Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Buat Nama


__ADS_3

Hari demi hari terus berlanjut dan Edward semakin pusing menangani permintaan istrinya yang semakin aneh. Edward sudah menuruti semua permintaan istrinya namun ketika sudah dituruti tiba - tiba saja Lily ingin yang lain.


Contohnya saja hari ini, awalnya Lily meminta roti tawar dengan keju tapi tiba - tiba berubah dan menginginkan pie susu. Edward memang bisa membelinya sendiri tetapi ia takut kalau keinginan istrinya tiba - tiba berubah.


"Baby~.... lebih baik baby ikut aku saja ke toko roti supaya baby bisa pilih sendiri" ucap Edward yang sedang membujuk Lily.


"Baby tidak mau keluar rumah baby maunya kamu saja yang beli,males keluar" jawab Lily dengan mulut menggembungnya.


"Ayolah baby.... nanti disana baby bisa memilih roti yang baby mau terus sekalian kita belanja keluar beli jajan atau hal lainnya yang baby mau,ikut ya?" Edward tetap berusaha membujuk Lily agar mau ikut.


"Tidak! Sana pergi beli" perintah Lily yang melipat kedua lengannya.


Edward hanya bisa pasrah saja. Dia mengambil kunci mobil lalu pergi ke toko roti. Lily yang melihat suaminya sudah pergi langsung saja dia memakan roti yang dibuat Edward tadi.


Sebenarnya Lily sangat ingin sekali memakan roti tawar tersebut tapi dia malu dilihat saat makan. Dia takut suaminya melihat dirinya saat makan karena menurut Lily, badan dia semakin melar,porsi makan terus bertambah,dan selalu manja.


Lily merasa insecure saat keluar rumah dan melihat cewek - cewek dengan badan yang sempurna seperti dia dulu. Itu adalah alasan dia tidak mau keluar rumah walaupun Edward memaksanya.


Lily berjalan masuk ke kamarnya. Di kamarnya terdapat sebuah cermin berukuran besar yang bisa menampakkan seluruh tubuhnya. Lily pandangi tubuhnya yang mulai membesar. Memutar badan ke kiri dan ke kanan Lily merasa tidak percaya diri akan dengan diri dia sekarang.


"Aku makin gemuk.... aku takut Edward tidak mau memandangku lagi karena tubuhku" batin Lily dengan wajah cemberut.


Dia berjalan menuju ruang tamu dan memakan beberapa cemilan yang ada disana. Lily masih memiliki rasa takut untuk memakan beberapa cemilan tersebut tapi dia sangat menginginkannya. Dan yaa... pada akhirnya dimakan juga.


Beberapa menit kemudian Edward kembali dengan berbagai macam roti. Lily sangat senang bisa melihat berbagai macam roti tersebut namun dia takut kalau dirinya akan kelepasan saat akan memakannya.


Edward kebingungan melihat wajah istrinya yang kusut seperti pakaian. Dia menghampirinya lalu mengajaknya duduk di sofa.


"Baby kenapa? Tidak suka? Kalau tidak suka nanti aku beliin lagi" tanya Edward yang mengelus kepala belakang Lily.


"Hmmm.... sayang! Apa aku gendut?" bukannya menjawab pertanyaan Edward melainkan Lily memberikan pertanyaan.


"Iya! Baby memang gendut tapi baby jadi gendut karena baby sedang mengandung Pinpin jadi menurutku ya wajar saja itu semua demi kesehatan anak kita, kenapa tiba - tiba menanyakan hal ini?" Edward menjawab pertanyaan Lily dengan nada bicara paling halus.


Aku insecure melihat cewek - cewek yang diluar sana terus bentuk badannya pada bagus - bagus semua dan aku takut nanti kamu pergi cari cewek lain karena aku gendut" Lily memajukan mulutnya.


"Jangan bicara seperti itu baby! Aku tidak akan meninggalkanmu sampai kapanpun, aku tidak tetarik sama sekali dengan cewek murahan yang diluar sana. Apa baby tidak ingat bagaimana usahaku saat mau melamarmu? Apa tidak ingat?".


"Ingat kok! Saat itu kamu berusaha sekali untuk mendapatkan kepercayaan kakek dan dua saudaraku".


"Itu baby tahu! Untuk dapetin produk bagus seperti baby saja memerlukan usaha yang besar, jadi untuk apa aku mencari yang lain? Jangan insecure baby! Aku mencintai baby apa adanya meskipun bentuk badan atau wajah baby berubah aku tetap mencintai baby apa adanya".

__ADS_1


"Makasi sayang.... maaf ya aku bilang seperti itu tadi".


"Lain kali jangan berpikiran seperti itu lagi karena tidak baik untuk Pinpin, ayo makan semua rotinya!".


Edward memberikan semua roti yang dia beli tadi kepada istrinya. Lily sangat senang setelah mendengar jawaban suaminya yang tetap percaya kepadanya.


Melihat istrinya yang lahap memakan roti - roti yang dia berikan, Edward melebarkan senyumnnya. Edward mengelus kepala Lily kemudian beralih ke perutnya.


