
Randy dan Sean saling berhadap - hadapan demi mendapatkan bola tersebut. Karena tidak punya banyak waktu Randy terpaksa menembak bola di luar garis area shooting (sorry guys author ndk tau namanya). Sayangnya tembakan Randy gagal masuk ke ring. Randy hanya tersenyum sambil menaikkan sebentar bahunya. Sean juga tersenyum melihat tindakan nekat Randy, mungkin kalau ada teman Randy yang lain membantu pasti bola tersebut pasti masuk.
"Tembakan bagus bro!" puji Sean yang menepuk pundak Randy.
"Kamu juga hebat bro! Aku tidak menyangka kalau kau akan menghadangku seperti tadi" Randy juga memuji kemampuan Sean.
Selesai itu Randy kembali ke pinggir lapangan dan menonton latihan tim yang akan dilawannya besok. Randy memperhatikan secara seksama cara bermain setiap pemain hanya sebagai jaga - jaga jika saja ada sesuatu yang bisa dihindari besok.
...----------------...
Lily berlari menuju kelasnya karena dia tidak punya banyak waktu lagi. Banyak orang dia lalui dan ada beberapa hampir dia tabrak akibat terburu - buru. Sesampai di kelas untungnya dosennya belum datang. Lily berjalan lemas ke bangkunya. Dia menaruh tasnya di atas meja kemudian menidurkan kepalanya di meja sambil memainkan ponselnya. Saat dia baru membuka aplikasi chatting ada tiga pesan masuk dari tiga orang yang berbeda. Yang pertama dari suaminya,kedua dari Yuri, dan ketiga dari Brian tapi yang dijawab lebih dulu tentu saja suaminya.
Mari kita masuk ke room chat tuan muda Davis dan nona muda Lawrence.
"Baby".
"Baby sedang apa? Sibuk ya?".
^^^"Maaf sayang aku baru bales tadi aku ada kegiatan di klub basket sebentar".^^^
"Tidak apa - apa baby".
"Nanti malam outfitnya tidak perlu terlalu formal tadi mama kasi tahu aku".
^^^"Oke kalau begitu sayang".^^^
^^^"Tapi sayang aku bingung harus memilih yang mana, apakah harus warna terang atau gelap? dan aku ingin couplean sama kamu".^^^
"Owwhhh... Baby so sweet sekali".
"Nanti sampai di rumah pilih".
"Oh ya! Jam berapa baby pulang?".
^^^"Mungkin setengah tiga tetapi aku memiliki kegiatan eskul sekarang jadi agak lamaan kayaknya".^^^
^^^"Tidak apa - apa kan? Nanti aku telpon kamu".^^^
"Iya my baby".
__ADS_1
"Love you♡~".
^^^"Love you more♡~".^^^
Sekarang mari kita keluar dari chat room tuan muda Davis dan nona muda Lawrence.
Selesai Lily chatting dengan suaminya dosennya pun masuk. Pembelajaran dimulai dan dari belakang Brian sedikit penasaran dengan isi chat Lily dengan seseorag. Brian memiliki banyak pertanyaan seperti, apakah itu kekasihnya? Atau orang lain? Lalu kenapa dia tidak menjawab pesan chatku? Padahal itu dua jam yang lalu.
...****************...
Kelas pun telah selesai dan Lily sudah berada di kantin bersama anggota klub basketnya ditambah anggota tim musuhnya. Canda tawa terdengar dari klub tersebut tentang menceritakan kisah pribadi atau orang lain. Randy menceritakan dirinya saat melawan orang yang tingginya dua meter tapi lucunya dia tidak sengaja menginjak sepatu dan reaksi orang tersebut dia memukul Randy seperti orang banci. Suasana selama pertandingan sedikit membingungkan sebab wasit harus menganggap itu sebagai pelanggaran atau tidak. Yang lain pun tertawa mendengar cerita Randy tersebut. Mereka pun kembali melanjutkan bincang - bincang mereka.
Setelah dua jam lebih di kampus musuhnya tim Randy memutuskan kembali ke kampusnya. Randy dan Sean saling berjabat tangan juga tidak sabar menantikan pertandingan besok. Lily melambaikan tangannya kepada Randy yang berjalan menjauh. Seusai mengantar tim Randy sampai gerbang kampus Sean mengumpulkan timnya untuk membahas strategi bermain besok.
Sean memberitahu tim intinya mengenai strategi yang akan dipakai besok yang juga sudah dibahas bersama Lily. Anggota timnya memperhatikan dengan seksama agar tidak ada kesalahan saat bermain besok. Lily juga membantu Sean dalam penjelasan strategi tersebut. Sesudah pemberitahuan yang cukup lama rapat dibubarkan dan diharapkan para pemain bisa bermain dengan prima untuk besok. Semua anggota dipersilakan pergi kecuali Dovan.
