
Tang Su masih memikirkan kejadian tadi yang gagal ikut audisi setibanya di rumah.
Di depan pintu kamar Siyue mengucapkan beberapa kata-kata sebelum dia pulang karena melihat temannya yang terlihat sedih.
“Tang Su sudah jangan kau pikirkan terus. masih banyak kesempatan lain dan kau bisa mengikutinya.”ucap Siyue sambil menepuk tangan baru Tang Su.
“Terima kasih teman sudah mengantarku, tenang saja aku tidak memikirkannya kok.”balas Tang Su kembali tersenyum untuk menutupi rasa kecewanya.
“Aku balik dulu. Sampai ketemu besok di kampus.”ucap Siyue berpamitan pada temannya.
Ia pun melambaikan tangannya saat Siyue melambaikan tangan dari kejauhan.
Tang Su masuk kembali ke kamar. Dia pun melempar tasnya ke kasur karena sedikit kecewa dan kesal.
“bugh... !”Tang Su melemparkan tubuhnya dengan keras ke tempat tidur lalu berguling-guling di sana.
“Kenapa hanya daftar saja aku gagal dan tidak memenuhi syarat. Lagipula untuk mengikuti lomba saja sudah mempunyai pengalaman.”gumam Tang Su merasa aneh saja dengan agensi kontes kecantikan.
Keesokan harinya Tang Su berangkat ke kampus seperti biasa dan mengikuti pelajaran di kelasnya seperti biasa.
“wuus... !”seorang lelaki melemparkan pesawat kertas ke tubuh Tang Su.
“Apa sih ini ?”gumam Tang Su kesal melihat sebuah pesawat kertas jatuh di pangkuannya.
Ia pun mengambil pesawat kertas itu dan membukanya. Di dalamnya ada sebuah tulisan yang berisi tentang ajakan kencan.
“Buruk rupa di hina, cantik di puja. harusnya aku merasa senang tapi kenapa aku merasa kesal ?”gum Tang Su meremas pesawat kertas dan membuangnya ke lantai.
Di lain tempat di kantor tempat Tang Su mendaftarkan diri dalam ajang kontes kecantikan.
Terlihat panitia lomba memeriksa formulir pendaftaran peserta kontes kecantikan setinggi lima puluh senti meter.
Seorang lelaki berpenampilan eksentrik khas direktur membuka satu persatu berkas yang ada di depannya.
“Ini peserta lomba tahun kemarin.”ucapnya sambil menaruh berkas yang sudah diperiksanya ke meja lain.
“Ini juga peserta lomba dua tahun yang lalu.”gumamnya lagi berkas ke meja lain bersama berkas sebelumnya.
Sementara asistennya hanya menatap bosnya sambil menggelengkan kepala saja.
__ADS_1
“Kenapa bos terlihat tidak puas dengan para peserta yang mendaftar audisi kali ini ?”batin seorang wanita berkacamata menatap ke arahnya sebentar namun kembali menatap layar komputer di depannya karena tak ingin di kira memantau atasannya.
Satu jam kemudian, lelaki itu selesai melihat semua berkas pendaftaran yang masuk padanya.
“Haaah..... peserta audisi kali ini sama saja dari waktu ke waktu.”keluh lelaki itu lalu menyadarkan dirinya ke sofa.
“Mengmeng apa tak ada penasaran lain yang sama sekali belum pernah mengikuti audisi ini ?”ucap lelaki itu bertanya pada asistennya.
“Ada bos. Ada sekitar seratus pendaftar yang tidak memenuhi kriteria syarat pendaftaran.”jawab sang asisten.
Ia pun segera membawa berkas dokumen yang dia maksud dan menyerahkannya pada sang bos.
“Ini bos. Tapi bukannya syarat pendaftarannya harus mempunyai pengalaman pernah ikut audisi sebelumnya ?”ucap sang asisten bertanya karena tiba-tiba bosnya merubah peraturan secara mendadak.
“Ya kau tahu aku ingin mencari bakat baru yang masih perawan dan ingin mendidiknya sesuai dengan keinginanku bukan mereka yang sudah berpengalaman. Karena pasti mereka susah diarahkan.”jawab sang bos panjang lebar dan menjelaskan alasannya pada saat asisten.
