Buku Keberuntungan

Buku Keberuntungan
Eps. 110 Dendam


__ADS_3

Di luar istana di mana pertarungan sedang berlangsung, terlihat setelah beberapa kali serangan pasukan tentara dari pihak istana Wanzhou unggul meskipun jumlah mereka sedikit.


Selama pertempuran tak terelakkan lagi kedua pasukan mendapat luka.


Jenderal Hei Ho yang memimpin pasukan perangnya menatap para pasukan yang di bawanya.


“Para pasukan ku sekalian aku perintahkan pada kalian semua untuk mundur sekarang !”ucap Jenderal itu memberi perintah setelah melihat kondisi pasukannya yang terluka.


Beberapa saat kemudian Pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Hei Ho segera mundur dari pertempuran yang sedang berlangsung.


“clop... clop... clop...”ratusan kuda yang ditunggangi oleh pasukan dari istana Pingxuo meninggalkan istana Wanzhou dengan cepat.


“Tahan serangan kalian semua ! pasukan mereka sudah kalah jadi tak perlu mengejar mereka.”ucap Jenderal Xuan melarang beberapa pasukannya yang terlihat akan menarik busur panah mereka ke arah pasukan Jenderal Hei Ho.


Pasukan Jenderal Xuan menahan serangan mereka bahkan mereka pun segera kembali ke istana selama mendapatkan perintah dari sang jenderal untuk bubar.


“Untunglah pasukan kita menang. Jika tidak maka akan menambah masalah lagi.”ucap Jenderal Xuan lirih saat kembali masuk ke istana dan melaporkan kejadian terakhir pada Kaisar Luoying.


Di istana Pingxuo, Putri Meilin tiba terlebih dulu daripada pasukan Jenderal Hei Ho.


“Putri ku kau sudah kembali, nak.”ucap kaisar dan permaisuri melihat sang putri masuk menemui mereka.


“Ayah... ibu... aku takut...”ucap sang putri memeluk kaisar dan permaisuri dengan masih sedikit gemetar.


“Putri ku apa mereka menyakitimu ?”tanya kaisar melihat beberapa goresan di tubuh putrinya.


Putri Meilin hanya diam tak menjawab dan kedua orang tuanya dengan erat.


“Kaisar Luoying... jika putriku sampai trauma karena diri mu, maka jangan salahkan aku jika aku akan bertindak tegas pada mu.”ucap Kaisar Feng Lin terlihat marah.

__ADS_1


Tak lama kemudian Jenderal Hei Ho tiba bersama pasukannya ke istana.


“Lapor Kaisar Feng Lin. Sebelumnya kami sudah menjalankan perintah dari yang mulia untuk melakukan penyerangan pada istana Wanzhou. Namun kami meminta maaf yang sebesar-besarnya karena masukkan kami kalah.”ucap jenderal menyampaikan sambil berlutut bersiap untuk menerima amarah beserta hukuman yang akan diterimanya.


“Berdirilah Jenderal Hei Ho. Kau sudah menjalankan tugas dari ku degan baik. Tunggu saja beberapa waktu lagi aku akan membalas kekalahan kita kali ini.”jawab Kaisar Feng Lin memberi perintah.


“Terima kasih yang mulia.”jawab Jenderal Hei Ho berdiri dan merasa lega karena dirinya tak mendapatkan hukuman.


Beberapa hari setelah insiden pertikaian kecil terjadi di antara istana Wanzhou dan istana Pingxuo, gambarnya itu tersebar hingga ke seluruh pelosok penjuru dan banyak warga dari luar daerah mengetahui kabar tersebut.


Suatu siang Tang Su sedang berjalan seorang diri menuju ke pusat perbelanjaan yang ada di kota Xinghua untuk membeli beberapa ramuan obat yang habis.


Di tengah jalan gadis itu berpapasan dengan pejalan kaki lainnya yang sedang mengobrol.


“Kau sudah dengar gambar tentang peperangan kecil yang terjadi antara istana Wanzhou dan istana Pingxuo beberapa waktu lalu karena salah menangkap Putri Meilin yang mereka curigai sebagai penyusup ?”ucap seorang lelaki


“Aku tak menyangka kaisar dari istana Pingxuo mengibarkan bendera perang atau lebih dulu hanya karena masalah kecil dan pihak dari istana Wanzhou sudah meminta maaf terlebih dulu.”balas lelaki lain yang berjalan di sampingnya.


