Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Kuliah seperti biasa


__ADS_3

HELLO ANYTHING! AUTHOR MAU MENGUCAPKAN TERIMA KASIH BANYAK KEPADA KALIAN SEMUA YANG TETAP SETIA SAMA NOVEL INI SAMPAI CHAPTER 100


HAPPY 100 CHAPTER🥳🥳🥳


SAMA AUTHOR MAU MINTA MAAF TENTANG KEMARIN YANG KEMARIN AUTHOR TIDAK MELAKUKAN DOUBLE UPDATE DAN TIDAK MENULIS PENUTUPNYA SEPERTI BIASA SEBAB AUTHOR SENGAJA MELAKUKANNYA SUPAYA JUMLAH KATA PADA CHAPTER KEMAREN PAS 1001.


SEKALI LAGI HAPPY 100 CHAPTER


........


Lily dan Yuri yang sudah sampai di uks langsung tiduran. Mereka berdua membagi satu bangkar tapi Yuri memberikan tempat yang lebih banyak agar Lily tidak jatuh saat bergerak - gerak. Yuri menceritakan tentang mahasiswi tadi yang juga merupakan kembarannya Jia.


"Heee~.... Ternyata Jia punya kembaran.... Aku tidak menduganya" ucap Lily yang menatap langit - langit uks.


"Aku juga tidak menyangka kalau kak Jia punya kembaran. Oh ya! Ngomong - ngomong Lily, kak Jia itu semester berapa?" Yuri bertanya sambil menatap rak - rak obat di sebelah sana.


"Setahuku Jia itu baru semester tiga dan fakultas hukum" jawab Lily yang mengelus perutnya.


"Hmmm... Kenapa kau tidak memanggil semua kakak tingkat di klub basketmu menggunakan kata kakak? Bukankah mereka lebih besar dari pada dirimu".


"Sean,Dovan,Jia,dan aku seumuran lalu untuk sisanya itu memang kita memiliki kesepakatan untuk tidak memanggil siapa pun dengan tambahan kata kakak. Karena saat berada di dalam satu klub kita itu semua sama dan sama - sama sebagai teman".


"Hmmm.... Keren ya anak - anak klub basket".


"Mana lebih keren aku atau anak - anak klub basket?" tanya Max yang tiba - tiba muncul di depan wajah Yuri.


"Akhhh! Astaga pak Max ini! Pak Max ngapain kesini?" bukannya menjawab Max, Yuri menanyakan kehadiran Max ke uks.

__ADS_1


"Aku mau minta obat dan aku melihat kalian disini jadi aku samperin saja" Max beralih mengambil kotak obat lalu mengambil plester luka.


"Kenapa dengan tanganmu?" Yuri melihat luka so det di jari tengah Max.


"Luka sedikit saja tidak usah khawatir" Max menempel plester luka tersebut di bagian luka kemudian meletakkan kembali kotak obat ke tempat semula.


Lily beranjak dari bangkar menuju tempat dia menaruh tas. Dia tentang tasnya di kedua bahunya lalu berjalan pergi. Alasan dia pergi adalah dirinya tidak ingin menjadi penghalang keromantisan Max dan Yuri kebetulan juga dia mau makan di kantin. Yuri belum menyadari kalau temannya tersebut sudah menuju kantin.


Kondisi kantin saat ini terbilang sangat ramai sampai - sampai tidak ada celah masuk atau pun keluar. Ditambah semua meja makan sudah ditempati. Lily kelihatan linglung harus duduk dimana atau masuk ke kios kantin yang mana. Tapi untungnya ada Dovan dan Jia yang melihat Lily. Mereka berdua memutuskan untuk menghampiri Lily.


"Lily! Apa kau mau belanja?" tanya Dovan yang menepuk pelan bahu Lily.


"Hm?! Eh ternyata Dovan dan Jia! Iya aku mau belanja tapi aku tidak berani masuk karena terlalu ramai" jawab Lily yang membenarkan posisi tasnya.


"Biar aku saja yang masuk memesan dan kalian berdua usahakan mencari tempat duduk" seru Jia dengan ide jalan keluarnya.


"Boleh deh! Lily mau pesen apa?" Dovan menyetujui usulan Jia.


"Oke! Kalau kau?" jawab Jia yang beruntungnya sudah mencatat semua pesanan Lily.


"Aku mau cappucino two shout aja" Dova memegang tangan Lily lalu untuk bersiap - siap untuk mencari tempat duduk.


Jia memberi tanda oke lalu pergi menerobos masuk kerumunan manusia di kios kantin. Dovan berjalan bersama Lily melewati setiap manusia yang berlalu lalang. Lily mengalami kesulitan untuk melewati setiap orang disana sebab ruang yang diberikan terlalu sempit dan harus melindung perutnya agar tidak tersenggol seseorang. Mata Dovan melihat salah meja kosong dan segera menarik Lily menuju meja tersebut.


Mereka berdua berhasil mendapatkan meja tersebut. Lily terlihat sangat kelelahan setelah melewati beberapa orang tadi.


"Apa perutmu sakit?" tanya Dovan yang khawatir melihat raut wajah Lily.

__ADS_1


"Sedikit sih tapi kalau aku elus pasti mendingan" jawab Lily yang terus mengelus perutnya.


Dovan menoleh ke arah Jia yang masih memesan. Untuk menghilangkan rasa khawatirnya Dovan mengajak Lily berbincang agar merasa lebih rileks.


Dua puluh menit kemudian Jia datang membawa semua pesanan. Lily bertepuk tangan bahagia melihat pesanannya datang. Jia membagi pesanan yang dibawa kepada pemesannya. Saat Lily membuka isi setiap bungkus, dirinya tampak murung.


"Kok sosis bakarnya isi mayo?! Kan aku bilang pedes manis saja!" protes Lily dengan wajah cemberutnya.


"Aku juga tidak tahu kalau pedagangnya ada mengisi mayoneis" jawab Jia yang membuka pesanan nasi goreng bungkusnya.


"Aku tidak mau makan sosis ini! Kamu aja yang makan Jia!" Lily mendorong bungkusan sosis bakar itu ke arah Jia.


Tapi saat Jia akan meraihnya ada tangan orang lain yang mengambil sosis tusuk tersebut. Dovan dan Jia hanya berwajah malas saja saat melihat siapa sosok sebenarnya tersebut. Orang yang mengambil sosis bakar tersebut adalah Sean.


"Hmmmm... Enak! Makanan enak seperti ini tidak mau,rugi sekali" ucap Sean yang sengaja mengatakan kalimat itu untuk memancing Lily.


Mata Lily yang melihat Sean memakan sosis itu dengan nikmat langsung memberikan sinyal kepada otak Lily. Sean yang melihat Lily mulai tergiur langsung memberikan bungkusan sosis bakar miliknya.


"Nih kak!".


"Ini milikmu,kenapa kau memberikannya kepadaku?" tanya Lily.


"Ambil saja! Yang itu tidak ada mayonya jadi makan saja" jawab Sean yang duduk di sebelah Lily.


Mereka berempat makan bersama. Selesai mereka makan kemudian mereka kembali ke kelas masing - masing. Kegiatan kuliah Lily berjalan seperti biasanya sampai pada sore hari. S s s s s s


HAPPY 101 CHAPTER,HEHEHE...

__ADS_1


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>


__ADS_2