Ia pun segera memeriksa tumpukan dokumen yang barusan diserahkan oleh asisten padanya.
“Ini bawa kembali dokumen ini dan hubungi nomor mereka semua.”ucap sang bos menyerahkan berkas yang baru dibacanya pada asistennya kembali.
“Jadi bos... untuk berkas yang ada di depan meja bos bagaimana ?”ucap Mengmeng bertanya daripada salah melakukan tindakan.
“braak.... !”sang bos membanting pintu ruangannya lalu duduk di kursinya melihat review jadwal audisi kali ini.
“Huuft....untung saja bos tidak marah pada ku.”gumam sang asisten.
Ia pun segera membawa berkas itu kembali ke tempatnya dan menelepon satu persatu nomor peserta yang terlampir.
“Ternyata merelakan juga menelepon seratus peserta.”gumam Mengmeng istirahat sejenak dan menaruh gagang telepon serta berkas kembali ke tempatnya.
Siang hari kemudian Tang Su pulang dari kampus. Gadis itu berjalan sendiri menuju ke tempat kostnya setelah berpisah dengan Siyue.
“kriek...”Tang Su sampai di tempat kost dan membuka pintu.
Dia menaruh tasnya kemeja dan duduk sejenak sambil minum segelas air putih.
“kring...kring...kring...” suara ponsel Tang Su berdering dalam tas.
“Haa.... telepon dari siapa ?”ucapnya menoleh ke arah tas nya.
__ADS_1
Karena telepon terus berdering, Tang Su pun mengambil tasnya dan mengeluarkan ponselnya.
“Nomor tidak dikenal ? Siapa kira-kira ?”gumam Tang Su saat melihat nomor penelepon merupakan nomor asing.
Biasanya gadis itu jika ada nomor asing yang meneleponnya tidak pernah diangkat. Namun entah kenapa kali ini hal itu tidak berlaku padanya.
“Halo...”jawab Tang Su.
“Halo apa benar ini dengan saudari Tang Su ?”ucap suara seorang wanita ditelepon.
“Benar, maaf ini dari mana ?”balas Tang Su bertanya.
“Saudari Tang Su ini dari panitia kontes kecantikan. Kami salahku panitia memberitahukan kepada anda jika anda lolos seleksi pendaftaran kontes kecantikan.”jawab seorang wanita ditelepon menjelaskan maksudnya.
Tang Su seolah tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
“Maaf nona Bukankah sebelumnya aku sudah ditolak Saat mendaftar agensi ?”jawab Tang Su tiba-tiba menjadi waspada karena takut itu adalah penipuan.
“Ya nona aturan di tempat kami bisa berubah sewaktu-waktu. Dan hal itu yang tidak kami sampaikan pada pendaftaran kontes kecantikan ini.”ucap wanita ditelepon tadi kembali menjelaskan.
Tang Su tersenyum setelah mengetahui ternyata telepon itu bukan penipuan.
“Nona jika begitu dua hari ke depan datanglah ke agensi kami untuk mengikuti tes audisi.”ucap suara seorang wanita tadi kembali menjelaskan.
“Dua hari lagi ? Kenapa cepat sekali ?Aku sama sekali belum ada persiapan.”batin Tang Su yang pudar senyumnya lalu menelan ludah.
“Nona Tang Su apa anda masih di sana ?”ucap suara wanita di telepon karena tak ada suara balasan dari gadis itu.
“Ya nona aku mendengar apa yang nona katakan. Terima kasih informasinya.”balas Tang Su.
Telepon berakhir. Gadis itu menara ponsel ke meja. Pikiran dan perasaannya campur aduk antara senang karena mendadak bisa mengikuti audisi dan bingung karena semuanya terlalu mendadak dan dia belum mempunyai persiapan apapun.
“tuk... tuk...”Tang Su menentukan jarinya ke meja saat dia merasa bingung dan sedang berpikir.
“Aku harus minta tolong pada seseorang yang mengerti tentang dunia modeling. Tapi siapa ?”batin Tang Su mencari pandangan siapa kira-kira yang bisa.
Dalam pikirannya hanya terlintas dua nama saja. Xiao Jinyu dan Siyue, namun dia sebenarnya tidak yakin dengan mereka bisa membantunya atau tidak nanti.
BERSAMBUNG....
__ADS_1