
UNTUK PARA RIDERS TERCINTA DIHARAPKAN BACA CHAPTER SEBELUMNYA KARENA AUTHOR ADA MENAMBAHKAN BEBERAPA BUMBU DI CHAPTER SEBELUMNYA. MAKASI
Lily menoleh ke Sean dengan ekspresi kagetnya. Semuanya membicarakan tentang Lily yang mereka tidak pernah temui saat latihan dan bisa dijadikan manajer begitu saja oleh Sean.
"Apa yang kau katakan Sean? Menjadikanku manajer? Apa kau gila" tanya Lily yang mencubit lengan kiri Sean.
"Aduhhh... Sakit Lily! Aku menjadikanmu manajer karena kau dulu pernah menjadi manajer untuk tim basket saat kau SMA dulu" jawab Sean yang merintih kesakitan saat dicubit oleh Lily.
"Tapi itu semua masa lalu Sean dan sekarang kau menjadikan aku manajer begitu saja tanpa persetujuan dariku?".
"Maaf... Masalahnya kau memiliki cara menganalisis yang bagus makanya aku menjadikanmu sebagai manajer".
"Sudahlah! Terserah kau saja! Nanti kau harus mentraktirku makanan dan minuman di kantin".
"Iya! Sekarang kau mau menjadi manajer untuk tim ini,kan?".
"Iya".
Sean merasa lega iparnya mau menerima posisi manajer. Tim basket universitas Stars gezziling sekarang memiliki dua manajer. Semuanya bersorak ria setelah mendapatkan manajer cantik dan pintar.
"Sean! Apa maksudmu menjadikan dia sebagai manajer? Apa aku saja tidak cukup?" tanya Lola yang merasa tidak terima.
"Dengar dulu baby! Aku menjadikan dia manajer juga untuk membantumu masalahnya akhir - akhir ini kau sering kelelahan dan banyak tugas" jawab Sean yang menjelaskan alasan lain menunjuk Lily sebagai manajer.
Lola terpaksa harus menerima Lily sebagai teman. Semuanya menghampiri Lily untuk berkenalan dan ada yang meminta nomor Lily juga. Yuri sangat iri melihat kedekatan Lily dengan para pemain.
"Baiklah semuanya ayo kita latihan sekarang!" Sean langsung menginstruksikan anggotanya untuk berlatih.
Yuri memutuskan untuk pamit disana kepada Lily. Jujur saja Lily masih ingin temannya diam disini menemani dirinya tapi ya sudahlah takutnya Yuri tidak nyaman. Lily diberikan papan alas, kertas dan bolpoin oleh Lola. Dia sengaja diberika barang - barang tersebut untuk langsung mendata setiap anggota. Tanpa rasa ragu Lily langsung memperhatikan setiap anggota kemudian mencatatnya. Walaupun Lily belum mengetahui semua nama pemain tapi sang pelatih memberitahu Lily setiap anggota yang akan di data.
Lola dan Lily mulai menganalisis yang dimulai dari pemain inti. Semua anggota merasa kalau Lily bersikap biasa saja saat mendata tidak dengan Lola yang sangat fokus mendata para pemain.
Menganalisis pun selesai. Pelatih meminta Lola sebagai yang pertama membacakan hasil analisisnya. Dengan bangganya Lola langsung membacakan hasil analisisnya dengan lantang.
"Dilihat dari setiap pemain inti semuanya dalam keadaan prima. Stamina mereka meningkat dan skill mereka terus meningkat. Sean shootingnya semakin akurat, Kevin kecepatannya sangat bagus saat membawa bola, Jian dribblenya sangat stabil, untuk center kita yaitu Henryi reboundnya semakin meningkat dan penyerang andalan kita yaitu Dovan mengalami banyak peningkatan. Semuanya bagus dalam segi stamina maupun skill".
Semuanya terpukau melihat hasil yang dibacakan oleh Lola. Tapi tim inti merasa ada yang aneh dengan hasil tersebut karena bisa merasakan ada kejanggalan di dalam diri mereka. Lily juga merasakan kalau hasil analisis Lola ada yang salah.
__ADS_1
"Baiklah! Selanjutnya manajer baru kita yaitu Lily, silakan dibaca!" pelatih mempersilakan Lily untuk membaca hasil analisisnya.
"Terima kasih pelatih! Baiklah saya akan membacakan hasil analisis saya.
Semua pemain tim inti memiliki stamina yang bagus namun tidak skill mereka masih kurang. Saya mulai membaca dari sang kapten yaitu Sean.
Sean staminanya bagus tapi saat melompat tadi dia hampir terjatuh dan itu sangat berbahaya. Sean harus berhati - hati saat melompat dan jangan terlalu melompat terlalu cepat.
Selanjutnya Kevin. Semuanya bagus tapi aku sarankan untuk tidak menggunakan terlalu banyak stamina karena dalam permainan basket waktu mainnya selama sembilan puluh menit dan sebaiknya aku menggunakan kecepatanmu itu untuk saat musuh menyerang balik.
