
Lin Fan seketika tersentak kaget dengan apa yang barusan diucapkan oleh Tang Su. Ia pun menghentikan makannya sejenak.
“Kakak Tang Su mau pergi dari sini ? Lalu kakak mau ke mana ?”Tanya Lin Fan yang masih ingin bersama dengan gadis itu seperti hari-hari biasanya.
“Kakak sudah lama berada di sini dan sekarang saatnya kakak kembali pulang ke rumah. Orang tua kakak pasti mengkhawatirkan kakak.”jawab Tang Su sambil tersenyum lalu mengusap lembut rambut Lin Fan yang duduk di sebelahnya.
“Tapi aku ingin kakak pergi dari sini. Kakak sudah ku anggap seperti kakakku sendiri.”balas Lin Fan menanggapi.
Tang Su merasa senang anak kecil itu menganggap dirinya sebagai kakaknya sendiri.
“Kakak juga sudah menganggap mu sebagai adik ku sendiri. Jangan khawatir suatu waktu kakak akan kembali ke sini untuk bermain dengan mu.”jawab Tang Su agar anak itu tidak bersedih atas kepergiannya.
Mereka bertiga melanjutkan makan seperti biasa. Selesai makan Tang Su masuk ke kamar dan menyiapkan semua barang yang akan dibawanya.
“Ah.. berat rasanya meninggalkan tempat ini. Bagiku rumah ini seperti rumahku sendiri.”gumam Tang Su sambil duduk dan menatap ke sekitar setelah selesai mengemasi semua barangnya.
Siang harinya Tang Su membawa semua barangnya dan mencari Kakek Jiu beserta Lin Fan. Ia menemukan dua orang itu sedang duduk di beranda rumah.
“Kakek Jiu... Lin Fan aku mau pergi sekarang juga.”ucap Tang Su menghampiri dua orang tadi dan berpamitan pada mereka.
Seketika Kakek Jiu dan Lin Fan yang sedang duduk segera berdiri. Lin Fan memeluk kaki Tang Su.
“Kakak jangan lupakan aku. Sering-seringlah main ke sini. sini.”ucap Lin Fan seolah tak ingin melepaskan pelukannya.
Tang Su berjongkok dan mengusap kepala Lin Fan.
“Pasti kakak tidak akan melupakan dirimu. Aku tidak janji tapi suatu saat nanti aku akan main ke sini lagi.”balas Tang Su sambil tersenyum.
Gadis itu kemudian menatap kakek Jiu dan memberikan salam hormat untuknya.
“Kakek Terima kasih banyak sudah merawat dan membiarkan ku tinggal di sini. Aku sudah menganggap paket seperti keluargaku sendiri. Maaf jika aku selama ini telah merepotkan kakek.”ucap Tang Su dengan tulus dan mata yang berkaca-kaca karena akan berpisah dengannya.
“Ya nona hati-hati di jalan. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu.”jawab Kakek Jiu membalas hormat Tang Su karena tahu identitas aslinya.
__ADS_1
Beberapa saat setelahnya kakek Jiu dan Lin Fan mengantar Tang Su ke depan dan melepas kepergiannya.
“Kakak... hati-hati di jalan !”teriak Lin Fan dari kejauhan saat Tang Su sudah berada jauh dari rumahnya.
Lin Fan dan kakek Jiu melambaikan tangan.
Tang Su membalas lambaian tangan mereka sambil tersenyum.
“Sampai jumpa Lin Fan dan Kakek Jiu.”balas Tang Su dari kejauhan kemudian berbalik kembali dan melanjutkan perjalanannya.
Dua jam kemudian Tang Su melewati pusat herba Ling Yu namun dia tidak berhenti di sana dan terus melangkahkan kakinya.
Satu jam berikutnya dia sudah keluar dari pusat herba Lin Yu dan berada di depan pintu gerbang masuk kota Liang.
“Aku sampai di kota Liang rupanya. Bukankah ini kota di mana istana Wanzhou berada ?” batin Tang Su membaca nama kota itu di pintu gerbang masuk setelah mengingat kembali kota itu di novel yang dia baca.
