Buku Keberuntungan

Buku Keberuntungan
Eps. 37 Surat Balasan


__ADS_3

Tang Su terlihat terkejut saat melihat sebuah gulungan kertas yang mirip dengan sebuah surat jatuh di pangkuannya. Ia pun mengambil kertas putih yang terikat dengan benang hijau di sisi tengahnya.


“Apa ini... ?”gumam Tang Su membuka tali yang mengikat gulungan kertas tadi.


Saat dia membukanya terdapat tulisan di gulungan kertas tadi.


“Bahasa kanton... ?”gumam Tang Su saat membaca tulisan itu yang merupakan bahasa kuno. Ia mengerti maksud yang di tulis oleh penulis itu namun tak bisa membalasnya. Bahkan gadis itu bisa membaca bahasa kanton karena kakeknya dulu pernah mengajarinya.


“Putri ku Wu Shuang... ini ibu. Di istana saat ini semuanya mendapat kabar tentang kematian mu. Namun ibu tidak mempercayainya dan yakin jika diri mu masih hidup. Ibu sengaja mengirimkan surat lewat Bulbul dan berharap kau membalasnya jika memang masih hidup.”ucap Tang Su membaca apa yang tertulis di sana.


Dia melihat lagi tulisan itu dan menatap merpati kipas yang masih ada di dekatnya.


“Jadi yang mengirim surat ini adalah ibunya pemilik tubuh ini ? Astaga mereka mengira Putri Wu Shuang sudah mati.”batin Tang Su merasa iba pada selir Wan Rou yang bersedih.


“Lalu bagaimana aku membalasnya... ?”batin Tang Su bingung saat mau membalasnya.


Ia pun berpikir dan tak ingin membuat sedih selir Wan Rou Walaupun dia sendiri belum pernah menjumpainya dan melihatnya.


“Bagaimana jika aku menulisnya sebisa ku saja ?”batin Tang Su.


Ia pun masuk ke rumah untuk mengambil pena. Dua menit kemudian dia keluar dengan semua pena dan secarik kertas.


Tang Su menulis kan beberapa bahasa kanton sedikit yang ia pahami dan mencampurnya dengan bahasa mandarin karena tidak memahami beberapa katanya.


“Semoga saja ibunya Putri Wu Shuang bisa mengerti maksud yang ku tulis.”ucap Tang Su saat selesai menulis surat.


Ia pun menggulung dan mengikatnya dengan tali berwarna hijau lalu memberikannya pada merpati kipas.


“Jadi nama mu Bulbul ya...”ucap Tang Su sambil mengelus kepala merpati kipas itu.



“pur... pur...”Bulbul mengibaskan ekornya dan mematuk tangan Tang Su.


“Bulbul sekarang kembalilah dan sampaikan surat ku pada ibuku.”ucap Tang Su menyentuh Bulbul yang hinggap di bahunya seolah enggan meninggalkan dirinya.

__ADS_1


“pur... pur... pur...” seolah mengerti pada apa yang diucapkan oleh Tang Su, merpati kipas itu kemudian langsung melompat ke udara dan terbang mengangkasa, dalam hitungan menit merpati itu sudah hilang di antara awan.


Dari dalam rumah Lin Fan keluar mencari Tang Su untuk mengajaknya makan siang.


“Kakak apa yang kakak lakukan di sini ? Kenapa terus menatap langit ?”tanya anak kecil itu saat melihat Tang Su Yang mendongakkan kepala ke atas.


Tang Su segera menoleh ke belakang saat mendengar Lin Fan memanggilnya.


“Ah tidak ada... kakak hanya melihat seekor merpati kipas yang terbang saja.”jawab Tang Su.


Lin Fan ikut menatap ke langit namun dia tidak melihat ada seekor merpati dan seperti yang disebutkan oleh Tang Su dan berpikir burung itu sudah pergi. Ia pun teringat pada tujuan awalnya.


“Kakak ayo kita makan siang. Kakak pasti setelah membelah beberapa kayu.”ucap Lin Fan menatap setumpuk kayu bakar yang sudah dipotong oleh Tang Su.


“Ya baiklah... ayo kita makan.”jawab Tang Su singkat karena perutnya sekarang berbunyi.


