
Edward mengusap kepala Lily lalu mencium dahi istrinya. Lily memeluk erat Edward sebagai tanda dia tidak ingin bangkit dari pangkuan sang suami.
"Istriku manja sekali sampai tidak ingin meninggalkan suaminya, apakah suamimu ini senyaman itukah?".
"Nyaman sekali~... Membuatku terhanyut".
"Hahaha... Apa kau tidak lapar?".
"Lapar sih, aku mau makan pasta saja".
"Baiklah! Sekarang turunlah dulu aku mau memasak pasta".
"Masak pastanya harus sambil menggendongku".
Edward hanya bisa menuruti permintaan sang istri. Pria bermarga Davis itu menggendong istrinya seperti koala sambil merebus pasta. Lily memeluk erat suaminya dan ia bisa mencium aroma pasta yang hampir siap. Edward mengaduk pasta yang sudah ditiriskan dengan bumbu yang sudah disiapkan di piring. Mungkin para riders pasti merasa bingung kok pastanya diaduk? Tidak perlu bingung Lily itu kalau makan harus diaduk dulu termasuk nasi jika tidak dia tidak mau makan.
Sesudah pastanya siap Edward duduk di kursi meja makan dengan Lily di sebelahnya. Tangan Edward menyuapi Lily dengan hati - hati. Lily juga menyuapi Edward agar suaminya kebagian.
"Hehe... Sayangku yang paling baik di dunia" seru Lily yang sangat senang bisa berduaan dengan Edward.
"Terima kasih my sweetie baby" Edward mencubit pelan pipi Lily karena gemas.
Baru beberapa menit saling suap - suapan datanglah hal yang menganggu keromantisan mereka berdua. Ternyata yang mengganggu keromantisan tersebut adalah ponsel Lily yang berbunyi. Tapi Lily hanya membiarkan ponselnya berdering sebab jika dirinya sudah mode manja maka apa pun yang disekitarnya dianggap tidak ada. Edward lah yang menjawab deringan ponsel Lily. Layarnya menyala dan tertera nama "Brian" disana yang menelpon Lily. Tanpa seizin sang istri, Edward menjawab telepon itu begitu saja.
"Halo Lily! Kenapa kau pulang duluan? Apakah terjadi sesuatu?".
"Siapa kau? Kenapa kau menanyakan kondisi babyku?".
"Tunggu! Kau bukan Lily! Siapa ini?! Dimana Lily! Katakan!".
"Apakah Lily pernah memperlihatkan wallpaper lock screennya kepadamu?".
Brian kembali mengingat rupa lock screen. Dia ingat kalau di wallpaper tersebut Lily sedang bersama seorang pria yang katanya adalah kekasihnya. Brian menjawab pertanyaan Edward tersebut dengan jawaban,
"Iya aku ingat! Apakah kau orangnya?".
"Baguslah kalau kau ingat tapi apakah kau tidak mengenali wajahku?".
"Aku mengenalmu? Apakah kita pernah bertemu?".
"Kita sering bertemu tapi lebih baik kau bertanya ayahmu dan aku akan mengirimkan fotoku bersama Lily".
__ADS_1
"Baiklah! Aku tutup dulu".
Edward menutup telepon tersebut kemudian beralih ke room chat bernama Brian. Dia mengirim foto yang sangat romantis ke Brian agar si pengganggu tidak mendekati istrinya lagi.
Brian telah menerima foto yang dikirim. Reaksinya sangat tidak terima dan marah. Tapi dia harus bertanya dulu siapa orang ini kepada ayahnya agar lebih jelas. Sayangnya saat ini ayahnya Brian belum pulang kantor jadi Brian harus menunggu ayahnya yang pulang sekitaran tiga jam lagi.
Edward yang sudah selesai urusan Brian kembali ke urusan istrinya. Lily menyuapi dirinya sendiri karena Edward terlalu lama. Setelah Edward kembali Lily langsung memberikan garpunya kepada Edward.
"Maaf ya aku agak lama tadi" ucap Edward yang kembali menyuapi istrinya.
"Memangnya siapa yang menelpon tadi?" tanya Lily yang menerima suapan tersebut.
"Teman laki - lakimu itu" jawab Edward dengan santainya.
"Apa dia bilang?" Lily sedikit terkejut mendengar jawaban suaminya.
