
Tak ada waktu lagi bagi Tang Su untuk untuk takut karena makhluk air berduri itu bergerak dari cepat ke arahnya.
“Sial kenapa baru masuk sudah bertemu dengan buaya yang akan memangsa ku ?”gumam Tang Su kesal sambil berusaha berdiri untuk menepi.
Di saat berdiri dan merusak keluar dari sungai dia merasakan lengan kanannya masih terasa berat seperti sebelum dia kembali ke dunia nyata.
“Kenapa lengan kanan ku masih seperti sebelumnya ?”ucap Tang Su saat menoleh ke lengannya dan melihat masih ada anak panah yang tertancap di sana.
Gadis itu tidak mengerti kenapa anak panah itu masih menancap di lengannya, sedangkan di dunia nyata dia sudah memulihkan lukanya.
“Apa mungkin yang terjadi di dunia nyata sama sekali tak berpengaruh dengan apa yang terjadi di sini ?”batin Tang Su setelah berpikir dan menyimpulkan nya sendiri.
Di saat dia sedang sibuk berpikir buaya dari arah belakangnya terus meluncur dengan cepat.
“blep... blep... blep...”
Tang Su kembali menoleh ke belakang dan baru sadar jika saat ini dirinya sedang di intai oleh seekor buaya yang kelaparan.
“Apa yang harus kulakukan ?”gumam Tang Su semakin panik karena buaya itu semakin dekat dengan dirinya dengan dia tak memegang senjata apapun yang bisa dia gunakan untuk melindungi dirinya.
Tang Su berjalan keluar dari sungai. Dalam kondisi tubuh masih terluka dia tak bisa bergerak dengan leluasa.
“blep... blep... blep...”Buaya itu saat ini sudah berada tepat di belakang Tang Su.
Gadis itu mencoba untuk tetap tenang dan mencari solusi untuk permasalahannya dihadapi kali ini. Dia kembali menatap lengan kanannya.
“Apa aku harus menggunakan ini ?”gumam Tang Su menatap anak panah yang menancap di lengannya dan bermaksud menggunakannya sebagai senjata.
Tak ada waktu lagi dan buaya itu membuka mulutnya lebar dan bersiap menerkamnya.
“Aaargh.... !” dengan terpaksa gadis itu menarik anak panah dari lengan kanannya dan merasakan kesakitan luar biasa.
Tang Su menahan rasa sakitnya dan segera mengayunkan anak panah tadi ke buaya.
“jleb.... !”Anak panah menancap di mulut buaya yang membuatnya kesakitan. Dan segera setelahnya Buaya itu kembali masuk ke air.
__ADS_1
Air berwarna jernih tadi berubah menjadi kemerahan setelah hilangnya buaya tadi.
“huuh....huuft...hampir saja.”ucap Tang Su menghela nafas lega dan kembali berjalan tepi sungai setelah keadaan aman. Dia pun duduk sejenak untuk mengatur nafasnya.
Darah terus mengalir setelah anak panah di lengan kanan Tang Su tercabut.
“Argh... aku benar-benar tidak tahu apa yang bisa kulakukan...”gumamnya saat merasakan Kepalanya tiba-tiba pusing karena banyaknya darah yang keluar dan pandangannya menjadi kabur.
Tang Su pun tak sadarkan diri, dan terletak di tepi sungai.
Siang hari seorang kakek tua dan anak lelaki berjalan melewati sungai setelah pulang mencari rerumputan untuk pakan ternaknya di rumah.
Sang cucu yang merasa haus berhenti sebentar setelah melihat ada sungai di bawahnya.
“Kakek aku haus sekali. Kakek tunggu di sini saja aku akan segera kembali.”ucap seorang anak kecil berambut panjang dan terikat rapi pada sang kakeknya.
“Baiklah kakek akan menunggumu disini. Cepatlah kembali.”balas sang kakek.
Sang kakek kemudian menurunkan rerumputan yang dibawanya ke tanah dan duduk di sebuah batu besar. Sementara anak kecil tadi segera turun menuju ke sungai.
