Buku Keberuntungan

Buku Keberuntungan
Eps. 22 Seorang Tabib


__ADS_3

Tang Su membuka sedikit tirai jendela dan menatap ke arah luar jendela. Dalam kondisi gelap di luar dia sama sekali tidak takut melihatnya.


Sebuah sinar menyala redup di tengah pekatnya malam yang menarik perhatian Tang Su.


“Apa itu... ?”batin Tang Su titik-titik sinar yang menyala redup seolah terbang berkelompok.


Tang Su penasaran dan berdiri agar bisa melihatnya lebih jelas.


“Ternyata itu adalah kunang-kunang.”batin Tang Su saat melihat sinar yang berpendar itu mendekat.


“Suasana di sini benar-benar nyaman seperti rumahku sendiri di desa. Malah tempat di sini lebih perawan lagi.”batin Tang Su yang merasakan seolah berada di rumah sendiri.


Satu jam berlalu. Tang Su yang duduk menikmati sinar di tubuh kunang-kunang mulai menguap dan sudut matanya berair.


“Hoahem...”Tang Su merentangkan kedua tangannya lebar lalu merebahkan diri di tempat tidur dan menarik selimut menutupi tubuhnya.


“cuit... cuit... cuit...”


Suara kicau burung di pagi hari membangunkan Tang Su dari tidurnya. Gadis itu bangun dan turun dari tempat tidurnya.


Di luar rumah Kakek Jiu dan Lin Fan ternyata sudah bangun lebih dulu dan mereka saat ini mengumpulkan kayu kering.


“Dimana kakek Jiu dan Lin Fan ?”gumam Tang Su saat berjalan ke rumah dan mendapati rumah itu kosong.


Tang Su membuka pintu dan keluar rumah. Di luar dia melihat Kakek Jiu sedang menata beberapa kayu bakar di tanah dan juga Lin Fan yang membantu kakeknya.


“baak... baak... !”


Lin Fan mengayunkan tangan kecilnya yang memegang kapak membelah beberapa kayu kecil.


“Klak.... beberapa kayu yang terbelah jatuh ke tanah.


Tang Su berhenti dan melihat aksi Lin Fan yang menurutnya bagus seperti pertunjukan.


“plak... plak... plak...”Tang Su bertepuk tangan karena serasa melihat atraksi yang biasanya ia lihat di film dan kali ini dia lihat secara langsung.


Lin Fan menoleh ke belakang dan menaruh kapaknya setelah mendengar suara tepukan tangan.


“Kakak Tang Su.... ?”ucap Lin Fan berbalik saat gadis itu menghampirinya.

__ADS_1


Kakek Jiu berhenti menata kayu bakar dan ikut menghampiri Tang Su.


“Nona kau sudah bangun ?”ucap sang kakek menyapa Tang Su.


Tang Su tersenyum kecil menatap kakek Jiu dan juga Lin Fan.


“Apa yang sedang kakek dan Lin Fan lakukan ?”ucap Tang Su bertanya.


“Kami mengumpulkan kayu bakar untuk memasak.”jawab Lin Fan menjelaskan aktivitas mereka.


Tanpa banyak bicara Tang Su segera menghampiri kakek Jiu dan ikut menata kayu bakar bersamanya.


“Nona... apa yang nona lakukan ?”ucap Kakek Jiu berusaha mengambil kayu yang dipegang oleh Tang Su.


“Aku hanya ingin membantu kakek saja. Tolong jangan larang aku.”balas Tang Su tetap menata kayu bakar sebelum kakek Jiu melarangnya.


Kakek Jiu pun akhirnya membiarkan gadis itu membantunya menata kayu bakar. Namun dia juga masih menata kayu bakar meskipun Tang Su sudah memintanya untuk duduk saja.


Selesai menata kayu bakar yang sekarang ini terlihat menumpuk setinggi satu meter, Tang Su duduk sebentar sekedar untuk menghapus keringatnya dan menata nafasnya yang belum teratur.


Setelah rasa lelahnya hilang Tang Su kembali berdiri dan menghampiri Lin Fan.


“Lin Fan biar aku membantumu. Kau istirahat sebentar dengan kakek Jiu.”ucap Tang Su mengambil kapak yang Lin Fan taruh di tanah.


Lin Fan dan kakek di duduk bersandar di pohon. Sedangkan Tang Su yang baru pertama kali memegang kapak memegangnya alat dan mulai mengayunkan nya.


