
Siang hari setelah jam kuliah berakhir Tang Su keluar dari kelas. Di ujung jalan ada Siyue yang menunggunya.
“Hai Tang Su... !”panggil Siyue sambil melambaikan tangannya.
Tang Su segera berjalan dan menghampiri ke arah tangan Siyue yang melambai.
“Ayo kita pulang bersama.”ucap Tang Su pada Siyue setelah berada di sampingnya.
Dua gadis itu kemudian berjalan bersama keluar kampus. Di tengah jalan Siyue baru melihat wajah Tang Su yang pucat.
“Tang Su apa kau baik-baik saja ?”tanya Siyue mengkhawatirkan kondisi temannya.
“Aku tidak apa-apa hanya sedikit merasa pusing saja.”jawab Tang Su menatap temannya sambil tersenyum kecil menahan rasa pusing yang terus menderanya.
Saat mereka berdua melewati tempat kost Siyue, mereka berhenti sebentar di depan pintu sebelum masuk.
“Tang Su mampirlah ke tempatku sebentar.”ucap Siyue mengajak temannya singgah sebentar.
Tang Su sebenarnya ingin langsung pulang dan segera merebahkan dirinya di tempat tidur untuk meredakan rasa pusingnya, namun Siyue terus mendesaknya entah kenapa dan dia pun tak bisa menolaknya.
“Duduklah sebentar.”ucap Siyue setelah mereka berdua masuk ke kamar Siyue.
Siyue menuju ke dapur dan membuat teh yang sangat manis untuk Tang Su.
“Tang Su minumlah ini. Saat aku merasa pusing biasanya akan rendah setelah meminum teh manis.”ucapnya menaruh teh ke meja dan menjelaskan pada temannya jika tubuh kekurangan gula maka bisa menimbulkan rasa pusing.
“Terima kasih Siyue.”balas Tang Su sambil tersenyum kecil pada temannya yang perhatian dengan dirinya.
Tang Su meminum teh buatan Siyue dan menghabiskannya dalam sekali teguk.
“Bagaimana apa rasa pusing mu sudah reda ?”tanya Siyue setelah beberapa menit.
Tang Su menggeleng karena rasa pusing itu hanya berkurang sedikit sekali.
“Jangan khawatir aku punya sesuatu yang manis lainnya.”ucap Siyue lalu berdiri dan pergi ke kulkas.
Dia mengeluarkan beberapa camilan manis dan juga permen dari kulkas.
“Ayo kita makan bersama.”ucap Siyue duduk di samping Tang Su dan menaruh apa yang tadi dia ambil ke meja.
Tang Su menatap ngeri melihat makanan Siyue yang serba manis.
__ADS_1
“Apa tidak bahaya banyak memakan manis seperti ini ? Jika terlalu banyak asupan gula bisa membuat tubuh ku semakin berisi.”jawab Tang Su takut berat badannya akan bertambah lagi jika memakannya.
“Mungkin memang berakibat buruk jika terus-menerus mengkonsumsinya setiap hari namun jika hanya beberapa kali tak akan ada pengaruhnya.”balas Siyue menyangkal pernyataan temannya.
Bahkan untuk meyakinkannya Siyue segera memakan beberapa camilan yang ada di depannya dengan lahap.
“Ayo Tang Su makan saja sebelum ku habiskan.”ucap Siyue lagi terus mendesak Tang Su.
Melihat Siyue yang memakan makanan manis dengan lahap akhirnya ia pun tergoda dan mulai mengambil beberapa.
“Siyue manis sekali... gigi ku terasa ngilu. Apa aku boleh minta air putih ?”ucap Tang Su yang tak terbiasa memakan makanan manis.
“Ya ini...”balas Siyue mengambil air putih yang sudah dia siapkan di meja dan memberikannya pada Tang Su.
Tang Su segera meminum air putih dan berkumur untuk menghilangkan rasa ngilu di giginya.
Siyue mengambil satu lolipop besar di meja dan mulai memakannya. Gadis itu memakannya dengan cepat, terlihat dia mengunyah permen besar itu dan langsung habis dalam hitungan menit.
“Siyue apa gigimu tidak ngilu ?”tanya Tang Su melihat temannya mengambil lagi satu lolipop besar dan memakannya.
