Buku Keberuntungan

Buku Keberuntungan
Eps. 68 Festival Lampion


__ADS_3

Siyue sedang berada di sebuah kamar tertutup. Ia pun melihat ke sekitar untuk mencari petunjuk keberadaannya.


“Ini seperti gambar di zaman kuno, zaman kerajaan.”gumam Siyue saat melihat pernak-pernik dan penataan kamar di ruangan itu.


Ia duduk di sebuah kursi di depan meja rias dan kembali bercermin.


“Baju dan tatanan model rambut seperti ini juga model yang biasa dipakai oleh seorang putri. Apakah aku berada di sebuah istana sekarang ?”gumam Siyue menebak-nebak sendiri.


Belum hilang rasa penasarannya, tiba-tiba dia dikagetkan oleh suara langkah kaki di luar kamar.


“tok... tok... tok...” suara langkah kaki itu berhenti di depan pintu dan terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu.


Karena tak ada respon maka seseorang yang berdiri di depan pintu membuka sendiri pintunya.


“Nona... maaf aku masuk sendiri karena Putri Mei Lin tidak menjawab.”ucap seorang wanita yang berpakaian seperti pelayan istana.


Siyue nampak gugup dan sedikit salah tingkah.



“Pelayan ini memanggilku Putri Mei Lin ? Siapa sebenarnya dia maksud ?”batin Siyue.


Pelayan itu melihat nonanya dengan tatapan berbeda dari biasanya.


“Putri ada apa dengan Putri Mei Lin ? Apa putri baik-baik saja ?”tanya pelayan itu karena melihat wajah nampak pucat.


“Oh... ti-tidak... aku baik-baik saja.”jawab Siyue terbata-bata dan mencoba untuk tenang.


“Putri hari ada festival lampion, iapa tuan putri jadi melihatnya ke sana bersamaku ?”tanya pelayan itu lagi.


“Oh ya... kalau begitu aku akan bersiap sekarang.”jawab Siyue sambil berdiri dan menuju ke lemari pakaian.


Ia pun mengambil satu pakaian yang menurutnya cantik dan pantas dipakai untuk melihat festival lampion.


“Putri Mei Lin biar aku bantu memakainya.”ucap pelayan tadi membantu Siyue mengenakan pakaian yang barusan diambil.


Beberapa menit kemudian Siyue berjalan keluar bersama dengan pelayan tadi. Di luar sudah ada kereta kuda yang menunggu kedatangannya.

__ADS_1


“Silahkan nona naik terlebih dulu.” ucap pelayan tadi membukakan pintu kereta dan Siyue segera masuk dan duduk.


Setelah tuan putri duduk, pelayan tadi duduk di depan bersama kusir kuda.


Kereta meluncur menuju ke tempat festival lampion berlangsung.


Sementara Siyue membuka kelambu sedikit dan menatap ke jalanan. Ia pun menatap istana tempatnya berada.


“Istana Pingxuo...”gumam Siyue membaca papan nama besar di depan istana lalu beralih menatap jalanan. Di sepanjang jalan ia kembali menemukan sebuah papan bertuliskan kota Ling.


Setelah satu jam melaju di jalanan akhirnya kereta itu berhenti di sebuah tempat.


“Weizhi kau pergi saja dengan Putri Mei Lin, aku akan menunggu di sini.”ucap seorang lelaki pada pelayan tadi.


Dari dalam kereta Siyue bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.


“Jadi perayaan wanita tadi bernama Weizhi...”batin Siyue dan mencoba mengingatnya.


Weizhi turun dan membukakan pintu untuk Putri Mei Lin.


“Putri Mei Lin kita sudah sampai silakan turun.”ucapnya tetap memberikan hormat saat sang putri turun dari kereta.


“Sepertinya acara hampir dimulai tuan putri.”ucap Weizhi saat melihat ada sebuah lampion merah yang diterbangkan ke udara.


Putri Mei Lin kemudian berjalan bersama pelayannya itu menuju ke tengah keramaian. Terlihat pepohonan yang ada di sana dihiasi oleh lampion beraneka warna.


Siyue terlihat senang melihat banyaknya lampion yang tergantung di sepanjang jalan dan merasa beruntung bisa melihatnya.


“Kita cari tempat yang agak sepi.” ucap sang putri setelah masuk ke lokasi dan mencari tempat yang sepi agar bisa menikmati keindahan lampion di sana.


