Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Bikin Rencana Liburan dulu


__ADS_3

Keesokan harinya Lily pergi ke kampus tanpa gangguan sama sekali tidak seperti kemarin. Hari ini Lily dan Yuri pergi ke kantin untuk membahas liburan di kolam renang besok sabtu.


"Kita main apa saat di kolam renang?" tanya Lily yang juga memikirkan rencananya besok.


"Kita main pistol air,seluncuran air,dan kita main ban di kolam besok,bagaimana? Apa kau punya usul yang lain?" jawab Yuri tapi dia juga meminta pendapat Lily mengenai jawabannya.


"Itu ide bagus! Bagaimana bertim saja? Kau sama pak Max dan aku sama suamiku" Lily menyetujui usulan Yuri dan mulai dengan pembahasan selanjutnya.


"Kenapa aku harus sama pak Max?".


"Masa iya aku kasi suamiku bersama perempuan lain? Ingat pak Max itu sepupunya suamiku jadi,jika kau satu tim bersama dia itu merupakan kesempatan besar".


"Kau benar juga! Tapi aku takut nanti pak Max salah paham tentang maksudku".


"Jangan khawatir Yuri! Ada aku disini maka semuanya akan teratasi".


"Aku takut Lily...".


"Jangan takut! Nanti aku sama suamiku yang jadi mak comblangnya".


"Aku takutnya pak Max menolakku karena tidak memenuhi standarnya dia,bagaimana ini?".


"Coba saja! Jika kau tidak mencobanya kau akan menyesal selamanya,lebih baik coba dulu".


"Baiklah aku akan mencobanya!".


Lily tersenyum melihat semangat temannya tersebut. Dua menit kemudian tiga teman pria Lily datang tapi syukurnya pembicaraan Lily dan Yuri yang tadi sudah selesai.


"Hai girls! Lagi pada bahas apa ini? Kelihatan seru" sapa Tito kepada dua gadis disana.


"Kami hanya membahas tentang kolam renang yang baru di kota ini" jawab Lily yang menyedot susu untuk ibu hamil.

__ADS_1


"Aku tahu itu! Aku pernah dengar kalau tempat itu sangat bagus tetapi bayarannya mahal" Tito yang mendudukkan tubuhnya di sebelah Yuri.


Dua gadis kaya itu hanya tersenyum mendengar ucapan Tito. Ya mau bagaimana lagi mereka sudah kaya dari lahir jadi masalah harga bukan masalah besar bagi mereka. Apalagi Lily memiliki suami yang kaya raya sudah jelas tidak kekurangan uang.


"Ohh... Yang kau tunjukkan kemarin itu,Tito?" tanya Leo yang duduk di sebelah Tito.


"Iya yang itu! Aku ingin kesana tapi biayanya itu loh mahal sekali" jawab Tito yang kelihatan lemas saat membahas biaya liburan kolam renang tersebut.


Sedangkan di satu sisi ada Brian yang sedikit kesulitan memahami topik pembicaraan. Brian sengaja duduk di sebelah Lily karena dia ingin melancarkan rencananya. Lily merasa tidak nyaman ketika Brian duduk di sebelahnya dan dia bergeser sedikit untuk menjaga jarak.


"Lily! Boleh aku bertanya sesuatu?" Brian meminta izin terlebih dahulu untuk bertanya.


"Boleh! Mau tanya apa ,Brian?" Lily kembali menyedot susu hamilnya.


"Apa kamu putri bungsu dari keluarga Lawrence? Aku sengaja bertanya hal ini karena aku penasaran dengan marga keluargamu yang dimana kemarin pak Max menyebut nama lengkap saat mengabsen dan sebelum pak Max kesini dosen - dosen yang masuk ke kelas pasti tidak pernah menyebut nama lengkapmu" pertanyaan yang dilontarkan Brian memang sederhana tapi pertanyaan tersebut mampu membuat dua princesess tersebut terdiam.


"Itu memang benar! Kenapa? " jawab Lily dengan santainya.


"Iya! Hazel adalah kakakku dan Zetta kakakku juga" Lily menyebutkan nama saudara kandungnya agar rasa penasaran Brian berkurang.