Di depan sungai anak kecil tadi segera berjongkok di depan sungai. Karena merasa panas dia pun mengambil secangkup air dengan tangannya lalu membasuhkan ke mukanya.
Ia pun merasa ada yang tidak beres dan melihat air sungai yang berwarna merah.
“Darah... darah siapa ini... ?”pekik anak kecil itu terkejut.
Ia pun kembali berdiri dan menatap ke sekitar sungai. Dari arah timur dia melihat ada seseorang yang tergeletak di tepi sungai.
“tap... tap... tap...”
Anak kecil itu berlari menuju ke arah Tang Su yang berada lima meter dari tempatnya berdiri sekarang.
Setibanya di depan Tang Su, anak tadi segera mengecek nafas Tang Su.
“Nona ini masih hidup dan hanya pingsan.”gumamnya setelah memeriksa Tang Su masih bernafas.
“Mungkinkah dia digigit oleh hewan buas di sini ?”gumamnya lagi saat melihat darah mengalir di lengan kanan Tang Su.
__ADS_1
Anak itu kemudian menegakkan tubuh Tang Su dan bermaksud untuk membawanya naik ke atas.
“Aduh berat sekali... aku tidak kuat menggendong tubuhnya.”gumam anak itu kemudian meletakkan kembali tubuh Tang Su ke tepi sungai.
Anak itu kemudian melihat kesakitan untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa digunakannya untuk membantu mengangkat Tang Su, namun sayang sekali dia tak menemukan apapun di sana.
“Kakek tolong... tolong aku... !”ucap anak kecil tadi terpaksa berteriak meminta bantuan pada kakeknya.
Sang kakek yang mendengar teriakan minta tolong dari cucunya menjadi panik tanpa tahu sebabnya. Tanpa pikir panjang dia pun segera turun ke bawah untuk menyusul.
Sesampainya di depan sungai dia terkejut melihat cucunya dalam keadaan baik-baik saja.
“Ooh... Lin Fan kau mengagetkan kakak saja. Ku kira kau terluka atau sesuatu terjadi padamu.”ucap sang kakek menghampiri cucunya dan merasa lega.
“Maaf kakek... aku terpaksa memanggil kakek karena ada seseorang yang terluka di sana.”jelas Lin Fan pada kakeknya sambil menunjuk ke arah Tang Su berada.
Sang kakek pun segera berjalan bersama Lin Fan menuju ke tempat Tang Su berada.
“Nona ini pingsan karena pendarahan di lengannya kakek.”ucap Lin Fan menjelaskan kondisi Tang Su.
Karena sang kakek sudah mengajarkan beberapa teknik pengobatan pada Lin Fan, dia mempercayai ucapan cucunya itu tanpa perlu memeriksa kondisi Tang Su kembali.
“Baiklah kita bawa nona ini ke atas. Tolong bantu kakek.”balas sang kakek.
Lelaki itu kemudian membawa tubuh Tang Su ke atas bersama Lin Fan yang juga ikut membantunya.
Sesampainya di atas mereka meletakkan tubuh Tang Su di tanah. Sang kakek kemudian berjalan memanggil warga lainnya untuk membantunya membawa tubuh Tang Su.
Beberapa warga datang dan ikut membantu membawa Tang Su ke rumah kakek Lin Jian. Mereka membaringkan nya ke tempat tidur.
“Terima kasih sudah membantu kami.”ucap kakek Lin Jian pada beberapa lelaki yang sudah membantunya.
Setelah warga pergi dari rumahnya, kakek tua berjenggot putih itu segera memeriksa kondisi Tang Su untuk menentukan ramuan apa yang akan dia buat.
“Lin Fan ambilkan kakek ramuan obat yang ada di ruang belakang.”ucap sang kakek pada cucunya.
Lin Fan segera masuk ke ruang belakang dan menampilkan ramuan yang dimaksud oleh kakeknya.
__ADS_1
Sementara sang kakek masih menatap Tang Su yang mengenakan pakaian berwarna merah seperti pakaian yang biasa di kenakan seorang bangsawan berpikir dan mengira jika nona yang dia tolong adalah bukan gadis biasa.
BERSAMBUNG...