Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Perut Lily Kram


__ADS_3

HELLO PARA READERS! SPESIAL MENUJU HARI ULANG TAHUN LILY AUTHOR MENGADAKAN Q&A YANG DIMULAI HARI INI SAMPAI DENGAN TANGGAL DUA APRIL


Jadi untuk kalian semua silakan memberikan pertanyaan apa saja dan kepada karakter siapa saja asalkan pertanyaannya sopan


Untuk contoh mengajukkan pertanyaan sudah tertera di chapter sebelumnya


Jangan lupa untuk memberikan pertanyaan.


...****************...


Lily terus mengusap perutnya yang terasa sakit. Sampai pada akhirnya Lily memutuskan untuk pergi ke toilet dengan membawa ponselnya. Lily izin permisi kepada Sean dan segera berlari ke toilet. Sean yang melihat ekspresi Lily yang kesakitan segera menghubungi sang kakak.


MARI KITA MASUK KE ROOM CHAT


EDWARD YANG SEBELAH KANAN EDWARD DAN YANG SEBELAH KIRI SEAN.


"Kakak".


^^^"Kenapa? Ada sesuatu yang terjadi?".^^^


"Iya! Aku lihat dari tadi kakak ipar terus mengusap perutnya tapi sekarang dia sedang di toilet".


^^^"Kapan sakit perutnya? Apa dia membawa ponselnya?".^^^


"Mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu dia bawa ponselnya kok".


^^^"Oke! Terima kasih aku segera kesana".^^^


"Hati - hati dan ingat menghubungi kakak ipar terlebih dahulu kalau mau datang ke kampus".


^^^"Iya!".^^^


CHATTING SELESAI MARI KELUAR.


Selesai memberitahi sang kakak, Sean diminta sang pelatih untuk memotivasi para juniornya. Sejujurnya Sean benci memberi motivasi ke orang lain padahal dirinya tidak memiliki motivasi sendiri untuk melakukan sesuatu.


...........


Lily yang berusaha menelpon suaminya dari tadi tapi tidak diangkat. Dia bingung kenapa sang suami tidak menjawab dan Lily sudah tidak kuat menahan rasa kramnya. Setelah beberapa menit panggilan telepon Lily diangkat.


"Halo sayang!".


"Aku sudah di kampus baby keluarlah sekarang".


"Aku tidak kuat berjalan sayang".


"Aku tidak berani masuk ke toilet wanita takutnya aku dikira melakukan hal yang tidak - tidak saat masuk. Lebih baik baby tunggu di depan toilet wanita aku segera kesana".


"Aku berusaha kesana".


Panggilan telepon berakhir. Lily berpegangan pada dinding bilik toilet dan berjalan perlahan. Edward berlari mencari toilet wanita dimana. Untungnya dia menemukan denah kampus dan lokasinya tidak jauh dari sini. Dengan kecepatan penuh Edward berlari kesana agar sang istri tidak menanti terlalu lama. Lily yang sudah keluar toilet wanita mendapati sang suami sedang berlari ke arahnya.

__ADS_1


Edward berhenti tepat dihadapan Lily dan langsung menggendongnya. Lily mengadukan sakit perutnya ke Edward.


"Sayang... Perutku kram... Huhu sakit sekali".


"Sini aku usap dulu".


Edward mengusap perut istrinya untuk menghilangkan rasa kramnya. Perlahan - lahan rasa sakit di perut Lily mulai hilang dan Lily mulai membaik.


"Lebih baik,baby?".


"Iya sayang! Usap terus".


"Kita pulang yuk! Terus nanti di rumah kita suruh dokter periksa kondisi perutmu".


"Iya!".


Edward membawa Lily menuju mobilnya. Saat ini suasana kampus sedang sepi jadi mereka berdua tidak menjadi pusat perhatian. Tangan Edward masih mengusap perut Lily yang perlahan - lahan mulai menghilang.


"Sayang bagaimana dengan tasku?" tanya Lily yang tiba - tiba teringat dengan perlengkapannya.


"Sebelum aku sampai disini aku sudah memberitahu Sean untuk membawakan tasmu ke mobilky dan dia sudah melakukannya".


"Makaci cayangku".


Lily mengecup pipi kanan Edward sebagai tanda terima kasih. Mereka berdua semakin dekat menuju mobil.


Edward membuka pintu kemudian mendudukkan Lily secara hati - hati. Lily masih menyentuh perutnya yang kembali mulai kram kembali dan dia melihat tasnya yang sudah ada di kursi belakang. Edward masuk ke mobil dan kembali mengusap perut istrinya.


MARI KITA REPLAY SEDIKIT TENTANG BAGAIMANA EDWARD MEMINTA SEAN MEMBAWAKAN TAS LILY.


