
Suatu ketika di pagi hari di hari minggu, Tang Su keluar dari penginapan Yuelai untuk berjalan-jalan mengusir rasa penat dan lelahnya setelah seminggu penuh membuka tempat praktek.
“Bahan untuk membuat obat beberapa habis, jadi sebaiknya aku pergi membelinya sekarang juga.”gumam Tang Su yang sudah bersiap.
Ia pun keluar dari penginapan menuju ke pusat herba Ling Yu. Di tengah jalan dia melihat banyak poster pengumuman yang dipasang di pohon-pohon dan juga dinding.
“Poster apa itu sebenarnya ?”gumam Tang Su terlihat penasaran karena melihat banyaknya poster di sepanjang jalan.
Ia pun berhenti di depan sebuah pohon dan membaca isi pengumumannya.
“Sayembara menyembuhkan Selir Wan Rou yang akan dilaksanakan tiga hari ke depan dengan hadiah menarik dari kaisar.”gumam Tang Su membaca isi poster.
Dia pun terdiam dan kembali berpikir setelah membaca nama sang selir.
“Selir Wan Rou... bukankah itu nama dari ibunya Putri Wu Shuang. Apa dia sedang sakit saat ini ?”gumam Tang Su setelah teringat beberapa waktu lalu mendapat surat dari merpati kipas.
Dia pun merasa iba dengan kondisi sang selir yang tak lain adalah ibunya dalam dunia buku.
“Baiklah aku akan mengikuti sayembara ini. Aku ingin bertemu seperti apa ibu dan juga mengobatinya.”ucap Tang Su yakin dan dengan tekad yang kuat mengikuti sayembara itu tanpa mempedulikan apa hadiahnya.
Setelah membaca pengumuman itu dia pun berjalan menuju ke salah satu toko bahan ramuan yang ada di sepanjang jalan.
“Tuan Tolong ambilkan aku bahan yang ini, ini, ini dan juga itu.”ucap Tang Su di dalam toko bahan ramuan menuju bahan obat yang dibelinya.
Tang Su keluar dari toko bahan ramuan dengan membawa beberapa bahan ramuan obat dan berjalan-jalan sebentar membeli beberapa cemilan di sana.
Dua jam berikutnya gadis itu sudah ada di penginapan Yuelai. Tang Su mengolah beberapa bahan yang sudah dibelinya tadi dan memasaknya dalam panci alkimia.
“Sebenarnya apa sakit yang diderita oleh Selir Wan Rou ?”batin Tang Su sambil duduk dan menunggu ramuan yang diolahnya matang.
Dia pun memikirkan berbagai kemungkinan dan salah satu kemungkinannya adalah sakit yang dideritanya karena rasa sedih setelah kehilangan putrinya.
Tiga hari kemudian di pagi hari Tang Su sengaja tidak membuka tempat praktek pengobatannya dan menuliskan pengumuman jika tempat praktek hari ini libur dan akan buka kembali pada esok harinya.
“Baiklah semuanya sudah siap aku berangkat sekarang.”ucapnya membawa jarum peraknya beserta dua botol guci berisi ramuan obat.
__ADS_1
Tang Su keluar dari penginapan Yuelai menuju ke istana Wanzhou. Dia tidak tahu letak Istana yang merupakan tempat tinggal aslinya dan selama di perjalanan dia sering berhenti dan bertanya pada beberapa orang.
Di penginapan Yuelai dua jam setelah keberangkatan Tang Su terlihat banyak pasien mendatangi tempat pengobatan Tang Su.
“Sayang sekali tabib Tang hari ini tutup.”ucap seorang pengunjung terlihat kecewa setelah membaca pengumuman yang ditulis oleh Tang Su.
Para pasien akhirnya kembali dengan kecewa dan terpaksa harus menunggu esok hari untuk berobat.
Di istana Wanzhou saat ini terlihat ramai sekali. Banyak tabib dari berbagai kota dan daerah datang mengikuti sayembara.
Beberapa tabib sudah memeriksa selir Wan Rou dan mencoba mengobatinya namun tak satupun dari mereka yang berhasil.
“Kenapa dari sekian banyak tabib yang mengikuti sayembara belum ada satupun yang bisa menyembuhkan Selir Wan Rou.”batin Kaisar Luoying merasa sedih saat duduk di depan kamar sunselir dan melihat beberapa tabib yang keluar dengan tangan hampa.
