Buku Keberuntungan

Buku Keberuntungan
Eps. 103 Kondisi Memburuk


__ADS_3

Beberapa hari setelah hukuman pancung di jatuhkan suasana istana yang sebelumnya mencekam dan ramai sekarang kembali sepi dan tenang.


Di suatu tempat terdengar gelak tawa riang menghiasi udara.


“Tinggal menghitung hari saja maka nasib Selir Wan Rou akan berakhir di neraka.”


“Ya ibu...ibu berhasil menyingkirkan Wu Shuang dan sekarang berhasil menyingkirkan Selir Wan Rou.”balas putri Shen Bailian duduk di samping ibunya di sebuah taman tertutup.


“Tapi ibu... jika sebentar lagi nyawa selir Wan Rou ada di ujung tanduk, maka bagaimana dengan nasib ayah ?”ujar sang Putri teringat pada kondisi Kaisar Luoying.


Permaisuri Shen Shanyu seketika tersandar jika nyawa sang Kaisar kini juga sedang kritis.


“Ya benar... apa yang harus kulakukan ?”balas permaisuri bingung dan merasa bersalah atas hal itu.


“Bukankah setiap racun ada penawarnya ? Maka tinggal diperbolehkan penawarnya saja pada Ayah.”jawab Putri dengan enteng sambil tersenyum lebar.


Sedangkan racun naga api sudah banyak di ketahui jika sangat sulit untuk mendapatkan penawarnya. Bahkan mungkin hanya tapi bertangan ajaib saja yang bisa menghilangkan racun itu.


“Putri ku... dimana aku bisa menemukan tabib yang bisa menyelamatkan kaisar Luoying ?”balas Permaisuri terlihat putus asa.


“Ibu... jangan pesimis seperti itu. Pasti ada seorang tabib yang akan bisa menghilangkan racun itu.”balas Putri Shen Bailian membesarkan hati ibunya agar tak putus asa dan yakin jika Kaisar Luoying bisa selamat.


Di maison air biru. Terlihat Selir Wan Rou duduk di dekat sebuah kebun bersama Bai Yu yang senantiasa menemaninya kemanapun dia pergi.


“uhuk... uhuk... uhuk...”Selir Wan Rou batuk saat merasakan angin berhembus meskipun kecil. Seketika tubuhnya menjadi sedingin es.


“Bai Yu antarkan aku kembali ke kamarku dan buatkan aku minuman hangat.”ucap Selir Wan Rou dengan tokoh yang gemetar dan wajahnya berubah menjadi pucat.


“Selir apakah anda baik-baik saja ?”balas Bai Yu khawatir melihat kondisi sang selir. Dia pun segera menghampiri Selir Wan Rou dan membantunya berdiri. Pelayan itu terus memegang tangan sang selir hingga sampai ke kamarnya.


Bai Yu membuatkan minuman hangat untuk Selir Wan Rou dan segera meminumkan ramuan dari tabib Suo Chen. Selang beberapa saat kemudian setelah meminum ramuan obat, kondisi sang selir berangsur-angsur membaik.


“Bagaimana keadaan yang mulia sekarang ?”ucap Selir Wan Rou bertanya pada Bai Yu.

__ADS_1


“Selir tenang saja dan tak usah mencemaskan keadaan yang mulia, ada tabib Suo Chen yang sedia setiap saat dan senantiasa menemani yang mulia.”jawab pelayan itu agar sang selir tidak khawatir dan lebih fokus pada pengobatannya sendiri.


Di tempat lain Kaisar Luoying berada di ruang makan bersama dengan Permaisuri Shen. Di tengah makan Kaisar Luoying berhenti makan karena merasa suhu di ruangan panas.


“uhuk... uhuk...”Kaisar Luoying merasa seluruh tubuhnya panas terbakar dan dia terus berkeringat.


“Oh Yang Mulia...”pekik sang permaisuri nampak terkejut melihat tangan yang mulia terdapat darah.


“Cepat panggilkan tabib Suo Chen !”ucap sang permaisuri memberi perintah pada pelayan yang ada di ruang makan.


“Baik Permaisuri !”jawab pelayan tadi kemudian segera keluar dari ruangan dan memanggil tabib Suo Chen.


