
Saat ini Lily sedang berada di kelas dan juga merupakan kelas keempat hari. Hari ini Lily tidak bisa menghadiri kelas terakhir karena dia harus melakukan check up. Ditambah Lily tidak bisa pergi ke gedung olahraga.
Jam sudah menunjukkan pukul empat kurang lima menit. Lily semakin khawatir sebab sebentar lagi jam check upnya sedangkan dosennya masih menjelaskan materinya. Tapi untungnya ada Max yang mengetuk pintu kelas untuk mencari Lily.
"Permisi! Ini kelas akuntasi lima belas,ya?" tanya Max yang berdiri di dekat pintu.
"Iya, kenapa ya pak Max?" jawab dosen yang mengajar di kelas Lily.
"Saya mau mencari mahasiswi yang bernama Lily, apakah dia ada masuk kelas?" ternyata Max mencari Lily.
"Ohh.... Lily! Dicari sama pak Max" dosen pengajar itu memanggil Lily.
"Lily sekalian saja bawa tasnya soalnya keluargamu mencari" ujar pak Max.
Lily langsung membereskan semua barang - barangnya. Sebelum pergi Lily berpamitan kepada dosen pengajar.
"Untuk mahasiswi yang bernama Lily dia izin karena ada urusan keluarga kalau begitu saya permisi ya pak" Max mengajak adik iparnya itu pergi.
Di dalam hatinya Lily sangat berterima kasih kepada Max yang telah membantunya jika tidak mungkin saja maka jam selesai kelasnya sampai pukul setengah enam sore. Max sebenarnya tidak terlalu ingin membantu Edward tapi karena Edward adalah seorang pebisnis handal jadi dia tahu bagaimana cara bernegosiasi yang benar.
Max mengantar Lily sampai ke ruangannya. Lily terlihat sangat lelah telah melakukan semua jadwal kelasnya.
Mereka berdua sampai di ruangan Max. Di dalam ruangan ada Edward sedang menunggu sang istri. Lily langsung saja memeluk Edward dan Max menjadi nyamuknya.
"Hmmm.... Sayang..... Aku capek aku mau peluk sama gendong" ucap Lily yang mengusel hidungnya di da da sang suami.
"Ya sudah ayo kita pulang sekarang" jawab Edward yang menggendong Lily seperti koala.
"Tapi kan ada jadwal check up sekarang".
"Masih mau pergi check up?".
"Iya mau~.... Aku pengen lihat Pinpin".
"Oke kalau begitu baby, Max terima kasih sudah membantuku".
Edward berjalan keluar ruangan dengan menggendong Lily. Max hanya mengangguk saja sebagai menanggapi ucapan Edward.
Kaki Edward melangkah melewati lorong kelas. Lily membiarkan kepalanya berada di da da sang suami. Untungnya para mahasiswa dan mahasiswi yang ada disana tidak terlalu memperhatikan termasuk yang berlalu lalang terbilang sedikit jadi masih aman.
Edward telah sampai di parkiran dan membukakan pintu mobil untuk sang istri. Lily turun dari gendongan Edward kemudian masuk ke mobil lalu disusul oleh Edward melalui pintu lain. Mobil dinyalakan kemudian melaju menuju rumah sakit.
__ADS_1
Selama perjalanan terdapat beberapa cemilan untuk sang istri. Lily mengambil beberapa cemilan tersebuy kemudian mulai memakannya.
...................
Beberapa menit kemudian mobil Edward telah sampai di rumah sakit. Walaupun terlambat sepuluh menit untungnya masih diizinkan melakukan check up.
Sekarang Lily sedang berada di ruangan khusus untuk kandungan. Dokter kandungan tersebut melakukan pengecekan di kandungan Lily kemudian melanjutkannya dengan menggunakan alat ronsen untuk melihat pergerakan janin. Edward yang juga ada disana mengamati pergerakan janinnya.