Sang putri mencari tempat yang sedikit sepi dan bersama dengan Weizhi menyaksikan festival lampion.


Di lain tempat yang jauh, di istana Wanzhou tempatnya di maison air biru terlihat Selir Wan Rou yang melamun di kamarnya menatap kosong ke arah luar.


Selir itu sering terlihat murung dan sedih setelah kematian Putri Wu Shuang. Tulang pipinya terlihat sedikit menonjol setelah tidak mau makan selama berhari-hari dan hanya makan beberapa suap saja.


Suatu ketika Selir Wan Rou jatuh sakit. Wanita itu masih terlihat sedih depresi dan belum bisa menerima kepergian putri semata wayangnya.

__ADS_1


Tabib istana turun tangan dengan kesehatan sang Selir. Bahkan Kaisar mengundang beberapa tabib dari luar istana untuk menyembuhkan istrinya itu namun tak satupun dari mereka yang membuat Selir Wan Rou tersenyum ataupun menyembuhkannya.


Kaisar Luoying dari hari ke hari sering mengamati kondisi istrinya itu. Dia tak ingin melihat sang selir semakin bertambah parah sakitnya.


“Aku harus melakukan sesuatu. Apa sebaiknya aku mengadakan sayembara saja. Barang siapa yang bisa menyembuhkan Selir Wan Rou akan mendapatkan hadiah yang menarik dariku.”batinnya setelah terlintas sebuah ide dadakan.


Kaisar Luoying pun memanggil beberapa utusannya dan dia menyampaikan maksudnya. beberapa saat kemudian terlihat beberapa utusan Kaisar keluar dari istana dengan membawa pengumuman dan menempelnya di beberapa tempat keramaian.


“Ada apa para pengawal istana memasang pengumuman di sepanjang jalan ?”ucap seorang pejalan kaki yang melihat beberapa pengawal istana pergi dari jalanan pusat kota menuju ke tempat lain.


“Iya pengumuman apa yang disampaikan oleh kaisar ?”balas pejalan kaki lainnya yang menjadi penasaran.


Beberapa saat setelahnya banyak orang berkerumun menuju ke tempat ditempelnya pengumuman tadi.


“Wah... jika saja Aku punya kemampuan untuk mengobati seseorang maka aku akan ikut sayembara ini.” celetuk seseorang yang sudah selesai membaca pengumuman tadi.


“Hadiahnya tidak disebutkan dengan jelas tapi menurutku hadiah dari kaisar pasti sama sekali tidak mengecewakan.”ucap seseorang lagi menambahkan setelah membaca detail pengumuman yang ditempel.


Beralih ke istana Changle di mana Kaisar Chun Jun terlihat sedih di karenakan Pangeran mahkota belum sadarkan diri sampai sekarang.


Kaisar Chun Jun sedang berada di kamar sang pangeran dan duduk di sampingnya.


“Putra ku sebenarnya apa yang terjadi padamu ? Sampai kapan kau akan seperti ini ? Ayah ingin kau segera bangun.”ucap sang Kaisar menatap Pangeran mahkota dengan wajah sedih yang mendalam.


“huft...”Kaisar Chun Jun menghela nafas panjang.


“Sudah banyak tabib yang memeriksa mu tapi semuanya tak ada yang bisa menyembuhkan mu.”ucap sang a kiasar sambil tertunduk.


Seorang pengawal kepercayaan Kaisar melihat sang Kaisar bersedih dan tiba-tiba tercetus sebuah ide.


“Ampun yang mulia sebelumnya bukan maksud hamba untuk menggurui, ini hanyalah sebuah usulan saja.”ucap pengawal itu menatap sang Kaisar dengan rasa hormat.


“Katakan apa saran yang kau maksud.”jawab Kaisar Chun Jun.


Pengawal tadi kemudian memberikan saran jika sebaiknya Kaisar memasang pengumuman dan memberitahukan bagi siapa saja yang bisa menyembuhkan Pangeran mahkota akan mendapatkan hadiah yang menarik atau sejenisnya.


Kaisar Chun Jun terlihat berpikir sejenak, namun dia tersenyum kecil setelah menyetujui saran dari pengawal kepercayaannya itu. Ia pun memintanya untuk membuat pengumuman dan memasangnya di tempat keramaian atau sejenisnya.

__ADS_1


BERSABUNG...


__ADS_2