Beberapa pelayan yang ada di sana lalu membawa Kaisar Luoying ke sebuah kamar. Tak lama setelahnya tabib Suo Chen datang.


“Yang Mulia minumlah ramuan ini dulu.”ucap tabib Suo Chen memberikan ramuan pada Kaisar Luoying.


Setelah meminum ramuan itu kondisi Kaisar berangsur-angsur membaik. Tabib Suo Chen kemudian berjalan keluar, namun permaisuri menghentikannya.


“Tabib Suo Chen apakah yang mulia bisa diselamatkan ?”ucap wanita itu terlihat benar-benar panik.


Beberapa hari berlalu kondisi Kaisar dan Selir Wan Rou semakin hari semakin menurun. Tak hanya tabib Shuo Tang saja ya angkat tangan mengobati racun itu namun pihak istana juga memanggil beberapa tabib lainnya untuk mengobati yang mulia namun semuanya berakhir dengan kegagalan.


Di lain tempat di kota Xinghua terlihat Tang Su yang berada di tempat praktek pengobatannya.


“Oh... pasien yang datang dari tadi tak ada hentinya.”batin Tang Su menatap ke pintu dan melihat yang lain masuk, saat pasien yang lain keluar.


Tang Su beberapa kali menarik nafas dalam dalam sekedar untuk mengisi rongga paru-parunya.


Hingga sore berlalu barulah tempat prakteknya itu sepi.


“Fyuh... aku akan menutupnya sekarang daripada ada pasien lain yang datang ke sini.”batin Tang Su.


Tang Su kembali dulu dengan bersandar setelah menutup pintu.

__ADS_1


“croot...”kotoran dari di langit-langit di atas Tang Su jatuh ke bahunya.


“Uh... apa ini !”pekik Tang Su menatap bahunya lalu menatap ke atas dan terdapat seekor cicak yang kembali mengeluarkan kotoran.


“Sialan !!!”umpat Tang Su kesal lalu segera membersihkan kotoran cicak di bahunya.


“Kotoran cicak pertanda buruk. Ada apa ya ?”batinnya berpikir dan tiba-tiba dia teringat pada sosok Selir Wan Rou.


Tang Su jadi memikirkan ibunya. Kenapa wanita itu sekarang tak pernah datang menengoknya padahal biasanya sang selir dua minggu atau sebulan sekali selalu datang berkunjung ke tempatnya sketsa untuk membawakan kue kesukaannya atau hanya bicara dengannya saja.


“Ada apa dengan ibu ya, apa sesuatu terjadi padanya ?”gumam Tang Su tiba-tiba merasa cemas tanpa sebab dan perasaannya tak enak.


“Mungkin lain waktu aku akan mencoba berkunjung ke istana Wanzhou untuk melihat kondisinya.”gumam Tang Su yang masih merasa khawatir tanpa sebab.


Malam hari di maison air biru.


Selir Wan Rou duduk di tempat tidur. Di depannya ada Bai Yu yang sedang merebus obat dari tabib Suo Chen.


“Selir Wan Rou minumlah ramuan ini selagi hangat.”ucap Bai Yu menyerahkan satu mangkok kecil obat pada sang selir.


“gleg...gleg...”Selir Wan Rou menerima ramuan itu dan segera meminum nya.


“puff....!”Selir Wan Rou seketika memuntahkan obat yang barusan diminumnya karena merasa tubuhnya panas terbakar saat meminumnya.


“Selir apa anda baik-baik saja ?”ucap Bai Yu terkejut sekaligus khawatir dengan kondisi selir Wan Rou.


Pelayan itu kemudian meminta sang selir untuk beristirahat dan dia akan membuatkan ramuan baru untuknya.


“Uhuk... uhuk... Bai Yu tak perlu membuatkan obat untukku lagi karena sepertinya tubuhku tak bisa menerima obat itu lagi.”ucap Selir Wan Rou melarang pelayannya membuatkan obat baru untuknya.


“Tapi selir...”balas Bai Yu masakan menolak perintah dari majikannya.


“Ku rasa aku hanya butuh istirahat saja dan akan baik-baik saja nanti. Seandainya saja aku bisa bertemu Wu Shuang saat ini.”balas Selir menatap Bai Yu dengan lemas dan pelayan itu menyelimuti itu agar tidak kedinginan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2