Gadis itu lalu melangkahkan kakinya masuk melewati pintu gerbang masuk kota Liang. Setelah berjalan tiga jam lamanya dia merasa lelah.
“Sebaiknya aku berhenti dulu.”gumam Tang Su lalu melihat kah sekitar untuk mencari kedai atau sejenisnya.
“tap... tap... tap...”Tang Su kembali melangkahkan kakinya yang mulai terasa pegal dan berhenti di depan deretan toko.
Ia menoleh ke samping kanan dan ke samping kiri melihat pertokoan apa saja yang ada di sana.
Berbagai macam barang dijual di sana mulai dari pakaian, accessories, perhiasan, buku dan lain sebagainya. Tang Su melihat ada sebuah toko yang menjual cadar.
“Sepertinya aku membutuhkan itu untuk saat ini untuk menyamarkan identitas ku.”batin Tang Su berhenti di depan toko yang menjual cadar.
Ia pun lalu masuk ke toko itu dan melihat-lihat berbagai macam cadar yang dijual di sana.
“Tolong cadar ini sepuluh biji.”ucap Tang Su menunjuk sebuah cadar. Ia memilih berbagai warna yang dia sesuaikan dengan baju yang dia punya.
“Ini nona.”ucap penjual toko mengambilkan cadar yang ditunjuk oleh Tang Su dan memberikan padanya.
__ADS_1
Gadis itu segera membayar cadar yang sudah dibelinya. Ia keluar dari toko dan segera memakai salah satu cadar nya.
Tang Su berjalan kembali lalu melihat ke sisi jalan untuk mencari sebuah kedai.
“Disana saja aku beristirahat sebentar.”ucap Tang Su melihat salah satu kedai yang ramai lalu berjalan menuju ke sana.
Tang Su masuk ke kedai dan memesan minuman untuk dirinya. Ia pun duduk di kursi yang kosong menunggu pesanannya datang.
Suasana di sana ramai sekali. Banyak pengunjung yang sedang menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan. Beberapa pengunjung ada yang bermain mahjong di sana dan ludo. Beberapa pengunjung lain mengobrol sambil menikmati teh mereka.
“Mungkin saja aku bisa mendapatkan sebuah informasi di sini.”batin Tang Su menatap ke sekitar dan mendengarkan keriuhan di sana.
Tang Su memasang telinga baik-baik dan mendengarkan percakapan para pengunjung kedai.
“Kau ikut acara pemakaman Putri Wu Shuang kapan lalu tidak ?”ucap salah satu pengunjung bertanya pada temannya.
“Ya... aku mengikutinya. sungguh disayangkan sekali putri semuda itu sudah meninggal tanpa diketahui sebabnya.”jawab pengunjung kedai.
“Apa... jadi acara pemakaman untuk ku sudah dilakukan ?”batin Tang Su terkejut setelah mendengar kabar yang menyatakan dirinya sudah mati secara resmi.
“Mereka bilang aku mati tanpa sebab ? Jadi pihak istana kerajaan menutupi alasan kematian ku dari publik ?”batin Tang Su lagi.
Gadis itu pun semakin yakin tentang perihal kematiannya bukanlah sesuatu yang simple. Setelah mendengar kabar itu gadis itu merasa enggan untuk kembali ke istana Wanzhou.
“Aku tidak ingin kembali ke istana dulu saat ini. Tapi tidak mungkin bagiku untuk kembali ke rumah kakek Jiu. Lalu di mana aku harus tinggal ?”batin Tang Su berpikir dan melamun.
Beberapa saat kemudian pelayan datang membawakan minuman pesanannya.
“Ini nona pesanan nona.”ucap pelayan kedai menaruh segelas teh oolong ke meja.
“Terima kasih.”balas Tang Su.
__ADS_1
Gadis itu melupakan sejenak kegundahannya dan menikmati teh oolong untuk membasuh tenggorokannya yang kering.
BERSAMBUNG....