Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Max dan Yuri berada di satu tempat


__ADS_3

Edward merasa khawatir dengan kehadiran Rika. Mungkin bisa saja Rika melukai Lily atau melakukan hal yang lebih parah lagi. Lily tidak mendengar suara Edward di sebrang sana.


^^^"Sayang?".^^^


"Hm? Astaga maafkan aku baby! Tadi aku melamun".


^^^"Apa kau mengkhawatirkan diriku?".^^^


Edward mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya barulah dia menjawab pertanyaan Lily,


"Iya! Aku takut kalau wanita ular itu melukai baby atau bisa hal lebih parah dari yang aku bayangkan apalagi dengan kondisi baby sekarang".


^^^"Kan aku sudah katakan tidak perlu khawatir, banyak yang menjagaku disini".^^^


"Aku berdoa agar wanita itu tidak mengganggu baby".


^^^"Terima kasih doanya sayangku".^^^


"Ngomong - ngomong baby, kenapa baby belum tidur? Seharusnya sudah malam disana".


^^^"Hehehe... Ngidam malam".^^^


"Apa yang baby ngidamin?".


^^^"Ngidam salat buah".^^^


"Bukannya di salat buah ada susu kental manis? Terus kenapa baby meminta salad buah?".


^^^"Karena baby pengen! Tenang saja! Sean sedang membuat salad dengan campuran susu hamilku dan kejunya adalah keju khusus untuk ibu hamil".^^^


"Tunggu! Kenapa Sean ada disana? Apa karena kejadian kemarin?".


^^^"Sean menginap disini demi menjaga diriku selama kau di luar negri dan dia meminta upah selama dia disini".^^^


"Baby! Berikan ponselmu kepada Sean".


Lily memberikan ponselnya kepada yang kebetulan sedang duduk berhadapan dengan Sean di meja makan. Sean melihat nama yang tertera di layar ponsel Lily langsung merasa lesu.


^^^"Halo! Kenapa?".^^^


"Judes sekali sama kakak sendiri".

__ADS_1


^^^"Ngomong aja ada keperluan apa?".^^^


"Jaga Lily! Jangan biarkan lecet sedikitpun!".


^^^"Tanpa kaknya beritahu aku sudah mengetahuinya".^^^


"Awas saja lecet!".


^^^"Ya ampun! Tenang saja! Banyak yang menjaga kakak ipar disini".^^^


"Baguslah! Berikan kembali ponsel Lily kepada Lily".


Sean menyerahkan ponsel tersebut kepada pemiliknya. Lily kembali melanjutkan panggilan teleponnya.


^^^"Sayang sudah makan belum?".^^^


"Belum! Tidak ada nafsu".


^^^"Makan dulu sana! Dia tidak konsentrasi nanti".^^^


"Nanti saja! Aku masih kesal".


"Iya my baby".


"Aku mau tidur dulu baby nanti telponan lagi, love you baby♡~...".


^^^"Love you too♡~...".^^^


Sean berusaha tidak mendengar percakapan kakak dan kakak iparnya. Lily hanya tertawa melihat ekspresi Sean yang tertekan.


"Jangan begitu Sean! Tidak baik untuk kesehatan wajah" ucap Lily yang masih tertawa.


"Terserah kakak ipar saja! Hem!" jawab Sean yang memotong buah.


Lily tersenyum kecil melihat wajah Sean. Mereka berdua sedang sibuk di dapur, Hazel dan Zeta sedang tidur, lalu bagaimana dengan Max dan Yuri? Yak! Betul sekali! Mereka tidur berdua di kamar Lily.


Max memeluk Yuri dari belakang. Yuri bisa merasakan tangan besar Max di pinggangnya. Max sama sekali tidak bisa tidur saat satu ranjang dengan pacarnya tersebut.


"Kau belum tidur?" tanya Yuri yang menyadari Max belum tidur.


"Belum! Kenapa?" jawab Max singkat.

__ADS_1


Yuri membalikkan tubuhnya dan sekarang dirinya berhadapan langsung dengan Max. Mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan sinar rembulan menembus kaca jendela kamar Lily.


"Kita bikin anak yuk!" ucap Max tanpa rasa ragu sama sekali.


"PLAK! Tidak! Belum waktunya!" jawab Yuri yang mendaratkan satu tamparan di pipi Max.


"Maaf.... Aku keceplosan saja mengucapkan kalimat itu" Max menyentuh pipinya yang ditampar tadi.


"Lain kali kalau ngomong itu hati - hati! Asal saja!" Yuri membuat wajah cemberut.


"Tapi aku tidak bercanda mengucapkan kalimat itu".


"Maksudmu?".


"Tiba - tiba saja aku menginginkan seorang anak".


"Kenapa kau menginginkannya? Apa karena Lily sedang hamil?".


"Itu alasan keduaku. Alasan pertamaku adalah tadi saat aku jalan - jalan di koridor kampus aku melihat seorang dosen wanita membawa anaknya dan anak itu menyapaku, mulai disanalah aku menginginkan seorang anak".


"Aku minta maaf Maxxie untuk sekarang aku belum bisa memberikanmu karena kita belum menikah dan kita baru beberapa pacaran".


"Aku mengerti Yeppie! Nanti naik semester tiga kita nikah yuk!".


"Tidak bisakah menunggu sampa aku lulus kuliah?".


"Kau lulus kuliah tiga tahun lagi. Jika anak Edward lahir tahun ini berarti saat ibunya lulus dia sudah berusia tiga tahun dan di saat itu juga usiaku menginjak tiga puluh satu tahun. Apa menurutmu tidak terlalu tua untuk memiliki anak di usia segitu?".


"Menurutku tidak sama sekali Maxxie! Ayah dan ibuku saja baru memilikiku saat mereka berusia tiga puluh tahun lebih. Lagipula itu adalah usia yang sempurna untuk memiliki anak karena di usia segitu orang tua bisa merasa dewasa".


"Aku mengerti Yeppie! Kalau begitu aku akan menunggumu sampai kau lulus dan kuliah lah yang benar".


"Hehehe... Iya Maxxie".


Max mencubit pelan hidung Yuri dan mereka tertawa bersama. Pasangan yang terpaut jauh usianya ini tidak memiliki masalah sama sekali selama pacaran tidak seperti pasangan pada umumnya yang memilih mencari pasangan dengan usia sebaya atau yang lebih tua sedikit dari pada dirinya tetapi tidak dengan Lily dan Yuri yang menerima apa adanya kekasih mereka walaupun usia mereka berbeda delapan tahun. Bagi mereka itu bukanlah masalah besar dan bagi mereka yang penting dalam menjalin hubungan adalah cara saling memahami satu sama lain dan saling pengertian. Jika dua itu sudah lengkap maka, mereka merasa senang.


INI CHAPTER DOUBLE UPDATENYA GUYSSS


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>

__ADS_1


__ADS_2