
Tang Su menangani semua pasiennya yang ada di tempat praktek. Tempat prakteknya masih terlihat penuh pasien hingga menjelang sore hari.
Namun para pasien masih bersabar menunggu antrian sampai mereka diperiksa.
Tang Su sedang menangani seorang pasien anak kecil yang kejang karena demam tinggi.
“Tenang nyonya jangan tegang. Putra nyonya akan baik-baik saja setelah ini.”ucap Tang Su mencoba menenangkan ibu dari anak kecil tadi yang menangis dan cemas berlebihan.
Tang Su mencabut jarum peraknya dari tubuh sang anak kecil dan seketika tubuh anak tadi kembali normal dan sudah tidak kejang lagi.
“Ibu.... kenapa ibu menangis ?”ucap anak tadi menatap ibunya.
“Oh sayang... syukurlah kau sudah baikan. Ibu merasa lega.”jawab sang Ibu menghapus air matanya dengan tersenyum lalu segera memeluk putranya.
Ia pun menetap ke arah Tan Su sambil tersenyum kecil.
“Nona terima kasih banyak sudah menolong putraku.”ucap sang Ibu berterima kasih dan Tang Su hanya membalasnya dengan mengangguk dan tersenyum.
“Fyuh... rasanya lelah juga dari tadi melakukan pengobatan tanpa beristirahat.”batin Tang Su duduk sejenak untuk menarik nafas dalam darah sekedar untuk merilekskan seluruh otot yang tegang.
Ia melihat ke depan dan masih ada beberapa pasien lagi yang harus ia tangani. Sementara di luar animo warga sekitar semakin meningkat.
“Wah dari luar penginapan ada banyak orang berjalan ke arah sini sepertinya mereka akan menuju ke sini.”batin Tang Su saat memperhatikan ke arah luar jalanan.
“Jika kasihan terus bertambah maka bisa dipastikan tempat praktek ini akan tetap malam hari. Aku ingin beristirahat setelah ini.”batin Tang Su lagi.
Ia pun berdiri dari tempat duduk lalu berjalan keluar tempat praktek. Di luar sana masih banyak pasien yang menunggu antrian panjang.
“Tuan dan nyonya sekalian Mohon maaf untuk kali ini season pengobatan sudah tutup karena sudah sore.”ucap Tang Su menyampaikan Pengumuman pada pasien yang masih menunggu agar tidak menunggu lama ataupun kecewa.
“Yaah... sayang sekali padahal aku belum mencobanya. Sedangkan besok sudah tidak gratis lagi.” ucap seolah lagi merasa kecewa dengan pengumuman yang barusan dilontarkan oleh Tang Su.
“Ya sudah mau bagaimana lagi ayo kita pulang.”ucap pasien lain yang juga kecewa dan tak bisa melakukan apapun.
Dalam sekejap para pasien yang masih berjubel di depan tempat praktek segala keluar dari sana dan Tang Su menutup pintu tempat praktek separuh agar tidak ada lagi pasien yang datang.
“Baiklah hanya tinggal sepuluh orang saja dan ini tentunya tak akan lama.”batin Tang Su kembali masuk ke tempat praktek lalu menangani sisa pasien yang ada di sana.
__ADS_1
Lima puluh menit kemudian semua pa sien yang ada di sana sudah selesai dia tangani.
“Nona terima kasih sudah membantu kami.”ucap para pasien yang sudah selesai diobati secara bersamaan.
“Sama-sama semoga kalian sehat selalu tuan dan nyonya.”jawab Tang Su sambil tersenyum lebar.
Para pasien tadi kemudian keluar dari tempat praktek. Sementara Tang Su segera menutup tempat prakteknya.
Ia pun duduk sejenak di salah satu kursi.
“Aah... aku lelah sekali.”gumamnya lalu menyadarkan baunya ke dinding.
Sepuluh menit kemudian dia keluar dari tempat prakteknya dan masuk ke kamarnya.
“bugh..... !”Tang Su melempar tubuhnya ke atas kasur untuk beristirahat sebentar.
Tak lama kemudian gadis itu bangun dari tidurnya. Dia melihat kesakitan mengira hari sudah malam karena merasa tertidur pulas.
“Ternyata masih sore rupanya.”ucap Tang Su saat melihat ke arah luar.
Tang Su duduk dan berpikir sejenak setelah menutup tempat praktek yang ramai hari ini.
