Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Malu Sendiri


__ADS_3

Ibu Kiana tertawa melihat Edward bersama Lily. Viona tidak mengerti sama sekali apa yang ditertawakan oleh ibu Kiana. Edward yang melihat ibunya tertawa dan Viona kebingungan di belakang sekarang paham situasi sekarang.


"Wanita cantik yang sedang bersama Edward itu, kau bilang Viona?" tanya ibu Kiana yang masih tidak bisa menahan tawanya.


"Astaga! Ada ibu disini! Kenapa tidak bilang akan datang kesini? Kan Lily bisa menyiapkan makanan lebih" Lily menghampiri mertuanya lalu mencium tangan ibu Kiana.


"Ya ampun menantu kesayangan ibu... Tidak apa - apa nak lanjutkan makannya ibu sudah makan" jawab ibu Kiana yang mencubit kedua pipi Lily.


"Tante! Apa maksud tante dengan memanggil dia menantu?! Dia tidak pantas! Aku yang pantas tante!" ucap Viona yang tidak terima dengan panggilan ibu Kiana terhadap Lily.


"Kenapa kau mengatakan Lily tidak pantas? Dia ini sudah resmi jadi menantuku dan dia adalah anak dari perusahaan perbankan terkenal di negeri ini" jawab ibu Kiana yang melawan ucapan Viona.


"Tante! Jangan bohong!" Viona menghentakan kakinya saking kesalnya.


"Itu benar Viona! Lily adalah menantuku dan tidak ada yang bisa menggantikannya!" ibu Kiana menegaskan ucapannya bahwa Lily adalah menantunya.


Lily merasa sangat senang mendengar ucapan mertuanya yang membelanya. Edward meminum air kemudia berdiri dan berjalan menghampiri Viona.


"Apa kau sudah mendengarnya? Ibuku saja mengakui Lily sebagai menantunya jadi, kau tidak usah mengganggu diriku dan istriku lagi, paham?" ucap Edward yang memberikan peringatan terhadap Viona.


"Aku tidak akan membuat kalian bahagia!" Viona berlari keluar ruangan Edward sambil menangis.


Edward melihat istrinya yang sedang mempersilakan ibunya duduk di sofa. Dia pun memutuskan untuk duduk kembali di sofa dan melanjutkan makan sorenya.


"Kenapa Viona bisa kembali tiba - tiba? Ibu kira dia akan kembali bulan depan" tanya ibu Kiana yang sedang disuapi oleh Lily.


"Dia sudah datang dari dua bulan yang lalu dan dia sering kesini bahkan masuk secara paksa seperti tadi. Padahal aku sudah menyuruh orang untuk mengusirnya tapi dia tetap kekeh ingin masuk ke ruanganku, haaa~... Bikin pusing saja" jawab Edward yang menyuap makanannya.

__ADS_1


"Ibu! Memangnya Viona itu siapa? Kok aku tidak tahu?" tanya Lily yang masih bingung dengan sosok Viona tersebut.


"Viona adalah mantan tunanganku dulu sebelum aku mengenalmu. Perbedaan umur aku dan Viona hanya dua tahun tidak seperti kau dan aku jaraknya jauh. Orangnya sangat berbeda sekali dengan dirimu juga dari awal aku sudah menolak pertunangan ini. Ayah dan ibu juga sudah membatalkan pertunangan ini tapi Viona saja yang masih ingin bersamaku" jawab Edward yang menjelaskan tentang Viona yang merupakan mantan tunangannya.


"Perempuan tidak tahu malu! Sudah jelas putraku menolaknya dia masih saja mengejar putraku. Bagaimana caranya agar dia bisa pergi dari kehidupan putraku?" ucap ibu Kiana yang memikirkan cara untuk menyingkirkan Viona.


"Caranya gampang bu! Buat Lily hamil saja maka, masalah selesai" jawab Edward yang menelan makanannya.


Lily yang sedang meminum minumannya tiba - tiba saja tersedak setelah mendengar jawaban Edward. Ibu Kiana matanya langsung terang dan terlihat sangat sumringah.


"Apa?! Tapi aku baru saja memulai kuliahku! Aku tidak ingin terlalu terburu - buru" ucap Lily yang sedikit menentang ucapan Edward.