Siyue menghabiskan lolipop kedua dan mulai mengambil satu lagi lolipop. Baru separuh dia mengunyah lolipop yang ketiga tiba-tiba dia berhenti.
“Hiiss.... gigi ku rasanya ngilu...”ucap Siyue sambil memegang pipi kirinya.
Tang Su senyum kecil menatap temannya.
“Apa ku bilang jangan banyak-banyak makan yang manis dan sekarang kau merasakan ngilu juga.”balas Tang Su sambil terkekeh.
“Aku tidak bercanda Tang Su dan sekarang gigi ku yang berlubang terasa nyeri sekali.”jawab Siyue mulai berkeringat dingin.
Melihat temannya yang kesakitan Tang Su berdiri dan mencari termos. Ia mengambil termos berwarna coklat yang ada di meja dan menuangkannya ke gelas dengan menambahkan sedikit air dingin, tak lupa dia menambahkan sedikit garam.
“Cobalah berkumur dengan ini. Di rumah ibu ku biasa melakukan ini jika giginya sakit.”ucap Tang Su memberikan air garam hangat pada Siyue.
Tanpa banyak bertanya Siyue yang masih merasakan sakit segera menerimanya dan berkumur.
“Bagaimana apa sudah terasa lebih baik ?”tanya Tang Su.
Siyue mengangguk kemudian pergi ke wastafel dan mencuci mulutnya dengan air bersih.
__ADS_1
Baru beberapa menit duduk, ia pun kembali merasakan giginya sakit lagi.
“Aduh... rasanya masih nyeri.”ucap Siyue sambil memegang pipi kirinya dan wajahnya mulai memerah karena menahan rasa sakit.
“Tenang aku akan membantumu.”balas Tang Su kembali memikirkan cara lain untuk mengatasi masalah Siyue.
Setelah beberapa saat berpikir dia pun kembali teringat pada sosok kakek Jiu dengan jarum peraknya.
“Benar juga... hal itu pasti bisa mengatasi masalah Siyue kali ini.”batin Tang Su.
Yang dia perlukan saat ini adalah sebuah jarum perak atau bisa sesuatu yang hampir menyerupai nya.
“Siyue apa kau punya jarum ?”ucap Tang Su tiba-tiba.
“Jarum.... buat apa ?” jawabnya heran dan apa yang bisa Tang Su lakukan dengan sebuah jarum.
“Nanti kau akan tahu sendiri. Jika punya jarum pinjamkan sebentar padaku.”balas Tang Su sengaja tak mau menjelaskan lebih awal karena takut temannya akan menolak.
Siyue berdiri dan berjalan menuju ke lagi tempat dia menyimpan jarum. Ia mengambilnya dan kembali duduk di sebelah Tang Su lalu memberikannya.
“Coba sekarang berbaring lah.”ucap Tang Su menatap tempat tidur yang ada di lantai.
Siyue menurut saja dan segera berbaring di tempat tidur. Tang Su diam sejenak dan mengingat titik vital mana yang biasa kakek Jiu tusuk saat ada pasien yang mengalami sakit gigi.
Tang Su berhasil mengingat titik-titik vital lalu menatap wajah Siyue untuk mencari titik vitalnya.
“Dengarkan aku... jangan bicara ataupun bergerak selama aku mengobati mu.”ucap Tang Su memberikan penjelasan sambil memegang jarum.
Siyue mengangguk dan menurut saja pada apa kata temannya itu.
Tang Su mulai menusuk titik vital yang ada di pipi kiri Siyue. Sedangkan Siyue yang takut memejamkan matanya selama proses pengobatan.
Tang Su mencabut jarum kemudian menancapkan nya pada titik vital lain yang ada di pipi kiri yang berhubungan dengan saraf di gigi.
Setelah tiga menit dia kembali menjabat jarum itu dan menancapkan ke satu titik vital terakhir di area pipi.
Tang Su mencabut jarum setelah tiga menit kemudian. Secara ajaib Siyue merasakan sakit giginya sudah hilang dalam sekejap dan membuatnya bisa tersenyum.
Siyue berterima kasih pada Tang Su dan mengagumi kemampuan gadis itu dalam hati.
BERSAMBUNG...
__ADS_1