
Setelah melalui satu jam lebih perjalanan, Selir Wan Rou akhirnya tiba di istana. Dia pun turun dari kereta kuda bersama Bai Yu.
“Bai Yu Ingat jangan ceritakan pada siapapun jika Putri Wu Shuang masih hidup.”ucap Selir Wan Rou pada pelayannya sebelum memasuki istana.
“Baik Selir Wan Rou aku akan menutup mulutku rapat-rapat.”balas Bai Yu dengan tatapan serius.
Mereka segera masuk ke istana dan berjalan dalam diam. Di tengah jalan menuju ke maison air biru, mereka bertemu dengan Kaisar Luoying.
“Salam yang mulia.”ucap Selir Wan Rou sambil memberi hormat.
“Selir Wan Rou kau habis dari mana ?”ucap Kaisar Luoying bertanya dan menghentikan langkahnya.
“Yang mulia aku hanya belanja sebentar di luar bersama Bai Yu.”balas Selir Wan Rou beralasan.
Kaisar Luoying melihat beberapa barang yang dibawa oleh Bai Yu dan dia pun mempercayai perkataan sang selir.
“Mungkin Selir Wan Rou butuh hiburan di luar untuk meredakan pikirannya yang penat.”batin sang kaisar menatap istrinya.
“Selir Wan Rou lain waktu jika aku punya waktu senggang aku akan menemanimu berjalan-jalan keluar.”ucap Kaisar Luoying ingin membuat selirnya segera move on dari kesedihannya.
“Terima kasih yang mulia.”balas Selir Wan Rou sambil tersenyum lebar.
Kaisar Luoying kembali berjalan karena masih ada urusan istana kerajaan yang masih harus dia selesaikan. Sedangkan Selir Wan Rou masuk ke maison nya.
Keesokan harinya Tang Su pagi-pagi sekali keluar dari rumah barunya dan kembali ke pusat perbelanjaan yang ada di kota Xinghua.
Di sana dia membeli sebilah pedang di sebuah toko dan keperluan lainnya yang belum iya beli.
Di lain tempat di Istana Pingxuo terlihat Siyue yang pelan-pelan sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal barunya.
Gadis itu sudah hafal semua ruangan dan semua tempat yang ada di istana yang dia tempati. Bahkan dia juga sudah hafal nama-nama penghuni istana itu.
Suatu pagi dia keluar istana bersama pelayannya sekedar untuk menghafal daerah yang ada di sekitar istana Pingxuo.
“Nona jangan cepat-cepat jalannya.”ucap Weizhi mengejar Putri Meilin yang berada di tengah keramaian di sebuah taman.
Sang Putri tidak mendengar panggilan pelayannya di tengah keramaian dan ia terus berjalan melewati keramaian agar segera sampai di sebuah taman.
__ADS_1
“haah....akhirnya sampai juga.”ucap Putri Meilin masuk ke sebuah taman dan duduk di sana.
“Dimana Weizhi ?”batinnya mencari sosok pelayannya yang tidak dia temukan.
Lima menit terlalu namun pelayannya tak kunjung datang juga, namun sang Putri masih setia menunggu kedatangan pelayannya.
Di suatu jalan seorang lelaki mengejar seorang gadis yang berlari hingga ke sebuah taman.
“Hei tunggu kau ! Beraninya kau mengambil uang ayah ! cepat kembalikan uang ayah untuk main mahjong !”teriak seorang lelaki sambil marah dan membawa sebuah cambuk.
Sang gadis itu terus berlari melewati keramaian untuk mengecoh ayahnya. Dia melihat ke belakang untuk memastikan keadaan.
“Sial, ayah masih mengikuti ku. Aku tidak boleh tertangkap olehnya atau tubuhku akan memar semua.”batinnya saat melihat ayahnya masih terus mengejar dirinya.
Sambil berlari dia pun melihat ke sekitar.
“Sebaiknya aku sembunyi saja dulu sampai keadaan benar-benar aman.”gumam gadis itu melihat ke sekitar dan mencari tempat untuk bersembunyi.
Gadis itu melihat sebuah toilet umum dan dia pun segera berlari ke sana.
“kriek...”gadis tadi segera Mengunci pintu toilet repat-rapat setelah masuk.
