
PESAN DARI AUTHOR: MAAF UNTUK PARA READERS TERCINTA UNTUK MENYAMPAIKAN KALAU AUTHOR TIDAK BISA MENULIS SEPERTI BIASA DIKARENAKAN JARI - JARI YANG SEBELAH KANAN AUTHOR TERLUKA SAMPAI MENYEBABKAN INFEKSI. TAPI AUTHOR MENGUSAHAKAN YANG TERBAIK UNTUK BISA MENULIS DENGAN CARA TIDAK MENULIS TERLALU BANYAK SEPERTI BIASA YANG DIMANA AUTHOR MENULIS SAMPAI SERIBU KATA SEKARANG AUTHOR POTONG MENJADI LIMA RATUS KATA ATAU LEBIH. SEKALI LAGI AUTHOR MENGUCAPKAN MINTA MAAF TAPI AUTHOR TETAP UPDATE NOVEL INI BEGITU JUGA YANG LAIN NAMUN DENGAN JUMLAH KATA YANG LEBIH SEDIKIT. MAKASI ATAS PERHATIANNYA.
Lily berpamitan kepada Sean dan memberitahu alasan dia pulang lebih dulu. Setelah mendapatkan izin dari Sean dengan segera Lily mendatangi sang suami.
"Kak! Jangan lari!" ucap Sean yang memperingatkan Lily.
"Oh iya! Terima kasih telah mengingatkan!" jawab Lily yang diakhiri dengan lambaian tangan.
Lily memutuskan untuk jalan cepat saja karena takutnya dia akan jatuh jika dia berlari. Dengan cepat Lily menghindari beberapa orang untuk segera sampai.
Sesampai di depan gerbang kampus, Lily melihat mobil Edward yang terparkir di cafe depan. Saat akan menyebrang jalanan tiba - tiba saja tangan kanannya digenggam oleh Max. Lily melihat Max dengan ekspresi bingung.
Max membantu Lily menyebrang jalan hingga sampai di cafe depan. Edward yang melihat pemandangan tersebut, menggenggam kuat gelas yang dia pegang. Mereka berdua memasuki dengan posisi tangan yang masih sama.
"Mau sampai kapan pegangan tangannya?" tanya Edward dengan ketusnya.
Lily yang menyadari dirinya masih berpegangan tangan segera melepas pegangan tersebut. Kaki Lily melangkah mendekati meja yang ditempati Edward.
__ADS_1
"Maaf sayang! Tadi tiba - tiba saja kak Max menggenggam tanganku" jawab Lily sambil menundukkan kepalanya.
Edward tidak menjawab sama sekali. Dia meletakkan gelas yang dia pegang dengan kasar sampai mengagetkan sang istri. Lily tahu saat ini Edward sedang marah tapi untuk meredakan kemarahannya sangat sulit. Edward berdiri kemudian meraih tangan Lily dan mengajak dia pergi dari sana. Max hanya diam saja melihat Edward membawa Lily secara paksa.
Edward terus menarik Lily dengan paksa tanpa memperdulikan Lily yang kesakitan. Tangan Edward membuka pintu mobil untuk Lily lalu mendorongnya masuk. Kemudian Edward barulah masuk ke mobil melalui sisi lain mobil.
Mobil tersebut melaju dengan kecepatan tinggi. Max yang masih di dalam kafe hanya menatap kepergian Lily.
"Kenapa kau takut sekali aku mengambil istrimu? Aku tidak berminat sama sekali" batin Max yang duduk di tempat Edward tadi.
...****************...
Mereka pun sampai di kediamannya. Edward hanya membuka pintu untuk diri dia saja dan tidak membukakan pintu Lily. Cara Edward menutup pintu terbilang kasar karena lagi - lagi dia mengagetkan Lily.
Edward berjalan masuk dengan cepat meninggalkan sang istri. Lily membuka pintunya sendiri lalu menyusul sang suami.
Di ruang tamu, Edward duduk di salah satu sofa dengan wajah ditekuk. Lily perlahan - lahan berjalan mendekati Edward.
__ADS_1
Saat Lily akan duduk di sofa yang berhadapan dengan Edward tiba - tiba ditahan oleh Edward. Lily sedikit kebingungan dengan maksud Edward menahan dia.
"Kenapa kau mau duduk?!" tanya Edward dengan nada bicara dingin dan ketus.
"Aku capek berjalan..." jawab Lily dengan perasaan ketakutan.
"Cuman jalan segitu saja sudah capek?! Tadi jalan sambil genggaman tangan tidak capek!".
"Itu kak Max yang duluan, aku mau menolaknya tapi aku memiliki perasaan tidak enak untuk menolaknya".
"Kalau kamu begitu terus bisa - bisa saja Max menggandeng tanganmu! Apa kau tidak mengetahui perasaanku saat aku melihatmu jalan sambil genggaman tangan begitu?!".
SEGINI SAJA YA NANTI MALEMAN LAGI
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>
__ADS_1