Beralih ke point guard kita yaitu Jian. Dribblenya memang bagus tapi jangan membuang waktu sebaiknya kau cepat mengumpan kalau tidak kau akan kena pelanggaran. Saranku gunakan passing bawah dan passing dada secara bergantian.
Lanjut ke center. Henryi lompatan sangat bagus untuk rebound tapi sebaiknya kau jangan melompat ke arah musuh karena tadi kau terlalu condong jadi, kau harus menggunakan tangan dan lompatanmu yang tinggi.
Terakhir yaitu penyerang kita. Boleh aku bertanya sesuatu padamu, Dovan?".
"Boleh... Kenapa? Perminanku bagus kok!".
"Aku tahu! Tapi boleh aku memeriksa pundak kananmu?".
"Silakan tapi untuk apa?".
Lily menarik tangan Dovan agar lebih dekat padanya. Tangan Lily langsung memegang pundak Dovan dan memijatnya juga.
"Akh! Aduh! Jangan disana!" Dovan langsung kesakitan saat Lily memegangi pundaknya.
"Berapa lama pundakmu terluka?" tanya Lily yang langsung menemukan penyebab Dovan kesakitan.
Semuanya terkejut dengan cara Lily menemukan cedera pemain. Sang pelatih juga tidak mengetahui kalau pemain penyerangnya cedera bahu. Lola bahkan tidak menyadari cedera bahu Dovan.
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" Dovan mendorong Lily untuk tidak menyentuh bahunya lagi.
"Sederhana saja! Tadi saat kau shooting aku bisa melihat kau terdiam sebentar lalu kau mengganti shootingmu jadi lay up. Sebenarnya kau merasakan sakit saat kau menggerakan bahumu tadi makanya kau terdiam sebentar" Lily memberitahu alasan dia bisa mengetahui cedera Dovan.
"Aku hanya mengganti posisi saja!".
"Jangan membantah! Jelas - jelas kalau kau sedang cedera! Jangan memaksakan diri!" ucapan Lily mampu membuat Dovan terdiam.
__ADS_1
Pelatih sudah melihat skill analasis yang dimiliki oleh Lily. Kemampuan Lily sangat profesional sekali bahkan pelatih timnya sendiri tidak mengetahui cedera tersebut.
"Apa itu benar,Dovan?" tanya Sean agar mendengar langsung dari mulut Dovan.
"Iya itu benar! Cedera ini aku dapatkan empat hari yang lalu saat aku main street basket dengan sepupuku. Dia tidak sengaja mengenai sikunya ke bahuku saat melakukan lay up" Dovan akhirnya mengakuinya dengan perasaan terpaksa.
"Lalu kenapa kau tidak memberitahu kita?!" Sean membentak Dovan dihadapan semua anggotanya.
"Sudahlah Sean! Jangan memaksa dia! Dovan sebaiknya kau mengobati cederamu itu kalau tidak kau tidak dapat bermain lagi" usul Lily yang juga menahan emosi Sean.
Semuanya telah melihat siapa yang cocok jadi manajer. Melalui hasil diskusi dengan pemain inti mereka menunjuk Lily sebagai manajer utama dan Lola sebagai manajer cadangan. Tidak ada yang menolak keputusan sang pelatih termasuk Lola. Dia harus menerima kekalahannya mungkin ini adalah karma Lola terlalu sombong tadi. Latihan kembali berlanjut hingga pukul enam sore dan Lily harus izin kelas terakhir karena masih mengurusi eskulnya.
.................
Di gedung olahraga semua sudah pulang terkecuali dengan tim inti,Lily dan Lola. Dengan keikhlasan hatinya Lola memberikan kunci gedung olahraga kepada Lily dan Lily menerimanya dengan senang hati. Sean melakukan rapat sebentar untuk membahas beberapa hal. Untungnya Lily sudah memberitahi suaminya kalau dia akan pulang terlambat.
"Baiklah mari kita rapat ini!".
"Kali ini kita akan membahas dua hal yaitu tim musuh kita dan cedera Dovan".
"Lily! Berapa lama kira - kira cedera bahu Dovan akan sembuh?".
"Mungkin sekitar seminggu lebih tapi aku tidak terlalu yakin seharusnya dia membawa lukany tersebut ke dokter bukan lapangan basket".
"Hei! Jaga ucapan Lily! Awas kau!".
"Ancaman apa yang akan kau berikan padaku, Dovan?".
"Lihat saja nanti!".
"Cukup kalian berdua! Mari lanjutkan rapat kita".
Rapat di gedung olahraga itu terus berlangsung sampai pukul tujuh malam lebih sepuluh menit. Semuanya sudah pulang selesai rapat. Sean menghampiri iparnya tersebut yang belum dijemput oleh Edward.
"Kak Lily! Belum dijemput?".
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA SEMOGA YANG BACA NOVEL INI SEHAT SELALU DAN REZEKINYA LANCAR.
__ADS_1
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>