Siang hari kemudian sampailah Tang Su di istana Wanzhou. Ia merasa kelelahan setelah berjalan cukup jauh.
“huft... haah... akhirnya sampai juga aku di sini.”ucap Tang Su mengatur nafas berhenti di depan istana Wanzhou.
Setelah nafasnya tenang dia pun kembali berjalan memasuki istana.
“Siapa dan apa tujuanmu kemari ?”ucap seorang pengawal menghentikan Tang Su saat akan masuk ke dalam istana.
Pengawal mengizinkan gadis itu masuk setelah memeriksanya dan menyatakan identitasnya asli.
Tang Su masuk ke istana ke tempat di mana para tabib berkumpul mengikuti sayembara.
“Aku menduga sama sekali ternyata jumlah tabib yang mengikuti sayembara ini sekitar ratusan.”batin Tang Su setelah mengambil nomor peserta dan duduk menatap para tabib lainnya yang juga menunggu giliran.
Dua jam kemudian Kaisar Luoying memanggil namanya.
“Tabib Tang !”ucap Kaisar memanggil namanya.
Tang Su berdiri dan menatap sosok lelaki yang memanggilnya.
“Jadi dia adalah ayahku.”batin Tang Su menatap lama wajah sang kaisar yang baru dilihatnya.
__ADS_1
“Tabib Tang silakan masuk.”ucap Kaisar Luoying lagi memanggilnya karena gadis itu tak kunjung masuk ke kamar Selir Wan Rou.
“Oh... baik yang mulia, mohon maaf sebelumnya.”balas Tang Su tersadar dari lamunannya.
Ia pun segera masuk ke kamar Selir Wan Rou di ikuti Kaisar Luoying yang mengikutinya masuk.
Tang Su melihat seorang wanita terbaring di atas tempat tidur dengan kondisi yang lemah dan pucat.
“Kenapa kaisar ikut masuk juga ? Jika begini maka aku tak bisa mengobati ibuku.”batin Tang Su saat melihat sang kaisar berdiri di sampingnya.
“Yang mulia mohon maaf sebelumnya. Hamba mempunyai satu permintaan saat mengobati selir Wan Rou.”ucap Tang Su mengajukan syarat.
“Katakan tabib Tang !”jawab sang Kaisar.
“Yang Mulia Aku pengen saat mengobati Selir hanya ada aku dan beliau saja di sini. Apakah anda bisa memenuhi permintaanku ?”jawab Tang Su menjelaskan syaratnya.
Kaisar Luoying diam dan berpikir sejenak. Ia enggan menuruti permintaan tabib itu karena khawatir jika akan mencelakai istrinya.
“Yang Mulia ikuti saja perintah dari tabib Tang, mungkin saja metode pengobatannya rahasia.”ucap Selir Wan Rou sambil batuk.
“Tapi Selir Wan Rou...”ucap Kaisar yang sebenarnya ingin menolak saja namun akhirnya menyetujui permintaan sang Selir.
“Bai Yu aku juga keluar dari sini sekarang.”ucap Kaisar Luoying menatap pelayan kepercayaan sang sendiri yang setia menunggui istrinya.
“Baik yang mulia.”jawab Bai Yu singkat. Ia pun segera berjalan keluar mengikuti Kaisar.
“Tabib Tang sebenarnya apa maksudmu meminta yang mulia dan pelayanku pergi dari sini ?”ucap Selir Wan Rou saat mereka hanya berdua di kamar.
Tang Su duduk di dekat Selir Wan Rou. Ia kemudian membuka cadar yang menutupi wajahnya.
“Wu Shuang... putri ku Wu Shuang apa itu benar dirimu ?”ucap Selir Wan Rou terkejut sekali saat melihat wajah putrinya tersenyum setelah cadarnya terbuka.
Tang Su hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
“Ibu... ku mohon jangan berteriak. Aku tidak ingin ada yang mengetahui ini.”jawab Tang Su.
__ADS_1
Selir Wan Rou mengganggu dia pun duduk kemudian memeluk Tang Su. Wanita itu menitikkan air mata bahagia saat melihat putrinya masih hidup.
BERSAMBUNG....