"Dovan!" panggil Lily yang menghampiri pria yang mengalami cedera bahu tersebut.
"Kenapa? Aku mau pulang" tanya Dovan yang kesal saat dipanggil Lily.
"Apa kau paham strategi tadi? Juga apa kau ingat kau tidak boleh memaksakan diri saat bermain besok?" bukannya menjawab pertanyaan Dovan, Lily memberikan pertanyaan lain untuk Dovan.
"Dovan!" sekarang Sean yang memanggil dia.
"Kenapa Sean?" nada bicara Dovan langsung berubah saat berbicara dengan Sean.
"Besok kau harus menuruti perkataan Lily itu demi kebaikanmu, mengerti?" Sean memandang tajam Dovan.
"Ekm! Paham kapten!" jawab Sean yang menelan paksa salivanya setelah mendapatkan tatapan tajam sang kapten.
Sesudah mengingatkan Dovan, Sean dan Lily langsung pergi ke tujuan masing - masing. Lily berjalan menuju gerbang kampus sambil menelpon sang suami. Tidak berselang lama sang suami datang menggunakan mobil favorit Lily. Dengan bersemangat Lily masuk ke dalam mobiĺ sambil tersenyum.
"Astaga sayang! Kenapa tidak bilang kalau kau akan menggunakan mobil ini lagi?" tanya Lily yang kegirangan sambil memasang sabuk pengaman.
"Hehe... maafkan aku baby! Tadi kebetulan aku sedang memilih mobil saat akan menjemputnya dan aku melihat mobil ini makanya aku memutuskan untuk menggunakan yang ini saja" jawab Edward yang terkekeh.
Edward menjalankan mobilnya yang membelah kerumunan kendaraan yang lain. Di perjalanan Lily mengerutkan wajahnya entah apa penyebab padahal tadi masih bahagia. Edward memutuskan bertanya kepada sang istri.
"Baby kenapa? Cemberut terus".
__ADS_1
"Aku lapar sayang! Makan dulu yuk!".
"Boleh! Mau makan apa?".
"Makan nasi, ayam goreng, tumis sayur, dan banyak lagi".
"Baby sepertinya perut kamu sudah ada baby lain deh".
"Sembarangan saja! Baru beberapa hari yang lalu bikin masa iya langsung jadi begitu saja".
"Hahaha... Bercanda baby tapi aku berharap itu menjadi kenyataan".
"Makanya berusaha lebih keras lagi".
Edward menoleh ke arah istrinya dengan wajah tidak biasa. Lily sedikit bingung dengan pandangan Edward yang aneh. Edward menepikan mobilnya kemudian membelikan istrinya beberapa cemilan sebagai penganjal lapar sementara. Lily sangat menerima cemilan yang diberikan Edward dan segera memakannya. Edward kembali melajukan mobilnya.
...****************...
...----------------...
......................
Pasangan suami istri ini sudah sampai di rumah lama Davis walaupun terlambat dua puluh menit akibat Lily yang memilih pakaian terlalu lama. Lily memutuskan menggunakan rok berwarna putih agak gelap dan atasannya menggunakan baju lengan panjang berwarna agak terang. Sedangkan Edward menggunakan celana jeans dan baju hitam. Mereka memasuki kediaman lama Davis.
Baru saja di depan pintu Lily sudah bisa mendengar suara ibu mertuanya yang datang menghampirinya. Mama Kiana langsung memeluk menantunya yang baru tiba.
"Ya ampun menantu ibu baru datang! Ayo masuk!" ucap mama Kiana yang menarik masuk Lily ke ruang tamu.
Mama Kiana melupakan siapa anak sebenarnya dan membiarkannya berdiri di depan pintu begitu saja. Edward memutuskan masuk sendiri dan mengekori Lily.
Di ruang tamu sudah ada keluarga pihak perempuan dari pacar Sean. Sean tersenyum melihat kedatangan Lily dan Edward. Lily sudah menduga kalau Lola akan datang kesini bersama keluarganya tapi dia memutuskan untuk bersikap biasa saja. Mama Kiana duduk di sebelah suaminya kemudian mengembalikkan Lily kepada pemilik sebenarnya. Edward dan Lily duduk bersebelahan kemudian Edward menggenggam tangan Lily.
"Permisi nyonya Davis, siapa perempuan ini?" tanya ibu Lola dengan sopan.
"Dia adalah menantu pertama saya. Dia adalah istri dari anak pertama saya. Kenalkan ini Edward anak saya dan Lily istrinya". *Besok lagi guys
Makasi yang mampir dan baca tetap setia sama novel ini.
To be continued*\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>
__ADS_1