"Denger ya Pinpin, ibumu ini lagi sedih tadi katanya takut ayah cari cewek lain. Ya ayah bilang saja ayah maunya sama ibu untuk apa ayah cari yang lain,benar kan nak?" ucap Edward yang mengajak janinnya bicara.


"Deg! Deg!" Pinpin membalasnya dengan dua tendangan.


"Tu baby! Pinpin saja setuju dengan perkataanku,hahaha..." Edward tertawa melihat wajah Lily yang mengembung karena memakan banyak roti.


"Kenapa ketawa sayang? Apanya yang lucu?" tanya Lily yang masih belum paham dengan tawa Edward.


"Pipi kamu lucu sekali baby jadi pengen aku gigit" jawab Edward yang berpura - pura akan menggigit pipi Lily.


"Jangan! Pipiku tidak enak! Oh iya sayang bagaimana kalau kita memikirkan nama yang bagus untuk Pinpin" Lily langsung mengalihkan topik pembicaraan dan mendorong wajah Edward.


"Namai saja Pinpin".


"Aku tidak ada ide baby dan masalahnya kita tidak jenis kelaminnya".


"Ya sudah itu mudah tinggal buat dua nama, satu nama laki - laki jika yang lahir laki - laki dan satunya lagi nama perempuan jika lahir perempuan".


"Aku tidak ada ide".


"Bagaimana kalau namanya berawalan L? Sesuai awalan namaku".


"Boleh sih! Bentar aku lagi cari ide".


Mereka berdua mulai memikirkan nama yang sempurna untuk anak mereka. Yang terpikir di otak Edward hanya nama laki - laki saja karena dia belum bisa menemukan nama perempuan L selain nama istrinya.


"Sayang! Bagaimana kalau yang cowoknya kita kasih nama Luke yang artinya pemberi cahaya? Bagaimana?" Lily sudah mengatakan usulan namanya terlebih dahulu.


"Luke? Menurutku tidak buruk tapi aku punya usulan bagaimana kalau namanya Leon yang berarti singa yang pemberani,mau?" Edward mengatakan usulan nama yang baru saja terpikir.


"Hmmm... tidak buruk juga tapi kalau anak ini laki - laki berarti harus pakai margaku dong? Sesuai perjanjian kak Hazel tiga bulan yang lalu".


"Iya juga sih".

__ADS_1


FLASHBACK


Tiga bulan yang lalu Lily meminta Edward untuk mengajaknya makan siang bersama Hazel dan Zeta. Sebenarnya Edward memiliki sedikit masalah dengan Hazel sejak Lily izin kuliah sehingga mereka tidak bicara lagi.


Tapi demi sang istri, Edward harus melakukannya. Edward tidak langsung menghubungi Hazel melainkan menghubungi Zeta. Anak kedua dari keluarga Lawrence menyetujuinya dan meminta Edward segera datang.


Saat ini empat orang yang akan makan siang sudah berkumpul di satu ruangan yang sama yaitu ruangan direktur. Hazel menatap tajam Edward yang terus memberikan perhatiannya ke Lily.


"Kenapa kak Hazel melihat kami seperti itu? Kak Hazel tidak suka ya?" tanya Lily yang menyadari tatapan kakaknya tersebut.


"Iya! Kakak tidak suka sama suamimu itu!" jawab Hazel yang tumben mengatakan kebenarannya.


"Kenapa kakak tidak suka sama Edward? Memangnya Edward ada buat salah apa sama kakak?" Lily sedikit khawatir setelah mendengar ucapan Hazel.


"Salah dia itu karena dia mau menamai nama anakmu dengan nama yang aneh,ya mana mungkin aku terima! Pokoknya marga anakmu besok harus Lawrence" Hazel sengaja mengatakan itu demi keturunan keluarganya.


"Kok gitu kak?! Kan aku sudah menikah jadi marga anak ini harus marga keluarganya Edward".


"Tidak! Pokoknya anak ini marganya harus Lawrence jika dia laki - laki namun jika perempuan maka dia mengikuti marganya Edward".


"Tidak adil kak! Mana mungkin kakek terika?! Terus bagaimana dengan keluarga Edward yang lain?!".


"Kalau mereka tidak terima maka putuskan hubunganmu dengan Edward".


Lily terkejut mendengar ucapan kakaknya. Edward menepuk pelan bahu Lily dan memberi kode kepada istrinya agar terima saja.


"Tidak apa - apa baby,terima saja ini demi kebaikan keluarga dan menurutku ini adil lagipula kita kan masih bisa buat lagi" ucap Edward yang meyakinkan istrinya.


Lily mengangguk paham. Sejak saat itu telah diputuskan kalau marga anak pertama Edward dan Lily adalah Lawrence jika laki - laki.


FLASHBACK SELESAI


"Sayang! Bagaimana kalau namanya digabung saja, nama Lukenya di tengah terus nama Leonnya di belakang terus nanti tinggal diumbuhin beberapa huruf supaya sempurna" usul Lily mengenai nama anaknya.


"Boleh juga sih.... mari kita pikirkan" Edward setuju dengan usulan istrinya tersebut.


Mereka berdua mulai memikirkan nama yang sempurna. Atau juga mereka bisa melengkapi usulan masing - masing.


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>

__ADS_1


__ADS_2