
Setelah menghubungi Edward tiba - tiba saja Max terpikir sesuatu. Jika Lily diam sendiri di rumah maka siapa yang menjaganya? Memang benar ada para penjaga yang disuruh tapi itu masih termasuk bahaya, apalagi dengan kondisi Lily sekarang.
"Sebaiknya aku ajak Sean juga sekalian suruh dia menginap. Menurutku tidak baik meninggalkan ibu hamil sendirian di rumah takutnya nanti kenapa - napa, ushhh.... Huuu..." ucap Max yang diakhiri dia menghirup batang niko tin.
Max membuang yang dihirupnya di dekat kakinya kemudian dia injak sampai mati. Setelah menyelesaikan menghirup asap, Max memutuskan kembali melanjutkan kegiatan mengajarnya.
...****************...
Lily dan Yuri sudah menyelesaikan semua kelasnya. Tapi Lily masih memiliki kegiatan klub basketnya yang harus dia hadiri. Sambil menunggu Lily menyelesaikan tugas manajernya Yuri memutuskan pulang lebih dulu untuk minta izin dan mengambil beberapa barangnya untuk menginap di rumah Lily.
Yuri biasanya akan dijemput oleh supir suruhan ayahnya. Namun ada yang berbeda hari ini yang dimana biasanya supir ayahnya akan datang sepuluh menit lebih awal tetapi hingga sekarang orang suruhan ayahnya belum tiba. Yuri menoleh kanan dan kiri jalan raya berharap melihat mobil supir ayahnya.
Tin... Tin... Tin...
"Hey! Sendirian saja cewek bagaimana kalau aku mengantarmu?" tanya Max yang memberhentikan mobilnya di depan Yuri lalu menurunkan kaca mobilnya.
"Pak Max! Tidak perlu pak! Terima kasih banyak tapi supir ayah saya akan segera sampai" jawab Yuri dengan nada bicara formal.
"Naik sekarang atau aku akan menarikmu ke dalam mobil? Pilih yang mana my sweetie?" Max langsung memberikan pilihan kepada Yuri.
Tanpa pikir panjang sama sekali Yuri langsung masuk ke mobil Max. Baru saja masuk ke dalam Yuri langsung disambut ciu man oleh Max.
"Pak Max! Kita masih di area kampus! Sudah sana!" Yuri memukul bahu Max sebagai pelampiasannya.
"Sumpah Yuri! Aku kecanduan sekali dengan bi bir kecilmu itu" ucap Max.
Setelah selesai huru hara, Max melajukan mobilnya menuju rumah Yuri. Max fokus ke arah jalanan dan Yuri sibuk dengan ponselnya. Yuri tiba - tiba ingat kalau Max belum mengetahui lokasi rumahnya.
"Maxxie! Kita mau ke rumahku kan ?" tanya Yuri yang memasukkan ponselnya di tas.
"Iya! Kenapa Yu?" jawab Max yang melirik sedikit ke arah Yuri.
"Darimana kau tahu?".
"Aku mencari informasi tentang dirimu dimulai dari biodata, tempat tinggal,hobi,makanan kesukaan, artis favorit,dan ukuran baj--".
"Stop! Jangan sebut yang terakhir itu! Aku tahu!".
__ADS_1
"Hahaha... Iya Yu!".
"Tunggu! Kenapa kau memanggilku Yu? Namaku kan Yuri".
"Itu nama panggilanmu. Menurutku Yu itu artinya yeppie yeppie atau bisa juga yupi yang artinya kebahagian dab keimutan sebab itulah aku memanggilmu Yu. Tadi kau juga memanggilku Maxxie padahal namaku Max".
"Itu nama panggilanmu. Kan nama Max jadi aku tambahkan sedikit huruf. Arti Maxxie adalah Max sepenuhnya hanya mencintai Yuri".
"Ya ampun Yu kau membuat hatiku meleleh pengen aku eakhh!!!".
"Heh! Tidak boleh! Kalau sudah menikah baru boleh!".
"Ya sudah kalau begitu ayo nikah!".
"Maxxie! Belum waktunya! Bagaimana sih?!".
"Apa kau tega membiarkan aku menikah di umur tiga puluhan?".
"Memangnya berapa umurmu? Aku kan sembilan belas tahun".
"Umurku dua puluh delapan tahun sama seperti Edward dan umur Lily sekarang adalah dua puluh kalau tidak salah".
"Yap benar sekali".
"Aku tidak menduga sama sekali".
"Hehehe memang begitulah mereka".
"Oh ya Maxxieku!".
"Kenapa Yu?".
"Bisa tidak panggil aku Yeppie saja menurutku itu lebih bagus".
"Oke baiklah my Yeppie!".
"Makasi Maxxieku".
__ADS_1
"Sama - sama Yeppieku". (Syukur author anti baper saat nulis).
Mobil Max terus melaju hingga sampai tujuan. Yuri sangat senang mendapatkan nama panggilan dari Max begitu juga dengan sebaliknya.
...****************...
Mari kita beralih ke gedung olahraga yang dimana terjadi perdebatan antara Dovan dengan Kevin. Penyebab mereka bertengkar adalah Kevin tidak sengaja memyenggol Dovan sampai terjatuh. Posisi jatuh Dovan adalah tepat mengenai bahunya yang cedera. Dovan memukul punggung Kevin sehingga timbul lah perkelahian adu tojos diantara mereka.
"Lepaskan aku Sean! Akhhh!!! Awas saja kau, Kevin!" teriak Dovan yang tubuhnya ditahan oleh Jia dan Sean.
"Aku tidak sengaja menyenggolmu! Tinggal beritahu saja kesalahanku tidak perlu sampai memukul punggungku juga dong!" balas Kevin yang ditarik oleh Henryi.
"Bilang saja kau sengaja! Sini kau! Biar aku beri kau pelajaran!" Dovan terus memberontak ingin melawan Kevin.
"Ayo sini dong! Aku tidak takut sama sekali!" Kevin terpancing dengan ucapan Dovan.
Plak! Plok! Plak! Plok!
Lily memukuk kepala Dovan dan Kevin menggunakan kipas kertas berukuran besar. Ibu hamil itu berdiri diantara pria yang skan adu fisik tersebut.
"Kalian ini ya! Berkelahi seperti anak kecil saja! Dengar baik - baik ini! Kevin tidak sengaja menyenggolmu tadi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri jadi tidak perlu terpancing emosi seperti itu!" ucap Lily yang mempertegas nada bicaranya.
"Kalau tidak sengaja seharusnya dia ingat kalau bahuku lagi cedera!" jawab Dovan yang masih memberontak.
"Orang lupa mau bagaimana lagi! Sudahlah kalian berdua ini! Sekarang saling maaf - maafan! Cepat!" Lily menyiapkan kipasnya jaga - jaga kalau mereka berdua berkelahi lagi.
Kevin dan Dovan berjalan menghadap satu sama lain. Mereka mengulurkan tangan satu sama lain tanpa saling melihat satu sama lain.
"Maaf!" ucap mereka bersamaan.
"Yang benar minta maafnya! Saling tatap!" bentak Lily.
Dengan terpaksa mereka berdua saling bertatapan kemudian kembali ke posisi masing - masing. Latihan terus berlanjut walaupun dalam keadaan dua pemainnya sedang perang dingin.
MAAF TELAT UPDATE GUYSSS
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
__ADS_1
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>