Brian terdiam mendengar dua nama tersebut begitu juga dengan Tito dan Leo. Mereka tidak menyangka kalau Lily adalah anak orang kaya. Tito terlihat shock sekali sampa mulutnya menganga.


"Lily! Apakah kau tidak merasa jijik berteman denganku? Masalahnya aku orang biasa" tanya Brian dengan perasaan ketakutan.


"Aku merasa sangat senang memiliki teman sepertimu. Dulunya aku takut untuk berteman dengan siapapun tapi kalian bertiga yang memberikan aku keberanian untuk mulai bersosialisasi kepada siapapun. Sekarang lihatlah! Aku memiliki banyak teman berkat dirimu" jawab Lily yang merasa bersyukur memiliki teman seperti tiga teman prianya.


Brian tersenyum mendengar jawaban Lily. Dia mengira Lily sama seperti anak orang kaya yang lainnya.


"Semuanya aku permisi dulu aku dapat panggilan dari kak Sean,bye!" Lily beranjak dari sana dengan membawa botol berisi susu ibu hamil.


Keempat teman Lily melambaikan tangannya kepada Lily yang mulai menjauh. Lily tidak berani berjalan terlalu cepat takutnya dia akan terjatuh atau hal buruk lain akan terjadi. Tapi saat ini suasana kampus sedang ramai yang dimana hari ini klub basket melakukan latihan pagi di lapangan outdor. Jadi,alasan Lily dipanggil hanya untuk mendata para pemain.

__ADS_1


...****************...


Sesampai disana Lily sangat terkejut melihat kondisi lapangan yang sangat ramai sampai tidak ada celah masuk. Lily menjijitkan kakinya yang juga melambaikan tangannya kepada Sean. Tapi saat Lily menjijitkan kaki untuk kedua kalinya tiba - tiba ada yang mendorong Lily dari depan. Kaki tergelincir ke belakang dan untungnya di belakang ada Kevin yang menangkap tubuh Lily.


"Astaga! Hampir saja! Wiuhhh... Terima kasih kak Kevin" ucap Lily yang menoleh ke belakang.


"Sama - sama! Lain kali hati - hati" Kevin membantu Lily berdiri.


Lily kembali menjijitkan kakinya untuk melihat celah masuk. Kevin melihat sang manajer kesusahan untuk masuk memutuskan untuk membantunya membuka jalan. Tangan Kevin menggenggam tangan Lily kemudian menerobos masuk. Lily terkejut mendapati tangannya ditarik oleh Kevin.


Manajer dan Center tersebut berhasil keluar dari kerumunan orang. Sean langsung menghampiri Lily yang kelihatan panik.


"Kau kenapa? Apa kau baik - baik saja?" tanya Sean dengan wajah khawatirnya.


"Aku hanya kaget saja tidak perlu khawatir, ayo kembali kesana!" jawab Lily yang berjalan ke arah sang pelatih.


Sang pelatih langsung memberikan data tim lain. Lily sangat terkejut melihat data tim tersebut. Data tersebut berisi nama para pemain tim lain dan ada dua pemain yang Lily kenal.


"Untuk apa data ini,pak? apakah kita akan melakukan latih tanding lagi?" tanya Lily sambil melanjutkan membaca data tersebut.


"Itu benar! Latih tanding akan dilaksanakan pada minggu depan" jawab pak pelatih dengan wajah serius.


"Tapi pak! Apa bapak yakin kalau bapak akan melawan dia?" Lily merasa ragu dengan keputusan sang pelatih.


"Saya tahu tim itu sangat kuat tapi jika kita tidak melawan tim yang kuat maka, kita tidak akan pernah berkembang" pak pelatih sangat yakin dengan keputusannya.


Lily memutuskan bungkam saja. Alasan Lily terkejut melihat data tersebut dikarenakan dua diantara semua pemain merupakan kakak sepupunya. Sepupu Lily adalah anak kembar. Ayah si kembar adalah kakak dari ibu Lily. Tapi sejak ayah dan ibu Lily meninggal sepupu Lily jarang mengunjunginya karena sang ayah melarang. Untuk sekian lama akhirnya Lily bertemu sepupunya lagi. Penasaran kan sekocak apa si kembar kalau sama Lily? Nantikan di chapter berikutnya.


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>

__ADS_1


__ADS_2