"Dia bilang "kenapa kau pulang duluan? Apakah terjadi sesuatu?" tapi tenang saja baby aku sudah ke kampusmu sebagai wali agar dirimu diizinkan tidak masuk kelas" Edward mengucapkan pertanyaan yang ditanyakan Brian tadi dan mengungkapkan tujuannya datang ke kampus tadi.
"Apa reaksi dosen disana?" Lily memakan habis pasta tersebut.
"Aku bilang saja kalau aku walimu dan my baby harus izin karena alasan ada acara keluarga tapi itu memang benar kita ada acara keluarga".
"Kapan acaranya? Acara apa memangnya?".
"Jam berapa acaranya ? Harus pakai pakaian formal atau tidak?".
"Mulainya jam enam tapi mama bilang kita disuruh datang jam empat untuk membantu persiapan acara".
"Sekarang jam berapa?".
"Jam tiga".
"Ayo bersiap - siap".
Lily beranjak dari kursinya menuju kamarnya untuk bersiap - siap. Edward mengikutinya dari belakang.
Setelah persiapan selama satu jam lebih Edward dan Lily sudah siap untuk berangkat. Walaupun tadi sedikit kendala yang dimana Edward minta main sebentar di kamar mandi. Edward sudah menyiapkan mobilnya tinggal menunggu istrinya sedang mengunci pintu. Selesai mengunci pintu Lily berlari ke arah mobil suaminya dan masuk.
Di dalam mobil , Edward mendekati Lily untuk mengendus aroma sang istri. Sayangnya Lily langsung mendorong Edward untuk kembali ke setir mobil.
"Ayolah baby! Satu ronde saja" ucap Edward yang memohon kepada Lily agar bisa bermain sebentar.
__ADS_1
"Tidak! Tahan saja sayang! Kita akan terlambat kalau kita bermain satu ronde saja" jawab Lily yang menolak keinginan suaminya.
"Kalau begitu pulangnya saja, boleh ya?".
"Iya nanti saja saat sudah selesai acara".
Edward akhirnya bisa mendapatkan izin istrinya. Barulah Edward menjalankan mobilnya menuju rumah lamanya. Di perjalanan mereka harus mampir sebentar untuk membeli hadiah untuk sepupu Edward yang bernama Max.
Mereka sampai di rumah lama sekitar jam empat kurang. Saat Lily masuk ke rumah lama dia melihat kondisi mama Kiana sudah kelelahan duduk di sofa. Lily berlari menghampiri ibu mertuanya tersebut.
"Mama kenapa? Kenapa kelihatannya sangat lelah?" tanya Lily yang panik dengan kondisi mama Kiana.
"Dia hanya kelelahan saja membersihkan rumah sendirian" jawab papa Jack yang mengipasi istrinya yang kelelahan.
"Kan ada pembantu, kenapa mama membersihkan rumah sendirian?" Lily memijat tangan kanan mama Kiana.
"Mama hanya ingin bersih - bersih saja dan ini juga untuk persiapan kepulangan Max" jawab mama Kiana.
Lily mengangguk paham mendengar jawaban mama Kiana. Edward berjalan mendekati mama Kiana untuk menanyakan tentang Max.
"Jam berapa Max sampai di bandara" tanya Edward mengenai Max.
"Sekitaran jam setengah lima atau jam lima" jawab papa Jack.
"Apa mama mau memasak makanan spesial untuk kak Max? Aku bisa buatkan" tanya Lily mengenai menu acaranya yang akan disiapkan.
"tidak ada yang spesial kok tapi Max paling suka semur daging ayam buatan mama, apakah kau bisa membuatnya Lily?" jawab mama Kiana.
"Tentu saja bisa! Baiklah aku masak dulu semurnya" Lily langsung berjalan menuju dapur.
Edward yang melihat istrinya menyiapkan makanan untuk sepupunya merasa cemburu. Dia pun memprotesnya ke orang tuanya.
"Kenapa Lily yang harus memasak untuk Max?".
"Lily setuju saja untuk hal memasak jadi biarkan Max merasakan masakan buatan Lily" jawab mama Kiana.
Kalau hal itu sudah menjadi keinginan sang istri, Edward tidak bisa menentang sama sekali. Edward pasrah saja saat Lily memasak untuk Max.
MAAF YA AUTHOR KETIDURAN KEMARIN PADAHAL CHAPTERNYA SUDAH SIAP.
Makasi yang telah mampir dan baca
__ADS_1
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>