Dokter kandungan tersebut menjelaskan sedikit tentang kondisi dan bagaimana perkembangan janin calon orang tua tersebut. Lily sangat senang mendengar kalau kesehatan janinnya sangat bagus dan dokter memintanya untuk tetap menjaga pola makan disertai mood. Edward juga berpikir kalau dia harus menjadi lebih siaga lagi, apapun yang diminta dia akan turuti selagi masih positif.
Pasangan suami istri sudah selesai melakukan check up dan diminta datang lagi tiga hari lagi. Lily terus memandang foto usg janin yang kelihatan mungil. Tangan kanan Edward melingkarkan di pinggang sang istri dengan tujuan untuk tetap menjaga kondisi sang istri.
Mereka berdua sudah sampai di parkiran. Edward membukakan pintu mobil untuk Lily kemudian dirinya memutar memasuki mobil. Setelah keduanya masuk mobil tersebut mulai melaju.
"Sayang! Aku mau makan sayur sup buatan Sean" pinta Lily secara tiba - tiba.
"Sean kan masih kuliah terus dia harus latihan basket nanti, apakah kau bisa menunggu?" jawab Edward yang sedikit ragu untuk langsung menuruti permintaan sang istri.
"Aku maunya sekarang! Kalau nanti aku tidak nafsu makan" Lily menolak ucapan penolakan yang dikatakan Edward.
"Tidak bisa sekarang baby,Sean lagi kuliah".
"Ganti yang lain saja".
"Oke kalau begitu! Aku mau semua makanan buatan Sean".
"Kenapa harus Sean? Kenapa tidak aku saja? Bukankah lebih bagus?".
"Tidak enak!".
Lily menjawabnya dengan julid yang langsung membuat Edward terdiam. Dengan terpaksa Sean harus menghubungi adik kandungnya tersebut. Wajah Lily tampak murung karena permintaan apa yang dia inginkan lama dikabulkan.
Edward langsung saja menghubungi Sean. Dia tidak peduli Sean sedang di kelas atau dimana pun yang penting permintaan istrinya terpenuhi. Panggilan telepon Edward sudah tersambung dengan Sean. Oke mari kita dengarkan.
"Halo kak? Kenapa menelponku?".
"Halo Sean! Apa kelasmu sudah selesai? Atau kau sudah selesai latihan?".
"Semua kelasku sudah selesai dan sekarang aku lagi jalan menuju gedung olahraga, ada apa ya kak?".
"Aku ingin kau masak di kediamanku".
__ADS_1
"Hah?! Tunggu dulu! Jangan bilang ini permintaan kakak ipar".
"Ini memang permintaan kakak iparmu, cepetan datang kalau tidak aku potong uang jajanmu".
"Iya! Iya! Kak sabar! Sekarang aku langsung meluncur".
Lily merebut ponsel Edward kemudian mulai berbicara dengan Sean.
"Halo Sean! Ini aku Lily!".
"Halo kak Lily! Kakak mau dimasakin apa?".
"Aku mau sup sayur,tumis sayur ayam, dan nasi kepal selanjutnya untuk dessertnya aku mau ice cream tiga rasa. Terakhir minumannya aku ingin yogurt rasa stroberi".
"Banyak sekali kak! Apa kakak yakin kalau kakak bisa menghabiskan semua makanan ini?".
"Jika tidak habis kan masih ada Edward".
"Hadeuhhh... Ya sudah kalau begitu kak sekarang aku mau berangkat kesana".
"Eh tunggu dulu!".
"Kenapa lagi,kak?".
"Aku mau kau masak dengan Brian".
"Kenapa harus Brian? Bukankah dia tidak baik?".
"Aku mau kamu masak di apartementmu".
"Iya kakak sayang.... Sudah itu saja?".
"Hehehe.... Sudah ".
"Kalau begitu aku matikan,bye bye kak!".
Sean sudah mematikan panggilan telepon kemudian beralih ke Lily yang mengembalikan ponsel tersebut ke sang suami. Edward tampak sangat marah setelah mendengar percakapan barusan.
Makasi yang sudah mampir dan baca
To br continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>
__ADS_1