengetuk pintu rumah.
“kriek...”terlihat seorang ibu datang dengan wajah panik membawa putrinya yang berbusa mulutnya.
“Tolong panggilan kakek Jiu sepertinya putriku keracunan makanan.”ucap sang ibu panik dengan menggendong putrinya.
“Kakek Jiu sedang mencari kayu bakar mungkin sebentar lagi akan kembali. Silahkan tunggu dulu di dalam.”jawab Tang Su menjelaskan dan mempersilahkan tamu itu masuk.
Sang ibu duduk menunggu sementara Tang Su membawa gadis kecil tadi dan membaringkannya di tempat tidur.
Lima belas menit berlalu namun kakek Jiu belum juga kembali. Sedangkan kondisi gadis kecil tadi terlihat semakin parah dan memerlukan pertolongan cepat.
“Bagaimana ini... apakah Mei Ling bisa di selamatkan ?Tolong segera tangani putriku.”ucap sang ibu menjadi panik saat melihat putri kecilnya saat ini kejang.
Tang Su melihat kondisi pasien yang saat ini berubah warna menjadi ungu. Dia pun menjadi panik karena pasien harus segera ditolong secepat nya sebelum terlambat.
“Baiklah aku akan mencoba menolong gadis kecil ini.”ucap Tang Su yang sebenarnya takut melakukan pertolongan pertama karena dia belum menguasai namun harus cepat bertindak.
Tang Su meninggalkan pasien dan masuk ke dalam ruangan untuk mengambil jarum peraknya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1