
Pusaran angin kencang terus menarik tubuh Tang Su dan terus menghisapnya ke dalam.
Gadis itu berusaha meraih sesuatu yang ada di depannya agar tidak tersedot masuk, namun semua usahanya sia-sia belaka dan dirinya terus terhisap.
“Aaarghhh... !”Tang Su kembali berteriak melengking sambil mengulurkan tangannya meskipun tak ada yang menolong dirinya.
Beberapa saat kemudian dia keluar dari pusaran angin yang menghisapnya. Tang Su segera membuka matanya.
“Dimana aku sekarang ?”ucap Tang Su begitu tersadar dan menatap ke sekeliling.
Dia melihat saat ini berada di kamarnya sendiri.
“Aku sudah kembali ke dunia nyata. Apa aku tidak bermimpi ?”gumam Tang Su yang mengira dirinya sedang bermimpi indah kembali ke tempat asalnya.
Tang Su yang masih ragu buat apa yang dia lihat mengucek kedua matanya lalu melihat kembali ke sekitar.
“Oh... syukurlah aku memang sudah kembali ke tempatku.”gumamnya sambil tersenyum.
Untuk lebih meyakinkan dirinya sendiri dia pun berjalan menuju ke cermin dan melihat dirinya di sana.
“Ini benar diriku sendiri.”ucap Tang Su menyentuh pipinya yang chubby dan jemarinya yang bulat.
Setelah benar-benar yakin dirinya sudah kembali ke tempatnya, Tang Su segera menuju ke tempat tidur dan berbaring di sana.
“Jam berapa sekarang ?”batin Tang Su menatap jam dinding di sisi timur.
Ternyata saat ini baru pukul 01.00 dini hari yang berati dia sudah berada di dunia dalam buku komik yang dibacanya selama empat hari lamanya.
“Ternyata waktu dalam dunia buku yang ku baca lebih panjang daripada waktu di sini.”batin Tang Su lagi namun dia mempedulikan hal itu sama sekali.
Tang Su mulai merasa ngantuk dan terasa sedikit pusing, namun dia tak membedakan kondisinya saat ini dan lebih memilih untuk tidur.
Pagi hari Tang Su bangun dengan mata yang sedikit berkantung. Gadis itu duduk sebentar setelah meminum segelas air mineral.
“Kenapa leherku terasa nyeri dan kepala ku masih pusing ?”ucap Tang Su sambil memegang tengkuk lehernya.
Dia pun teringat jika dirinya menusuk tengkuk lehernya itu menggunakan jarum perak milik kakek Jiu sebelum kembali ke sini.
“Apa karena hal itu... apa mungkin aku salah menusuk titik vital ?”batin Tang Su.
__ADS_1
Gadis itu baru menyadari jika dirinya bangun kesiangan dan dua puluh menit lagi kelas akan di mulai.
“Aaah... tidak... !”Tang Su segera bersiap setelah melihat jam dinding.
Ia pun mandi dengan cepat dan berangkat sambil menggigit roti selai kacang. Dia menghabiskan rotinya tepat saat dia sampai di pintu gerbang masuk kampus Shangjiang.
Tang Su menyempatkan diri sebentar untuk minum, meskipun hanya beberapa teguk. Setelah tenggorokannya sudah terasa basah dia pun kembali berjalan menuju ke kelasnya.
“Untunglah aku sampai di kelas tepat waktu.”batin Tang Su duduk di kursinya sambil menghela nafas panjang.
Dua menit kemudian dosen mata kuliah datang dan memasuki ruangan. Seketika raut muka Tang Su menjadi pucat pasi.
“Celaka.... aku belum mengerjakan tugas fisika aku sama sekali.”gumam Tang Su seketika teringat pada tugas yang semalam batal dia kerjakan.
Tang Su hanya bisa menggigit jari dan berharap dosen tidak meminta mengumpulkan tugas fisika saat ini.
“Lebih baik aku mengerjakannya sekarang, berapa pun itu.”batin Tang Su setelah mencoba tenang dan baru menyadari lebih baik segera melakukan tindakan.
Ia pun mengeluarkan buku tugasnya dan mulai mengerjakan soal.
