
Melihat Selir Wan Rou yang tak sadarkan diri. Kaisar Luoying segera menghampirinya.
“Sayang bangunlah... selir Wan Rou bangun lah.”ucap kaisar Luoying mencoba menyadarkan sel telur namun tak ada reaksi. Ia pun segera membopong tubuhnya.
“Pelayan cepat panggilkan tabib istana ke sini!”ucap kaisar panik dan memberikan perintah pada pelayanan yang ada di dekatnya.
“Baik yang mulia.”jawab seorang pelayan istana yang segera berlari keluar dari ruangan dan memanggil tabib kerajaan.
Beberapa saat kemudian datanglah seorang tabib istana langsung menghadap kaisar.
“Salam yang mulia.”ucap tabib Suo Chen menghadap Kaisar dan memberi salam hormat padanya.
“Buang formalitas itu saat ini dan segera tangani selir Wan Rou.”jawab kaisar Luoying yang masih memangku tubuh Selir Wna Rou.
“Pelayan bawa tubuh selir Wan Rou ke kamarnya!”ucap Kaisar Luoying pada pelayan lainnya agar tabib Suo Chen mudah dalam memeriksa selir Wan Rou.
Beberapa pelayan membawa tubuh Selir Wan Rou ke kamarnya dan membaringkan nya di tempat tidur dan tidur.
Tabib Suo Chen bersama kaisar Luoying masuk ke kamar Selir Wan Rou.
“Cepat periksa kondisi selir Wan Rou tabib Chen !”perintah kaisar Luoying yang terlihat menyemaskan kondisi sang selir.
Tabib Suo Chen segera memeriksa selir Wan Rou. Ia memeriksa denyut nadinya.
“Yang mulia selir, Wan Rou hanya mengalami syok berat, namun kondisinya baik-baik saja dan nanti selir Wan Rou akan segera sadar.
“Berikan obat untuk Selir Wan Rou sekarang.”ucap kaisar Luoying yang masih mengkhawatirkan kondisi selir kesayangan nya.
Sebenarnya Selir Wan Rou tidak memerlukan obat karena hanya pingsan saja dan nanti akan sadar sendiri. Namun karena perintah Kaisar adalah dan negara mendapatkan hukuman apabila melanggar dia pun tak berani menolaknya.
Tabib Suo Chen meracik ramuan untuk menghangatkan tubuh Selir Wan Rou saja dan segera meminumkan nya pengen dibantu oleh pelayan pribadi selir, Bai Yu.
__ADS_1
Setelah meminumkan obat dan menyatakan kondisi selir Wan Rou baik-baik saja, tabib Chen menuliskan resep untuk Selir dan memberikannya pada Bai Yu apabila selir masih belum sadar juga dalam waktu enam puluh menit dari sekarang. Ia pun meminta izin pada kaisar Luoying untuk meninggalkan ruangan Selir Wan Rou.
Kaisar Luoying masih duduk di samping Selir Wan Rou dan memegang tangannya, membuat Bai Yu menunggu di luar kamar karena tak ingin menganggu private time kaisar.
“Kaisar Luoying benar-benar khawatir pada Selir Wan Rou.”batin Bai Yu saat menutup pintu dan melihat kaisar yang terlihat sedih menatap selir.
“Selir Wan Rou... aku tahu kau terpukul dengan kabar itu. Tak hanya diri mu yang terpukul mendengar kabar Putri Wu Shuang meninggal, aku juga lebih terpukul dari mu. Tapi mau gimana lagi...”ucap kaisar Luoying menggenggam tangan Selir Wan Rou dan menciumnya.
“Apa... Putri Wu Shuang meninggal ? Itu tidak mungkin, pasti tidak benar apa yang di ucapkan oleh yang mulia.”batin Bai Yu terkejut dan terpukul mendengar apa yang di ucapkan oleh kaisar dari luar ruangan.
Dua puluh menit kemudian kaisar Luoying berdiri dan meninggalkan Selir Wan Rou karena ia ada jadwal pertemuan dengan perdana menteri.