“Aduuuh... bagaimana bisa aku seceroboh itu dan membuat mereka terlibat masalah karena diriku.”gumam Tang Su setelah mendengar informasi barusan.


Gadis itu terus berjalan dan masih terpikirkan pada Putri Meilin.


“Mungkin lain waktu aku akan menemuinya untuk membicarakan hal itu.”ucap Tang Su lirih sambil masuk ke sebuah toko ramuan obat.


Di sana ia mencari dan mengambil beberapa bahan ramuan obat yang diperlukannya untuk membuat dan pil.


“Oh ya... aku harus segera menyembuhkan dan merawat Selir Wan Rou dan juga Kaisar Luoying.”gumamnya tiba-tiba teringat pada kesehatan kedua orang tuanya.


Dia pun kemudian mencari Lotus Saviera di sana sebagai penangkal racunnya namun sayang dia tidak menemukan obat itu di toko tadi.

__ADS_1


“Mungkin di toko ini sedang kehabisan bahan obat itu. Dan mungkin saja di toko bahan obat lainnya tersedia.”batin Tang Su setelah beberapa saat mencarinya.


Setelah menyerahkan beberapa bahan obat yang dibelinya dan membayarnya dia pun masuk ke toko bahan obat lainnya yang ada di sana. Tang Su kembali mencari bahan obat untuk merawat ibu dan ayahnya di sana, namun dia kembali tidak menemukannya.


“Di toko bahan obat ini juga tidak ada, mungkin ada di toko obat lainnya.”batin Tang Su lagi merasa kecewa kemudian keluar dari toko dan masuk ke toko obat-obat lainnya.


Setelah keluar masuk beberapa toko obat, ternyata dia pun masih belum menemukan juga herba sansiviera lotus yang dicarinya. Hingga di toko terakhir yang dia kunjungi, dia pun mencoba menanyakan hal itu pada pemilik toko.


“Tuan maaf... kenapa di sini tidak tersedia herba sansiviera lotus ?”tanya Tang Su ingin mengetahui jika saja bahan itu memang ada dan stok sedang habis.


“Oh nona... maaf kami tidak menjual ramuan obat langka itu. Bahan itu tidak dijual bebas di toko.”ucap pemilik toko menjelaskan.


“Tidak dijual bebas ? Lalu di mana aku bisa mendapatkannya, tuan ?”tanya Tang Su lagi dengan penasaran.


Penjual itu akhirnya menjelaskan pada Tang Su jika herba jenis itu merupakan bahan obat yang sangat langka dan susah didapat dan hanya terdapat di danau Maoshan.


“Terima kasih tuan atas informasinya.”jawab Tang Su tersenyum lebar setelah mendapatkan informasi itu.


Gadis itu berjalan keluar dari toko obat dan kembali menuju ke rumahnya.


“Dimana danau Maoshan itu... ?”gumam Tang Su berpikir sambil berjalan.


“Mungkin sebaiknya aku bertanya pada seseorang yang lebih mengetahuinya.”batinnya lagi karena sama sekali tak pernah mendengar nama tempat itu.


Keesokan harinya di tempat praktek pengobatannya. Terlihat Tang Su sedang mengobati pasiennya.


“Tuan apa anda tahu di mana letak Danau Maoshan itu ?”tanya Tang Su di tengah-tengah kesibukannya mengobati pasien.


“Tabib Tang tempat itu hanya ada dalam legenda karena susah sekali di jangkau dan letaknya yang sangat jauh di kota Ming. Banyak yang mendatangi tempat itu dan mencari herba itu namun banyak juga dari mereka yang tak pernah kembali dari sana.”jawab seorang pasien lelaki menjelaskan tempat itu secara panjang lebar.

__ADS_1


Tang Su berterima kasih pada pasien yang telah memberitahunya tentang keberadaan danau Maoshan. Dia tersenyum karena masih ada harapan untuk menyelamatkan kedua orang tuanya meskipun dia sendiri belum tahu bisa menemukan tempat itu atau tidak.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2