"Aku tidak mau membawakan tas kak Lily,capek!" tolak Sean terhadap permintaan sang kakak.


"Ayolah Sean! Sebentar lagi sampai di kampus tolong bawakan tas dan izinkan Lily di kelas berikutnya".


"Kelas kak Lily sudah selesai dan untuk masalah tas aku tidak mau membawakannya".


"Nanti aku belikan apa saja yang kau mau!".


"Sungguh?! Apa saja?!".


"Iya! Asalkan kau membawa tas Lily ke mobilku nanti!".


"Aku mau tiga komputer model terbaru dan satu mobil sport warna putih harus yang bagus".


"Kalau masalah merknya aku tidak tahu bagaimana kalau aku berikan saja salah satu kreditku kemudian kau gunakan untuk keperluanmu".


"Okelah! Yang penting dapat mobil sport nanti aku bawakan".


"Terima kasih!".


Edward kembali fokus ke jalanan dan menambah kecepatan mobilnya. Sesampai di kampus ternyata Sean sudah menunggu Edward di gerbang kampus. Edward keluar dari mobil kemudian Sean meletakkan tas Lily di kursi belakang mobil. Sean langsung mendapatkan kartu kredit Edward dan pamit pergi. Barulah Edward mencari istrinya.

__ADS_1


REPLAY SELESAI LANJUT KE CERITA


Edward mengendarai mobilnya dengan kecepatan tidak biasa. Bukannya takut melainkan Lily merasa senang dan tidak merasakan sakit perut lagi. Edward tersenyum miring melihat tawa Lily saat dia menambah kecepatan mobil.


"Baby! Seperti saat dewasa Pinpin akan sering ugal - ugalan menggunakan motornya" ucap Edward yang sudah membayangkan bagaimana nasib anaknya di masa depan.


"Dia tidak boleh menjadi pembalap liar! Tapi kalau yang begini boleh kok asalkan dia menggunakan helm dan pelindung yang lainnya" jawab Lily yang masih terlihat bahagia.


********************


Mereka pun sampai di mobil dan tidak jadi memanggil dokter karena rasa kramnya sudah dipulihkan oleh usapan Edward. Saat ini pasangan suami istri tersebut sedang duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Edward memangku tubuh Lily yang juga mengusap perut sang istri.


"Baru saja diusap sudah hilang rasa sakitnya ini memang sengaja atau memang beneran sakit?" tanya Edward yang mempertanyakan rasa sakit tadi.


"Entahlah! Mungkin Pinpin saja yang minta diusap,hehehe..." jawab Lily yang diakhiri dengan senyuman manisnya.


Edward hanya geleng - geleng kepala mendengar jawaban sang istri. Mau itu sungguhan atau tidak Edward selalu menuruti permintaan sang istri.


"Sayang mau cium bibir" pinta Lily yang menyodorkan bi birnya.


Tanpa berlama - lama Edward mengabulkan permintaan sang istri. Bi bir Edward saat ini bertemu dengan bi bir Lily. Ciu man mereka semakin lengket. Edward terus menyerang Lily dengan ciu man mautnya. Lily terus memukul - mukul dada Edward yang dimana dia sudah kehabisan nafas. Sampai pada akhirnya Edward menyadari tindakannya dan melepas tautannya.


"Maafkan aku sayang" ucap Edward yang menundukkan kepalanya.


"Asal nyosor saja! Jadinya kelolosan" jawab Lily dengan judes.


"Kan yang minta baby bukan aku" Edward tiba - tiba terpikir sebuah ide jahil.


"Seharusnya kamu juga sadar kalau dirimu sudah kelolosan!" bantah Lily yang tidak terima dirinya disalahkan.


"Bagaimana aku tidak kelolosan yang minta kan baby" Edward tersenyum jahil saat melihat Lily mulai emosi.


"Mau aja nurutin!" Lily memalingkan wajahnya.


"Nanti kalau tidak diturutin yang marah siapa? Yang ngambek siapa? Yang merengek siapa?".


"Ya... Aku".


"Itu tahu jadi yang salah disini baby sama aku".


"Bukan salahku! Ini salahmu!".


"Salah kita berdua".


"Salahmu! Aku tidak mau disalahkan".


"Salah kita berdua".


"Kamu!".


Mereka berdua terus melakukan debatnya. Pada akhirnya Lily memutuskan mengakui kesalahannya dan Edward juga mengakui kalau dia sengaja menuduh istrinya karena dia ingin menjahili sang istri. Lily memukul - mukul dada Edward karena kesal dan yang dipukuli hanya tersenyum. Pasangan suami istri tersebut kembali melanjutkan waktu berdua di rumah dengan mesra

__ADS_1


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>>>


__ADS_2