Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Berkelahi dengan cara gentle


__ADS_3

Keesokan harinya terjadi masalah di kediaman Edward yang dimana sang istri tidak pergi ke kampus. Lily terus merengek dengan duduk di lantai dan menendang - nendang seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh sang ibu. Edward memijat pelipisnya melihat tingkah istrinya.


"Aku tidak mau ke kampus! Biarpun aku dipaksa!" ucap Lily yang melipat kedua tangannya di dada.


"Ayolah baby! Nanti kamu bosan sendirian di rumah" jawab Edward yang masih berusaha membujuk sang istri.


"Aku sudah bilang tidak ya tidak! Kan ini weekend makanya aku tidak mau ke kampus!" Lily memanyunkan bibirnya sambil menatap Edward.


"Weekendnya mulai besok baby,kan besok hari sabtu dan sekarang hari jumat" Edward sedikit menjelaskan kesalahan hari yang diucapkan Lily.


"Sekali tidak ya tidak!".


Edward sudah sangat pening menangani ibu hamil ini. Tapi dia tidak menyerah sama sekali dan tetap membujuk Lily.


"TIDAK! AKU TIDAK MAU KE KAMPUS KECUALI, PERGI KE KLUB BASKET!".


"Iya! Iya! Tidak pergi ke kampus. Tetapi saat di rumah jangan nakal,oke? Kalau mau pergi keluar ada beberapa pengawak yang bisa kau ajak dan harus tetap kabarin,oke?".


Lily mengangguk iya mengenai ucapan Edward. Dengan terpaksa Edward harus menghubungi Sean untuk meminta izin istrinya. Bukan Sean namanya kalau tidak menerima bayaran. Sean mau mengambil surat izin asalkan rekeningnya ditransfer uang saku. Demi keinginan sang istri, Edward mentransfer uang sebesar seratus juta ke rekening Sean.


Setelah mentransfer uang, Edward menggendong Lily kemudian dipindahkan ke sofa. Edward pamit berangkat kerja kepada Lily dan diakhiri dengan ciuman kening. Lily melambaikan tangannya kepada Edward yang menjauh.


Melihat Edward menjauh Lily bangkit lalu pergi ke dapur mengambil cemilan dan menyiapkan susu hamilnya. Namun saat di dapur, Lily sudah melihat segelas susu hamil dan sekarang tinggal mengambil cemilan. Lily mengeluarkan semua cemilan yang dia simpan di rak. Saat Lily akan membawa cemilannya tiba - tiba ada empat pengawal berdiri di sampingnya.


"Bawa semua cemilan ini dan susu hamilku ke atas meja dekat sofa" perintah Lily kepada empat pengawal tersebut.

__ADS_1


Para pengawal tersebut langsung menuruti perintah nona muda Lawrence. Lily berjalan terlebih dahulu diikuti empat pengawal tersebut. Para pemgawal tersebut meletakkan cemilan dan gelas susu di atas meja dengan hati- hati.


Lily tersenyum kepada empat pengawal tersebut sebagai tanda terima kasih. Empat pengawal tersebut kembali ke posko masing - masing. Lily menyalakan televisi sambil memakan cemilannya.


***************


Di kampus tempat Lily(sorry author lupa apa nama kampusnya) terjadi keributan antara tim basket dengan tim sepak bola. Yang dimana mereka memperebutkan lapangan dan manajer. Tim sepak bola sangat menginginkan manajer yang dimiliki tim basket.


Saat ini kedua tim tersebut berkumpul di lapangan utama. Dua kapten berhadap - hadapan dengan tatapan tajam.


"Berikan manajermu Sean! Kami hanya meminjamnya sebentar saja" ucap kapten tim sepak bola.


"Maafkan aku, Finno! Sepertinya aku tidak bisa meminjamkan manajer kami karena kami memerlukannya juga" jawab Sean dengan nada bicara lembut.


"Manajer kami tidak memahami tentang sepak bola dan serahkan lapangan outdor tersebut sebab lapangan itu tidak cocok dengan kalian" Sean tetap mempertahankan Lily di timnya.


Finno mulai kesal dengan omongan Sean. Karena tidak ada cara lain Finno melepas jaketnya kemudian dalam posisi kuda - kuda yang sebagai tanda untuk menantang Sean. Kerumunan mahasiswa dan mahasiswi tersebut langsung bersorak melihat posisi Finno. Sean juga melepas jaketnya dan meregangkan sedikit tubuhnya.


Max yang baru keluar dari satu kelas, melihat kerumunan di lapangan utama. Max fokuskan matanya untuk melihat siapa yang akan berkelahi tersebut dan ternyata itu adalah Sean. Dengan segera Max menghampiri kerumunan tersebut.


Sean dan Finno bersiap - siap dalam posisi dan yang menjadi wasit adalah Lola. Wasit menghitung mundur dan dimulai


"Batu... Gunting... Kertassss... Akhhh!!!..." perkelahian yang dilakukan bukanlah perkelahian adu tojos melainkan batu gunting kertas. Hasilnya sama.


Dua kapten tersebut kembali melanjutkan perkelahian tersebut dan mengucapkan secara bersamaa.

__ADS_1


"Batu... Gunting... Kertasss... Akhhh!!!...".


Hasilnya sama lagi.


"Batu... Gunting... Kertasss... Akhhh!!!...".


Hasil kali ini yang menang adalah Sean tapi Finno meminta lagi.


"Batu,gunting,kertass... Akhhh!!!..." .


Sean menang lagi.


"Akhhh!!!... Awas kau,Sean! Aku akan mengambil manajermu apapun caranya!" ucap Finno yang merasa sangat kesal akibat kekalahannya.


"Apapun caranya? Maka, aku akan gunakan berbagai cara untuk menghentikanmu" jawab Sean dengan penuh keberanian.


"Baguslah kalian berdua sudah berhenti berkelahi dengan perkelahian konyol kalian sekarang kalian berdua ikut aku" ucap Max yang muncul secara tiba - tiba.


Para mahasiswi langsung berteriak kencang melihat Max yang tiba - tiba. Max memberikan senyum kepada semua mahasiswi dan teriakan mereka semakin kencang. Sean menutup telinganya mendengar teriakan para mahasiswi kecuali Lola.


Max membawa kedua kapten tim tersebut ke ruangannya. Sedangkan para anggotanya kembali ke kelas masing - masing. I


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>

__ADS_1


__ADS_2