"Aku tahu sayangku... Tapi tidak ada cara lain lagi" Edward membersihkan bungkusan makanannya setelah selesai makan.


"Tapi ada resikonya juga Edward dan resikonya juga sangat besar. Resikonya adalah Viona pasti akan mencari cara untuk menyingkirkan anak yang berada di dalam rahim Lily atau mungkin dia mengeluarkan bukti kalau anak yang di dalam kandungan Lily adalah anak lain" ucap ibu Kiana yang menyebutkan resiko yang terjadi kalau Lily hamil.


"Tenang saja! Aku bisa mengatasinya! Kita juga memiliki banyak koneksi di berbagai bidang bu, jadi jangan khawatir" Edward berusaha menenangkan ibunya agar tidak terlalu khawatir.


"Dengar sayangku! Jangan khawatir masalah semestermu aku pasti akan menghamilimu saat mendekati masa - masa ujian kenaikan jadi,tidak perlu khawatir" ujar Edward yang menenangkan istrinya dari rasa khawatir.


Lily percaya suaminya pasti melakukan hal itu karena dia selalu berpegang teguh pada perkataannya. Mereka pun selesai makan dan segera membereskan bungkus makanan dan minuman mereka.


...****************...


Keesokan harinya Lily kembali berkuliah seperti biasa. Lily berjalan - jalan bersama Yuri mengelilingi kampus dan berusaha tidak bertemu Brian. Karena Lily masih belum menjelaskan tentang kejadian kemarin.


"Lily! Kau hampir saja ketahuan kemarin! Kalau tidak..." ucap Yuri yang mengingatkan kejadian kemarin.

__ADS_1


"Sudahlah jangan diingatkan lagi! Sekarang aku nenghindari dia! Aku tidak ingin bertemu dia sekarang!" Lily berusaha menghilangkan kejadian kemarin dari pikirannya.


Yuri hanya tertawa menanggapi temannya itu. Mereka memutuskan untuk pergi ke perpustakan untuk mencari jawaban tugas kuliah mereka masing - masing.


Saat di perpustakaan tanpa terduga mata Yuri melihat Brian dan dua temannya sedang ada di perpustakaan. Dia pun segera kembali ke Lily untuk memberitahu hal ini.


"Lily!" panggil Yuri yang berlari ke arah Lily.


"Sshhh!!!... Jangan ribut Yuri!" ucap Lily yang melarang Yuri berteriak.


"Maafkan aku! Ada hal penting! Itu... Itu... Brian dan teman.- temannya ada disini! Kita harus pindah tempat!" Yuri memberitahu perihal yang dia liha tadi.


"Apa?! Yang benar saja?! Apa kau yakin?! Dimana kau melihatnya?!" tanya Lily yang langsung terlihat panik.


"Iya aku sungguh melihatnyaia ada di bagian loker buku sejarah dan budaya! Ayo cepat kita pindah!" Yuri langsung mengajak Lily pindah tempat.


Dengan segera mereka berdua pindah ke tempat yang lebih jauh agar tidak terlihat. Yuri memegang tangan Lily untuk menuntunnya berjalan. Tiba - tiba saja Yuri melihat Leo dihadapannya dengan cepat Yuri langsung mengukung Lily di rak buku. Leo yang melihat dua wanita tersebut yang sedang bermesraan segera langsung pergi dari sana. Leo tidak tahu kalau dua wanita itu adalah Lily dan Yuri.


"Apakah sudah aman, Yuri?" tanya Lily mengenai situasi.


"Sepertinya sudah aman! Ayo kita lanjut berjalan!" jawab Yuri yang langsung memegang kembali tangan Lily untuk segera pergi.


Mereka berdua menambah kecepatan langkahnya dan segera pergi dari sana. Lily menoleh ke arah belakang untuk melihat situasi. Mata Lily melihat ada Brian yang sedang lewat dan dia memberitahu Yuri untuk segera berlari keluar perpustakaan.


Brian yang menoleh kanan kirinya seperti mencari sesuatu. Leo dan Tito menghampiri Brian yang sedang mencari sesuatu tersebut.


"Yuri ayo cepat! Kalau tidak kita akan tertangkap!" ucap Lily yang terburu - buru berlari menjauh dari daerah perpustakaan.

__ADS_1


Makasi yang sudah baca dan jangan lupa kasi support.


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>>>


__ADS_2