Tang Su kembali teringat pada apa yang diajarkan oleh kakek Jiu padanya tentang membuat obat. Dia memang belum menguasai hal itu sama sekali. Dan menurutnya akan lebih baik jika dia bisa membuat ramuan obat sendiri karena penggunaan tusuk jarum perak saja tidak cukup untuk beberapa masalah penyakit yang kronis.
“Apa aku coba membeli beberapa buku tentang cara meramu obat saja ?”gumam Tang Su yang ingin menambah kemampuannya.
Tang Su mandi dan berganti baju kemudian keluar dari penginapan menuju ke pusat perbelanjaan untuk mencari buku cara meramu obat yang dia cari.
“Dimana aku bisa menemukan penjual buku di sini ?”ucap Tang Su telah tiba di pusat perbelanjaan kota.
Di sepanjang jalan terdapat berbagai macam penjual yang menjual berbagai macam barang dagangan, namun Tang Su belum menemukan penjual buku.
Dia pun terus berjalan hingga menemukan seorang penjual panci alkimia.
“Tuan apa Tuhan menjual buku tentang cara meracik obat ?”tanya Tang Su pada pemilik toko.
“Maaf nona, kami hanya menyuap panjang kimia saja untuk buku mengenai meracik obat nona bisa mencarinya di sebelah sana.”jawab pemilik toko tadi menunjukkan toko yang menjual berbagai macam buku tentang pengobatan.
__ADS_1
Tang Su kemudian menuju ke toko yang ditunjukkan oleh penjual tadi. Benar saja di sana banyak sekali buku tentang pengobatan.
Tang Su mencari dan memilih beberapa buku yang menarik.
Di lain tempat di istana Changle yang berada di kota Xizuang di pagi hari. Kota Xizuang berada jauh dari kota Liang. Berita duka mengenai kematian Putri Wu Shuang baru diketahui oleh pihak istana.
Kaisar Chun Jun memanggil pangeran mahkota dan ingin menyampaikan sesuatu padanya.
“Pangeran Shen Qiu aku terus saya mendapatkan berita kematian tentang Putri Wu Shuang. Maukah kau mewakili ayah ke sana untuk berkabung ?”tanya Kaisar Chun Jun.
Pangeran Shen Qiu diam dan belum menjawabnya. Sebelumnya kaisar Chun Jun menjodohkan Putri Wu Shuang dengan pangeran mahkota Shen Qiu. Namun pangeran menolaknya karena ia ingin mencari sendiri pasangan hidupnya atas dasar cinta.
Selama ini Pangeran mahkota sama sekali belum melihat sosok sang putri karena belum pernah bertemu dengannya sekalipun.
“Aku tidak tahu apa aku harus menerima permintaan ayahanda atau tidak. Kenapa tidak ayah sendiri saja yang datang ke sana ?”batin Pangeran mahkota.
“Tolong pangeran mahkota sekali ini saja wakili ayah.”ucap kaisar sebelum putranya menolak karena dia bisa melihat jika sang pangeran enggan pergi ke sana.
Karena mau mengecewakan ayahnya, maka ia pun menyetujui permintaan sang kaisar.
Siang hari Pangeran Shen Qiu keluar dari istana Changle berkuda seorang diri menuju ke istana Wanzhou mewakili ayahnya.
Pangeran mahkota menempuh jarak yang cukup panjang. Hingga sore barulah Dia tiba di pintu gerbang kota Liang.
“Akhirnya aku sampai juga ke kota Liang.”gumam sang pangeran tersenyum lega.
Dia melewati pusat perbelanjaan yang ramai dengan kecepatan agak tinggi.
Tepat di saat Tang Su keluar dari toko buku dengan membawa setumpuk buku, pangeran mahkota melintas di depannya.
Tang Su berjalan terburu-buru dan tidak terlalu memperhatikan jalan.
“Nona... awas nona... minggir !”teriak Pangeran mahkota dari kejauhan saat melihat seorang gadis menyeberang jalan.
Karena ramai Tang Su tidak mendengar ada seseorang yang memanggilnya dan tetap menyeberang seperti biasa.
“Apa yang harus kulakukan ? sepertinya nona itu tidak mendengar ku.”batin sang pangeran.
__ADS_1
Kuda terus berjalan dan Pangeran mahkota mencoba menghentikan kudanya namun ternyata sudah terlambat dan terlalu dekat jaraknya.
BERSAMBUNG....