Buku Keberuntungan

Buku Keberuntungan
Eps. 36 Diikuti Merpati


__ADS_3

Merpati kipas itu biasa Putri Wu Shuang pakai untuk mengantarkan surat nya saat berada di luar kota atau mengirim pesan penting pada seseorang, termasuk ibunya.


“Bulbul... antar surat ini pada tuan mu. Dan kirim kembali balasannya untuk ku.”ucap Selir Wan Rou bicara pada merpati milik Putri Wu Shuang.


Seolah mengerti pada apa yang diucapkan oleh selir Wan Rou, merpati kipas itu menyentuh tangan Selir Wan Rou dengan paruhnya kemudian terbang keluar di udara dan dalam sekejap hilang dari pandangan mata.


“Semoga saja Bulbul menemukan Putri Wu Shuang dan segera membawa balasannya kembali.


Di istana di tempat lain di sebuah altar tampak permaisuri Shen Shanyu sedang membakar dupa dan memberi hormat tiga kali pada sebuah nisan.


“Hormat pada bumi dan langit. Semoga ayah dan ibu tenang di alam sana.”ucap Permaisuri Shen Shanyu dengan wajah yang sedih.


Di luar altar tampak Putri Shen Bailian akan masuk dan bicara dengan ibunya.


“Oh Ibu masih berdoa rupanya.”batin Putri Shen Bailian lalu memutuskan untuk menunggu di luar hingga ibunya selesai berdoa di hari kematian kakek dan neneknya.


Permaisuri Shen Shanyu mendengar suara langkah kaki dan melihat bayangan sekelebat yang menurutnya mirip dengan putrinya.


“Apa itu tadi Shen Bailian dan dia ke sini mencari ku ?”batin Permaisuri Shen Shanyu merasa ada hal penting yang ingin dibahas dengan dirinya saat melirik ke belakang.


Permaisuri segera mengakhiri doanya dan keluar altar untuk mencari putri Shen Bailian.


“Sayang ada apa mencari ibu ?”ucap permaisuri Shen Shanyu setelah menemukan sosok Putri Shen Bailian yang berdiri di dekat pagar altar.


“Ibu ada kabar gembira. Aku benar-benar tak menyangkanya sama sekali. Wu Shuang yang selama ini selalu menjadi duri dalam hidupku kali ini benar-benar sudah pergi untuk selama-lamanya.”ucap sang putri berbisik lirih sambil tersenyum di telinga ibunya agar tak ada yang mendengar percakapan mereka.


“Ibu sudah tahu berita itu bahkan sebelum yang mulia mengetahui berita itu.”balas Permaisuri Shen sambil tersenyum.


“Ayo kita rayakan saja kemenangan kita kali ini.”ucap Permaisuri Shen pada putrinya.


Mereka berdua kemudian pergi dari altar doa dan menuju ke ruang masak.


Permaisuri Shen Shanyu menghampiri salah satu pelayan yang ada di sana.


“Lin Jian kemari sebentar.”panggil permaisuri Shen.

__ADS_1


Pelayan itu segera mendekat dan hentikan sajenak aktivitasnya mencuci sayuran.


“Siapkan makan siang untuk semua pelayan yang ada di sini. Dan perintah mereka untuk ikut makan bersama.”ucap Permaisuri Shen memberi tugas.


“Baik Permaisuri Shen Shanyu.”jawab Lin Jiu kemudian segera mencari pelayanan lainnya dan memberitahu perintah dari sang permaisuri jika akan di adakan pesta syukuran mereka sendiri tidak tahu dalam rangka memperingati hari apa.


Permaisuri Shen Shanyu dan Putri Shen Bailian keluar dari ruang memasak dan kembali ke kamar mereka menunggu acara perayaan tiadanya Putri Wu Shuang.


Dalam hati Putri Shen Bailian merasa heran dan curiga kenapa Ibunya bisa mengetahui kabar itu lebih dulu.


“Apa semua ini ada hubungannya dengan ibu ? Atau dia yang membuat semuanya ini terjadi ?”batin Putri Shen Bailian sempat memikirkannya namun dia tak mau ambil pusing dan menggalinya karena yang lebih penting baginya Putri Wu Shuang sudah tidak akan mengganggunya lagi.