“Mungkin seperti ini cara mengayunkan nya.”gumam Tang Su mencoba menirukan apa yang sudah di lakukan oleh Lin Fan sebelumnya.


“braak... !” dengan sekali tebasan Tang Su berhasil membelah kayu tadi menjadi beberapa bagian.


Tak hanya Tang Su yang terkejut melihat dirinya bisa membelah kayu lebih baik dari Lin Fan, bahkan kakek Jiu dan Lin Fan terkesan melihatnya.


“Kakak hebat sekali... !”ucap Lin Fan memuji kemampuan Tang Su dan bertepuk tangan karena sebelumnya gadis itu juga bertepuk tangan padanya.


Kakek Jiu menatap Tang Su dan terus mengamati gerakan yang dilakukan olehnya.


“Nona ini sepertinya menguasai ilmu bela diri. Dan dia bukan orang biasa.”batin kakek Jiu melihat gerakan tangan Tang Su yang ringan dan seperti sudah terlatih dan terbiasa melakukannya.


Siang hari di saat mereka bertiga sedang menikmati makan siang. Dari luar datanglah beberapa orang ke rumah kakek Jiu.

__ADS_1


Seorang lelaki muda beserta adiknya membawa ayah mereka yang tiba-tiba tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya setelah kembali dari sungai untuk menangkap ikan.


“Kakek Jiu... kakek Jiu... tolong kami...”ucap lelaki tadi depan pintu rumah kakek Jiu yang terbuka lebar.


Kakek Jiu yang mendengar ada suara seseorang yang memanggilnya segera menaruh piring yang dipegangnya ke meja.


“Ya sebentar...” jawab sang kakek dengan lantang sambil berdiri. Ia pun bergegas menuju ke pintu.


“Ada apa... apa yang terjadi pada ayahmu ?”ucap Kakek Jiu bertanya pada lelaki itu kondisi ayahnya.


Lelaki tadi menjelaskan kondisi ayahnya pada kakek Jiu.


“Cepat bahwa ayah masuk ke dalam.”ucap Kakek Jiu agar segera bisa merawatnya sebelum terlambat.


Lelaki tadi segera membawa ayahnya masuk dan membaringkan tubuh ayahnya di tempat tidur di sebuah ruangan.


“Zhang Ziang... minggirlah dulu biar aku bisa memeriksa ayahmu.”ucap sang kakek berdiri di samping Zhang Ziang.


Zhang Ziang minggir dan kakek Jiu setelah memeriksa ayahnya Zhang Ziang. Dia memeriksa denyut nadinya lalu beralih memeriksa kelopak matanya.


“Lin Fan... tolong ambilkan kakek ramuan dalam guci coklat.”ucap Kakek memanggil Lin Fan.


“Baik kakek.”balas Lin Fan.


Anak itu segera menyelesaikan makannya dan mengambilkan ramuan sesuai dengan yang diinstruksikan oleh sang kakek.


Tang Su mengikuti Lin Fan berjalan masuk menghampiri kakeknya setelah mengambilkan ramuan obat.


“Ini kakek...”ucap Lin Fan menyerahkan guci coklat dan memberikannya pada kakek.


Kakek Jiu mengeluarkan tiga butir pil berwarna hitam dari guci coklat dan meminumkan nya pada Zhang Yuan.


Kakek Jiu berjalan menuju ke sebuah almari dan mengambil sebuah kotak. Dia pun mengeluarkan jarum perak lalu mulai menusuk di beberapa titik vital di tubuh Zhang Yuan.


Tiga puluh menit kemudian tepat di saat kakek Jiu mencabut jarum silvernya dari bagian titik vital yang berada di kaki, Zhang Yuan membuka matanya dan menggerakkan tangannya.


“Dimana aku ?”ucap Zhang Yuan segera duduk dan menggerakkan tangannya yang terasa kaku.


“Terima kasih banyak kakek Jiu sudah membantu ayahku.”ucap Zhang Xiang setelah melihat kondisi ayahnya pulih dengan cepat.

__ADS_1


Ketiga orang itu kemudian pergi dari rumah kakek Jiu. Sedangkan Tang Su yang sedari tadi melihat kakek Jiu mengobati pasien baru menyadari jika kakek tua itu bukan orang biasa, melainkan seorang tabib hebat yang luar biasa.


BERSAMBUNG....


__ADS_2