“Disana rupanya kau !”gumam lelaki itu melihat Putri Meilin yang parasnya mirip sekali dengan putrinya duduk di sebuah kursi dan segera menghampirinya.
“tap... tap... tap...”Putri Meilin mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya dan Dia mengira itu adalah pelayannya.
“Weizhi... kenapa kau lama sekali ?”ucap Sang Putri lalu menoleh ke belakang tepat di mana langkah kaki itu berhenti.
Dia terkejut mendapati yang datang bukanlah pelayannya namun seorang lelaki tua yang sama sekali tidak dikenalnya.
“Chuyao akhirnya aku menemukanmu. Oh... kau berganti baju untuk mengelabui ayahmu rupanya ?”ucap lelaki itu sambil tersenyum menyeringai menakutkan.
“Maaf tuan ini siapa ?”balas Putri Meilin bertanya dengan sopan meskipun dia sedikit ngeri melihat senyumnya.
“Pura-pura tidak kenal lagi bagus sekali akting mu. Ayo kita pulang sekarang !”ucap lelaki itu kemudian menarik sang putri dan mengajaknya pulang.
“Tuan maaf... tuan salah orang. Aku bukan Chuyao, aku Putri Meilin.”jawabnya menjelaskan.
__ADS_1
Lelaki tadi tidak percaya dan semakin terlihat kesal dengan omong kosong yang diucapkan oleh putrinya. Ia pun terpaksa menyeret gadis itu ikut pulang bersamanya ke rumah.
Beberapa saat kemudian setelah Putri Meilin pergi dari taman bunga, gadis yang tadi bersembunyi di toilet keluar dari sana dan duduk di kursi di tepi taman.
“Huft... aku selamat untung saja Ayah tidak menemukan aku.”gumam gadis itu bernafas lega.
Dari kejauhan Wezhi Akhirnya sampai di taman dan melihat sosok nonanya sedang duduk di tepi taman.
“Nona.... !”panggil Weizhi dari kejauhan.
Gadis tadi menoleh menatap Weizhi namun dia mengajukannya karena mengira salah memanggilnya.
Weizhi tiba di taman dan berdiri di depan gadis tadi.
“Nona... aku sudah mencari mu kemana-mana dari tadi. Jangan Jalan terlalu cepat atau aku akan kehilangan nona lagi.”ucap Weizhi mengatur nafasnya sambil duduk di sebelah gadis itu.
Weizhi merasa aneh melihat penampilan Tuan Putri yang berubah dan mengenakan pakaian rakyat biasa.
“Nona kapan nona berganti baju ?”tanya pelayan itu.
“Aku tidak ganti baju dan dari tadi pakaian yang ku pakai memang ini.”jawab gadis itu.
“Putri Meilin jangan bercanda seperti itu. Ayo kita pulang sekarang.”ucap pelayan tadi mengajak gadis itu untuk kembali ke istana.
“Putri... ?! Namaku Chuyao bukan Putri Meilin.”jawab gadis itu menjelaskan identitasnya.
Weizhi diam namun ucapan sang putri hanyalah bercanda.
“Nona ayo kita pulang.”ucap Weizhi berdiri lalu menarik sang putri berjalan mengikutinya kembali ke istana.
“Bagaimana ini... kenapa wanita ini tidak percaya dengan apa yang ku ucapkan ?”batin Chuyao masih bingung bagaimana dia harus menjelaskan lagi agar wanita itu mempercayai ucapannya.
Chuyao akhirnya terpaksa mengikuti Weizhi berjalan melewati keramaian. Tak lama kemudian mereka tiba di istana Pingxuo.
“Jadi apa yang dibilang wanita ini benar ? Apa wajah ku mirip dengan wajah Putri dari istana ini ?”batin Chuyao melihat istana megah di depannya.
Sementara Putri Meilin saat ini tiba bersama lelaki yang mengaku sebagai ayahnya di sebuah rumah sederhana. Dia ikut masuk ke rumah dengan terpaksa.
__ADS_1
Di dalam rumah dia terkejut sekali melihat lelaki tadi membuka cambuk panjang dan akan memukulnya menggunakan cambuk itu.
BERSAMBUNG....