
Tang Su masuk dalam putaran waktu dan tak lama setelahnya ia masuk ke dunia buku novel yang di bacanya.
Dia membuka matanya dan menoleh ke sekitar ada kakek Jiu yang sedang menunggunya.
“Nona kau sudah sadar ? Kau membuat kami mencemaskan mu.”ucap Kakek Jiu saat melihat Tang Su duduk.
“Kakek... berapa lama aku tak sadarkan diri ?”ucap Tang Su.
“Dua hari nona. Apa yang terjadi pada mu sampai tak sadarkan diri begitu ?”jawab kakek Jiu.
Tang Su terlihat gugup dan mencari alasan yang tepat.
“Emm.... sebenarnya aku mencoba mengobati insomnia tapi mungkin salah titik kakek.”jawab Tang Su setelah menemukan alasan yang tepat.
Untung saja kakek Jiu percaya pada ucapannya dan sama sekali tidak curiga padanya.
“Jika seperti itu masalahnya kenapa tidak mencari kakek saja maka aku akan membantu mu, nona.”ucap Kakek Jiu menawarkan diri.
“Terima kasih kakek, aku takut merepotkan kakek. Lain waktu aku akan mencari kakek jika menemui kesulitan.”jawab Tang Su tersenyum lega.
Lin Fan yang sedari tadi diam ikut tersenyum setelah Tang Su sadar.
“Apa kakak tidak apa-apa sekarang ?”tanya anak itu.
Tang Su mengangguk dan segera turun dari tempat tidur. Ia kemudian keluar rumah bersama Lin Fan ikut menjemur akar obat yang masih basah.
Di lain tempat, di istana Wanzhou Kaisar Luoying mengadakan peringatan hari kematian besar-besaran untuk Putri Wu Shuang selama tiga hari.
Dua hari sebelumnya upacara di istana berlangsung dengan lancar dan di ikuti oleh warga umum di luar istana.
Sedangkan hari ini adalah hari ketiga upacara kematian sang putri yang hanya di hadiri oleh anggota keluarga istana saja.
Tampak di altar Selir Wan Rou dan Kaisar Luoying membawa sebotol guci yang mereka anggap sebagai jenazah sang putri yang sudah di kremasi.
“Putri ku Wu Shuang... kau masih muda sekali namun kau meninggalkan ibu lebih dulu. Seandainya waktu bisa di putar, lebih baik ibu yang menggantikan diri mu.”ucap Selir Wan Rou terisak saat memegang guci pengganti jenazah sang putri dan menaruhnya ke meja altar.
Semua anggota keluarga istana hadir, termasuk Permaisuri Shen dan Putri Shen Bailian. Mereka hanya tertunduk dalam diam dan memasang wajah sedih mereka meski dalam hati mereka tertawa bahagia.
__ADS_1
Selir Wan Rou memberikan penghormatan terakhir dengan dupa yang sudah di bakarnya lalu menancapkan nya di depan guci jenazah Putri Wu Shuang.
“Bai Yu cepat kemari !”panggil Kaisar Luoying memanggil pelayan sang selir dan memintanya untuk segera membawa Selir Wan Rou ke kamarnya agar tidak terus larut dalam kesedihan.
“Selir Wan Rou... acara sudah selesai. Ayo kita kembali ke masion Air Biru.”ucap Bai Yu di saat satu per satu anggota kerajaan keluar dari altar.
“Tidak Bai Yu... aku mau di sini dulu.”jawab Selir Wan Rou menolak dan bersikeras ingin tetap berada di sana.
Bai Yu berusaha keras mengajak selir Wan Rou kembali ke maison, namun tetap saja wanita itu menolaknya.
“Putri ku Wu Shuang... ibu tidak percaya kau sudah mati. Kembalilah dan tunjukkan pada ibu jika kau masih hidup.”ucap Selir Wan Rou sambil mendekap foto sang putri.
Bai Yu pun akhirnya terpaksa ikut duduk di samping Selir Wan Rou untuk menemaninya.