Dosen yang ada di depan kelas mulai menyampaikan materi. Baru sepuluh menit memberikan materi, dosen menanyakan tugas yang ia berikan sebelumnya.
Tang Su baru mengerjakan lima soal dari tiga puluh soal yang ada. Ia menjadi panik saat melihat semua mahasiswa mulai berdiri dan mengumpulkan tugas mereka.
“Apa sudah semua ?”ucap dosen kembali bertanya.
Tang Su diam saja dan masih mengerjakan dua soal lagi. Sedangkan dosen memeriksa tugas yang saat ini sudah menumpuk di mejanya.
Dosen pun akhirnya menyadari ada satu mahasiswa yang belum mengumpulkannya setelah selesai memeriksanya.
“Tang Su dimana tugas mu ?” ucap dosen sambil menatap ke arah tempat duduk gadis itu berada.
Tang Su menerapkan yang dipegangnya dan menatap dosen yang memanggilnya. Dia pun sendiri dan membawa tugas yang belum ia selesai kerjakan.
“Ini tugasnya Pak Chong Li.”ucap Tang Su setelah maju ke depan dan menyerahkan tugasnya pada dosen fisika dengan gugup.
Dosen fisika itu menerima tugas yang diberikan Tang Su dan segera memeriksanya.
“Kenapa hanya dua belas soal saja yang kau kerjakan ?”tanya Pak Chong Li.
__ADS_1
“Itu... itu.... sebenarnya aku sakit dan hanya bisa mengerjakan soal segitu saja Pak.”jawab Tang Su menjelaskan alasannya.
Dosen Fisika itu melihat Tang Su dalam keadaan baik-baik saja dan membuat jamur karena merasa dibohongi oleh mahasiswanya.
“Bagus Tang Su mungkin kau memang tidak sehat karena beberapa lemak yang menumpuk di tubuhmu. Aku akan membantumu membakar lemak mu.”balas sang dosen sambil tersenyum menyeringai menatap Tang Su.
Tang Su diam dan menelan ludah sambil membayangkan hukuman apa yang akan diberikan oleh dosennya itu padanya.
“celakalah aku... semoga saja hukumannya ringan.”batin Tang Su menatap dosen Fisika yang masih berpikir apa hukuman apa yang tepat untuk dirinya.
“Baiklah aku akan memberimu tugas menarik. Kau pelajari tentang perpindahan kalor dari luar secara langsung. Dan buktikan apakah manusia merupakan jenis penghantar yang baik atau bukan !”ucap sang dosen menjelaskan panjang lebar tugasnya.
“glek...”Tang Su menelan ludah mendengar hukuman yang diberikan oleh dosen padanya.
“Baik Pak Chong Li.”jawab Tang Su mengangguk menerima tugas yang sebenarnya adalah hukuman untuk dirinya.
Gadis itu segera berjalan keluar dari kelas dengan membawa tasnya.
Mahasiswa lain yang sekelas dengan Tang Su seketika jadi ramai. Mereka semua menertawakan Tang Su.
“Jangan lupa pakai suncreen saat kau menjadi pengantar panas.”celetuk seorang mahasiswa sambil tertawa lebar menatap Tang Su dan membuat seisi kelas kembali gaduh dan berisik karena menertawakan ucapannya.
Tang Su hanya menatap semua temannya yang menertawakan dirinya dan terus berjalan.
Di luar kelas dia mencari tempat yang panas namun tidak menemukan karena hari masih pagi.
“Lalu dimana tempat yang panas jam segini ?”batin Tang Su berpikir.
Tiba-tiba gadis itu teringat satu tempat yang bisa mendapatkan panas dengan rata.
“Benar... di lapangan sepak bola pasti panas.”celetunya. Ia pun bergegas menuju ke lapangan sepak bola.
Di lapangan itu benar sudah panas saat ini. Tang Su segera masuk ke lapangan dan berdiri di sana setelah menaruh tas yang dia bawa ke salah satu bangku kosong.
“Oh sampai berapa lama aku harus berhenti di sini ?”ucap Tang Su sambil menutup matanya karena merasa silau saat terkena sinar matahari secara langsung.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1