Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Mau lahiran


__ADS_3

Catatan,abaikan time stamp


Setelah memikirkan rangkaian nama yang sempurna akhirnya Lily mengusulkannya. Edward mendengarkan baik - baik ucapan Lily.


"Sayang! Bagaimana kalau namanya Lawrence Leondranda Luke" usul Lily mengenai nama anaknya.


"Menurutku nama Leondrandra sebaiknya diganti jadi Leondranda" jawab Edward yang memperbaiki sedikit nama anaknya.


"Oke sudah diputuskan nama laki - laki kita adalah Lawrence Leondranda Luke, sekarang nama perempuannya".


"Bagaimana kalau namanya Davis Tiana Erina?".


"Itu bagus! Aku menyukainya♡".


Lily sangat senang mendengar dua nama anaknya yang akan dipakai. Edward kembali memeluk istrinya dan tidak lupa mengelus perut anaknya.




Hari demi hari terus berlanjut dan banyak hal yang terjadi diantara mereka. Mulai dari Lily yang permintaannya semakin aneh dan Edward hanya bisa menurutinya walaupun itu pun tidak mungkin.



Perut Lily semakin bulat dan kondisi kesehatan Lily semakin baik. Edward tidak lupa mengingatkan istrinya agar tidak memakan makanan yang berbahaya bagi ibu hamil dan tidak membiarkan dia kelelahan.



Hari ini adalah hari dimana usia kandungan Lily memasuki sembilan bulan. Lily sangat senang karena sebentar lagi anaknya akan lahir.



Suasana rumah terbilang sangat menenangkan dan sangat cocok untuk Lily. Edward memutuskan melakukan pekerjaannya di rumah saja. Dia ingin terus mengawasi istrinya, takutnya nanti Lily tiba - tiba lahiran.



"Sayang! Aku mau peluk! Sama mau jajan" teriak Lily yang duduk di sofa ruang tamu.



"Iya baby sebentar! Mau jajan apa baby?" tanya Edward yang sedang menyiapkan jajanan untuk istrinya.



"Aku mau puding coklat terus dicampur selai stroberi sama keju" jawab Lily yang bersandar pada sofa.



"Segera datang baby" Edward langsung menyiapkannya.



Edward langsung menyiapkan kebutuhan istrinya dan segera membawanya. Sambil menunggu suaminya yang menyiapkan pudding Lily menonton tv sejenak.

__ADS_1



"Ini dia baby, sesuai yang kau inginkan" ucap Edward yang membawakan pudding coklatnya.



"Makasi sayang,hehehe...." jawab Lily yang mengambil cemilannya.



Lily langsung menyantap pudding tersebut. Edward membuka aplikasi yang ada di ponselnya sambil menemani istrinya makan. Lily sesekali menyuapi suaminya yang sibuk main ponsel.



"Sayang~....".



"Kenapa baby?".



"Kira - kira kapan Pinpin ya lahirnya? Aku pengen cepet - cepet ketemu terus bisa main bersama, makan bersama,tertawa bersama dan banyak kegiatan lainnya kita lakukan".



"Sabar ya baby mungkin sebentar lagi Pinpin lahir".




☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆



Seminggu kemudian pasangan suami istri itu harus berpisah untuk sementara waktu ya... cuman tiga jam aja. Alasannya karena Edward harus menghadiri rapat yang sangat penting yang tidak bisa dihindari.



Saat ini Lily sedang duduk bersantai di taman belakang ditemani oleh Yuri. Sudah lama sekali dua besti tersebut tidak saling bertemu dan sampai pada akhirnya Yuri memiliki kesempatan bertemu dengan Lily.



Banyak hal mereka dibicarakan baik tentang suasana di kampus atau hal lainnya. Yuri sangat tidak sabar menantikan keponakannya yang akan lahir sebentar lagi.



"Lily! Aku tidak sabar! Ayo Pinpin segeralah lahir lalu kamu bisa ketemu bibi yang cantik ini" ucap Yuri yang berbicara di depan perut Lily.



"Sabar ya bi, nanti Pinpin akan membuat bibi kecapean mengajakku bermain" jawab Lily yang membuat suara seolah - olah seperti Pinpin.

__ADS_1



"Hadeuhhh... capek deh".



Lily menanggapinya dengan tawa kecil saja. Yuri juga ikut tertawa mendengar tawa temannya.



"Yuri antarkan aku ke dapur yuk! Aku mau makan sesuatu di dapur" ajak Lily yang berusaha berdiri.



"Hayuk! Sini aku bantu" jawab Yuri yang membantu Lily berjalan.



Yuri memegangi tangan Lily yang berjalan perlahan - lahan. Saat sampai di dapur, Lily sengaja dilepas dan membuka kulkas.



Tapi baru saja akan mengambil minuman di dalam kulkas tiba - tiba saja Lily merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Lily jatuh terduduk sambil memegangi perutnya dan memanggil Yuri.



"Yuri! Aduhhh!.... perutku sakit sekali! Yuriii!..." teriak Lily yang memegangi perutnya.



"Astaga Lily! Kenapa dengan perutmu?! Aku telpon ambulan ya?" jawab Yuri yang terambat terkejut.



"Perut aku sakit sekali Yuri.... telpon Max suruh dia kesini sama Edward".



"Iya! Iya! Aku telpon sekarang" Yuri memapah Lily menuju mobilnya.



*Maaf ya author baru bisa update sekarang karena dari kemarin sibuk terus ndk selesai - selesai,doakan urusan author cepet selesai ya😭 sumpah author pengen nulis tahu.*



*MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA*


*To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\>\>\>\>\>\>*


*Sekali lagi author minta maaf*


__ADS_1


![](contribute/fiction/6377828/markdown/5869145/1690802249698.jpg)


__ADS_2