“Sayang cepatlah sadar. Aku pergi dulu. Ada sesuatu yang harus ku urusi.”ucap kaisar Luoying kemudian mencium kening Selir Wan Rou lalu berjalan keluar.
“Bai Yu jika satu jam ke depan Selir Wan Rou belum sadarkan diri juga, beritahukan hal itu pada ku.”ucap Kaisar Luoying berpesan pada pelayan pribadi Selir Wan Rou.
“Baik Yang Mulia.”jawab Bai Yu sambil memberi hormat pada kaisar Luoying.
“Selir Wan Rou... akhirnya anda sadar juga.”ucap Bai Yu segera menghampiri sang selir.
Selir Wan Rou duduk dan menatap Bai Yu sambil menitikkan air mata.
“Bai Yu.... Putri Wu Shuang... aku tak percaya gadis itu sudah meninggal.”ucap sang selir dengan wajah sendu karena putri semata wayang nya sudah pergi mendahului dirinya.
“Selir Wan Rou... semoga anda bisa berbesar hati dan menerima kepergian sang putri dengan tenang.”balas Bai Yu dengan wajah yang sedih dan terlihat ikut kehilangan.
“Aku yakin putri ku masih hidup Bai Yu.”jawab Selir Wan Rou berisi keras dan tetap tidak mau mengakui jika Putri Wu Shuang sudah meninggal.
Kabar tentang meninggalnya Putri Wu Shuang pun akhirnya menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru istana dan membuat semua penghuni istana mengetahuinya.
Kabar itu pun terdengar oleh Putri Shen Bailian yang sedang ada di di taman bunga bersama Putri Shi Chunyang, yang merupakan putri dari selir ke tiga.
__ADS_1
Dua putri itu sedang berlatih memetik harpa sambil melihat pemandangan bunga-bunga indah bermekaran di depan mereka.
“Putri Bailian, sudah lama aku tidak melihat kakak Wu Shuang.”ucap Putri Shi Chunyang menghentikan bermain harpa sebentar dan menatap Putri Shen Bailian.
“Kaisar memberinya misi ke kota lain Lianzhi beberapa waktu yang lalu adik, tapi aku tidak tahu juga kenapa dia belum kembali.”jawab Putri Shen Bailian sambil pura-pura tersenyum manis di depannya.
“Semoga saja kau kembali ke istana ini dua atau tiga bulan lagi. Jika perlu kau tak usah kembali sekalian Putri Wu Shuang.”batinnya merasa senang.
Seorang pelayan tiba-tiba datang dan menyampaikan kabar buruk untuk mereka.
“Tuan putri ada kabar buruk.”ucap seorang pelayan menghampiri Putri Shi Chunyang.
“Kabar apa ? Beritahukan pelan-pelan pada kami.”balas Putri Shi Chunyang.
“Tuan putri ada kabar tentang Putri Wu Shuang dan di kabarkan sang putri meninggal.”jawab pelayan tadi menyampaikan.
“Apa benar yang kau bilang itu ?”tanya Putri Shen Bailian antusias mendengar kabar duka itu.
Sang pelayan kembali mengangguk yang membuat Putri Shi Chunyang syok berat mendengarnya.
“Bagus sekali putri Wu Shuang jika kau pergi meninggalkan dunia ini selama-lamanya tak akan ada lagi yang menjadi bayangan ku.”batin Putri Shen Bailian merasa senang sekali dan tersenyum dalam hati.
Satu hari berlalu. Selir Wan Rou yang masih berduka atas kepergian putrinya mengurung diri di kamar dan hanyut dalam kesedihannya.
Tiba-tiba seekor merpati kipas masuk ke kamarnya saat ia membuka jendela kamarnya.
“Ini kan merpati milik Putri Wu Shuang. Kenapa dia ada di sini ?”batin Selir Wan Rou saat melihat merpati putih itu ada di atas meja.
“Benar juga... mungkin saja aku bisa mengirim surat untuk putri ku. Jika dia membawa balasannya berarti Putri Wu Shuang memang masih hidup.
Selir Wan Rou mengambil kertas dan pena lalu mulai menulis sesuatu dan menggulung nya lalu memberikan surat itu pada bul-bul.
__ADS_1
BERSAMBUNG....