Dua jam berikutnya saat mata selir Wan Rou sudah bengkak, ia pun berhenti menangis karena merasa air matanya sudah kering.
“Selir Wan Rou ayo kita kembali.”ucap Bai Yu membujuk sang selir lagi.
Kali ini Selir Wan Rou setuju dan dia berdiri lalu Bai Yu berjalan dengan memapah sang selir kembali ke maison bulan sabit.
“Bai Yu aku lelah.”ucap Selir Wan Rou saat duduk di kursi.
Selir Wan Rou membuka laci dan mengeluarkan surat balasan dari Tang Su.
“Putri ku... aku yakin kau masih hidup meski semua orang menyatakan kau sudah mati, termasuk ayah mu.”gumam Selir Wan Rou sambil membaca kembali surat dari Tang Su.
Di lain tempat kakek Jiu pergi seorang diri ke pusat herba Ling Yu setelah melihat beberapa bahan untuk membuat obatnya habis.
“tap...tap...tap...”Kakek Jiu berjalan keluar rumah. Di luar dia melihat Tang Su dan Lin Fan yang masih sibuk menjemur akar basah.
Ia berhenti di belakang mereka berdua.
“Sebaiknya aku pergi sendiri karena mereka berdua masih sibuk jika aku mengajaknya.”batin kakek Jiu tak mau menganggu aktivitas mereka.
“Lin Fan, nona Tang Su kakek mau pergi dulu sebentar.”ucapnya.
“Ya kakek.”jawab Tang Su dan Lin Fan bersamaan.
__ADS_1
Kakek Jiu kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua menuju ke pusat herba dengan berjalan kaki.
Tak Berapa lama kemudian dia tiba di sana.
“Ginseng ku habis.”gumam Kakek Jiu mengingat kembali bahan apa yang habis di rumahnya.
Ia kemudian menuju ke penjual ginseng langganan nya.
“Tuan mau ambil berapa ginseng ?”tanya penjual ginseng.
“Seperti biasanya saja.”jawab Kakek Jiu.
Sambil menunggu sang penjual mengambilkan ginseng untuknya, ia pun melihat-lihat bahan lain. Saat ia melihat ke arah dinding, matanya terpaku ke sana melihat sebuah lukisan seorang putri.
“Lukisan gadis di foto ini mirip dengan nona Tang Su.”gumamnya memperhatikan lukisan itu dengan teliti.
Ia pun menghampiri penjual ginseng yang masih menimbang ginseng pesanan nya.
“Tuan siapa gadis yang ada di lukisan yang terpasang di dinding itu ?”tanya Kakek Jiu sambil menunjuk lukisan tadi.
“Itu lukisan Putri Wu Shuang, seorang putri dari kerajaan Wanzhou. Mereka mencari sang putri hingga ke sini.”jawab sang penjual ginseng.
Penjual ginseng selesai menimbang ginseng pesanan kakek Jiu dan segera menyerahkannya.
“Terima kasih.”ucap Kakek Jiu saat menerimanya lalu menyerahkan beberapa tael pada penjual ginseng tadi.
Kakek Jiu pergi ke toko lain untuk membeli beberapa bahan lainnya. Setelah semua bahan terbeli, ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah.
Di tengah jalan pikirannya masih terpaku pada lukisan sang putri yang hilang.
“Apa nona Tang Su sebenarnya adalah Putri Wu Shuang yang di cari ?”batin Kakek Jiu karena mereka berdua benar-benar mirip.
“Tapi kenapa dia bilang namanya nona Tang Su bukannya Putri Wu Shuang ?”batin kakek Jiu lagi berpikir dan merasa ada yang aneh di sana.
Kakek Jiu mempercepat langkahnya agar segera sampai di rumah.
“Aku akan menanyakannya langsung pada nona Tang Su nanti.”gumam Kakek Jiu yang semakin penasaran.
__ADS_1
Sementara Tang Su dan Lin Fan saat ini sedang membalik akar basah yang mereka jemur sambil bercanda.
BERSAMBUNG....