Tang Su dan Lin Fan pun segera masuk ke rumah dan makan bersama kakek Jiu yang sudah menunggunya.


Di lain tempat Selir Wan Rou yang berada di istana sedang menunggu kedatangan Bulbul kembali. Wanita itu sama sekali tak beranjak dari kamarnya dan membuka jendela kamarnya.


Satu jam berikutnya Selir Wan Rou duduk di kursi. Dari luar terdengar suara langkah kaki yang berjalan menuju ke kamarnya.


“kriek...”Selir Wan Rou menoleh saat pintu kamarnya terbuka.


“Selir Wan Rou... kau sudah sadar.”


“Yang Mulia...”jawabnya saat melihat kaisar masuk dan langsung berdiri memberikan salam hormat padanya.


“Selir Wan Rou kau sudah sadar ?”ucap Kaisar Luoying merasa lega melihat sang selir yang duduk di kamar.


Selir Wan Rou segera berdiri dan memberikan salam hormat pada Kaisar.


“Bagaimana keadaan mu selir Wan Rou ?”tanya kaisar Luoying sambil memegang tangan istrinya yang masih dingin sambil duduk di sebelahnya.


“Aku baik-baik saja yang mulia. Maaf sudah merepotkan anda.”jawab Selir Wan Rou singkat.

__ADS_1


“Yang mulia aku masih tidak percaya jika putri kita sudah meninggal. Aku mohon pada mu yang mulia, tolong cari Putri Wu Shuang sekali lagi.”ucap Selir Wan Rou memohon.


Kaisar Luoying menjadi sedih mendengar perkataan istrinya yang belum bisa menerima kenyataan itu. Dalam hati kaisar merasa bersalah karena dia memberikan tugas pada sang putri. Jika saja dia tidak memberikan tugas padanya mungkin seperti ini tak akan terjadi.


“Sayang... aku tahu kau masih belum bisa menerima kenyataan ini. Tapi cepat atau lambat kau harus bisa menerimanya.”jawab kaisar Luoying.


Selir Wan Rou terlihat semakin bersedih mendengar jawaban dari kaisar. Ia pun hanya diam menunduk dan menitikkan air mata pelan karena suaminya tak mau mendengar permintaannya.


“Huft...”kaisar Luoying menghela nafas panjang melihat Selir Wan Rou yang menangis.


“Baiklah sayang aku akan menyelidiki kembali keberadaan Putri Wu Shuang dan juga menyelidiki penyebab kematiannya.


Dua puluh menit berikutnya Kaisar Luoying keluar dari kamar Selir Wan Rou. Ia pun mencari pengawalnya dan menugaskannya untuk mencari keberadaan dan menyelidiki kematian sang putri.


Selir Wan Rou berpindah duduk di kursi yang ada di depan jendela. Dia masih menunggu kembalinya Bulbul.


“Sudah dua jam lebih tapi Bulbul belum kembali juga.”gumam sang selir menunggu dengan jelas dan terus menetap ke arah luar jendela.


Angin berhembus masuk melewati jendela dan membuat Selir Wan Rou tertidur untuk beberapa saat.


Satu jam berikutnya, Bulbul kembali. Ia datang dan hinggap di atas meja di dekat Selir Wan Rou yang masih tertidur.


“purr... purr... purr...”


Bulbul bersiul di dekat telinga sang selera dengan maksud untuk membangunkannya namun Selir Wan Rou masih tetap tertidur.


“pur... pur....”Karena selir Wan Rou tak kunjung bangun juga maka Bulbul ujung jari sang selir.


“Oh... Bulbul kau sudah kembali ?”ucap Selir Wan Rou saat bangun karena merasa ujung tangan nya kesemutan.


“Apa kau sudah bertemu dengan Putri Wu Shuang dan kau membawa surat balasan dari tuan mu ?”tanya selir Wan Rou pada merpati kipas itu.


“pur... pur... pur...”Bulbul menjatuhkan surat yang dia bawa.


Selir Wan Rou ternyata sabar dan dia pun segera mengambilnya. Ia berharap itu bukan suratnya tadi melainkan surat balasan dari Putri Wu Shuang.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2