Di lain tempat di rumah kakek Jiu. Di luar rumah Tang Su sedang membelah kayu bakar menggunakan kapak yang biasa di gunakan oleh Lin Fan.


“Brakk....”Tang Su mencoba Mengayunkan tangannya membelah kayu bakar.


Dengan lengan kanannya yang sudah sembuh total dia pun bisa bergerak bebas dan melepas dengan ringan seperti menebas sayuran.


“brak....”Tang Su sengaja mengayunkan tangannya untuk mengetahui kekuatan Putri Wu Shuang.


“Aku tak menyangka aku benar-benar bisa melakukan bela diri.”gumam Tang Su mengagumi gerakan lincah dan cepatnya.


Karena masih penasaran dengan kemampuannya, dia pun mencoba melempar satu batang kayu ke udara dan menebasnya sebelum kayu itu jatuh ke tanah.


“Slash... braak !”Kayu tadi terpotong menjadi beberapa bagian kecil dengan rapi lalu jatuh ke tanah dan tersusun dengan rapi.


“Luar biasa sekali...”gumam Tang Su sambil melihat kedua tangannya yang ajaib.


Karena masih banyak kayu bakar di sana yang belum dipotong dia pun segera memandangnya menjadi beberapa bagian kecil. Dan dalam waktu singkat dia berhasil menyelesaikan memotong tiga tumpuk kayu bakar.


“Huuf...”Tang Su beristirahat sejenak karena merasa sedikit lelah dan duduk di atas rumput hijau sambil mengeringkan keringatnya.


“phaak... phaak.... phaak...”dari kejauhan terdengar kepakan sayap seekor burung terbang mengudara di sekitar Tang Su.


Seekor merpati kipas terbang berulang kali dengan rute yang sama mengitari Tang Su.

__ADS_1


“Kenapa burung ini hanya berputar-putar di sini.”gumam Tang Su yang merasa aneh saat menatap ke langit.


Setelah merasa yakin dia gadis yang ada di bawahnya adalah tuannya, Bulbul segera turun dan mendarat di pangkuan Tang Su.


“Oh cantik sekali merpati ini ?”ucap Tang Su saat melihat Bulbul yang berpindah ke lengannya.


Tang Su yang merasa gemas menangkap merpati tadi dan anehnya merpati itu diam dan menurut saja padanya. Bahkan merpati tadi menyentuh ujung jarinya dengan paruhnya seolah sudah lama mengenalnya.


“Apa burung ini lapar ?”batin Tang Su mengelus kepala Bulbul yang menurut saja padanya dan malah menggesekkan kepalanya ke punggung tangan Tang Su dengan manja.


“Jadi kau benar lapar... baik aku akan mengambilkan makanan untukmu.”jawab Tang Su.


Ia pun berdiri dan mengambil Segenggam beras dari karung yang ada di rumah kakek Jiu. Namun anehnya merpati tadi tak mau memakannya dan menolaknya.


“Apa kau tidak lapar ?”tanya Tang Su.


“pur... purr...”Bulbul merasa tuannya bertingkah aneh dan seolah tak mengenali dirinya.


Ia pun lalu mematuk punggung tangan Tang Su dengan keras.


“Auwh...”pekik Tang Su yang merasa kesakitan dan habis beker kenapa seperti itu mematuknya dengan keras.


“Merpati cantik... aku tidak tahu apa yang kau minta pada ku. Dan aku tidak mengerti bahasa maksud mu.”ucap Tang Su lagi memegang Bulbul dan melemparnya ke udara karena berpikir burung itu ingin terbang lagi.


Namun hal aneh kembali terjadi. Burung itu mendarat di tangan Tang Su meskipun gadis itu sudah menerbangkannya lagi.


Tang Su menurunkan Bulbul ke tanah lalu berjalan meninggalkannya.


“Kenapa dia masih mengikutiku juga !?”ucap Tang Su saat menoleh ke belakang dan melihat Bulbul berjalan mengikutinya.


Tang Su pun berhenti dan kembali duduk. Seketika merpati tadi melompat ke pangkuannya.


Karena tuannya tak mengerti maksudnya dia pun menggesek-gesekkan bagian bawah tubuhnya ke tangan Tang Su dan seketika jatuhlah segulung kertas kecil di pangkuannya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2