
Merasa sudah cukup jauh dari daerah perpustakaan Lily dan Yuri memutuskan untuk berhenti sebentar. Nafas mereka berdua terengah - engah saat berhenti, Yuri menoleh ke Lily untuk menanyakan sesuatu.
"Lily... Hah! Ya ampun! Aku capek sekali! Apakah Brian melihat kita?".
"Sepertinya tidak deh Yuri... Astaga! Sumpah capek sekali!" jawab Lily yang kelelahan.
"Hei Lily!" kemudian dari belakang muncul Sean yang menepuk bahu Lily.
"AHHH!!!..." Lily berteriak kaget melihat Sean di belakang lalu diikuti oleh Yuri yang berteriak.
"Ish! Kamu bikin kaget saja! Ada apa?!" Lily memukul lengan kanan Sean.
"Hehehe... Tidak ada,aku hanya penasaran kenapa kalian cepat sekali larinya seperti dikejar anjing saja?" Sean membenarkan posisi tasnya yang sedikit turun.
"Hadehh... Sean! Kirain ada apa sampai bikin aku kaget saja. Tadi kami sedang menghindari orang yang terus mengejarku" Lily mengelap keringatnya dengan tissue kemudian memberikan sebagian kepada Yuri.
"Memangnya siapa dia? Sampai kau dikejar segala begitu" tanya Sean yang masih penasaran dengan sosok yang dikatakan oleh Lily tadi.
"Itu tidak penting! Sudahlah! Kami mau belajar dulu" jawab Lily yang mengajak Yuri untuk pergi dari sana.
Sean yang melihat kakak iparnya itu pergi meninggalkannya hanya bisa terdiam disertai senyuman. Kemudian Sean melihat tiga pria teman Lily yang diketahui olehnya. Terlihat dari gerak - geriknya seperti mereka sedang mencari Lily dan Yuri.
Sean segera menghubungi kakak iparnya tersebut untuk memberitahu hal ini.
"Kenapa lagi,Sean?" tanya Lily yang juga menjawab panggilan telepon Sean.
"Ada mereka bertiga di dekat tempat kalian berhenti tadi" jawab Sean yang memberikan laporan hasil penglihatannya.
"Apa?! Yang benar saja,Sean?!" Lily terkejut mendengar ucapan Sean tadi.
"Itu benar! Dan mereka mulai mendekat ke daerah tempat berhenti kalian tadi".
"Apakah aku harus berjalan lebih jauh sekarang? Aku capek dikejar - kejar terus!".
"Oh tidak mereka menuju kalian! Cepat menjauh kakak ipar!".
"Saat di kampus jangan memanggilku kakak ipar! Ya ini aku segera menjauh!".
__ADS_1
"Cepatlah! Mereka berpencar!".
"Akh! Aku bolos saja kalau begitu!".
"Apa kak Edward tidak marah nanti?".
"Nanti aku jelaskan ke dia masalah ini, oh ya Sean izinkan aku dan Yuri,ya? Aku minta tolong".
"Baiklah! Apa alasannya? Kelasmu jam berapa saja ? Tanyakan juga pada temanmu".
"Bilang saja mendadak sakit , jam kelas ada pukul sembilan pagi sampai pukul sebelas siang lalu dilanjutkan pada pukul satu siang sampai tiga sore dan berakhir sudah kelasku. Oh ya! Untuk temanku tidak usah izinkan! Dia sudah ada orang izinkan".
"Baiklah nyonya Lily!".
Sean mematikan panggilan telepon tersebut kemudian ke ruang dosen untuk mengambil surat izin untuk kakak iparnya itu. Dia mengetahui siapa saingan kakaknya tersebut.
Lily dan Yuri memutuskan untuk berpencar. Lily ke arah kanan dan Yuri ke arah kiri. Dengan cepat langkah mereka berdua untuk menghindari orang yang mengejar mereka.
Lily segera menghubungi suaminya untuk dijemput. Tidak terasa langkah kaki Lily sudah sampai pada gerbang sekolah. Lily menambah kecepatan langkahnya untuk keluar kampus tapi sayangnya Lily tertangkap oleh Brian.
"Lily! Lily! Tunggu Lily!" Brian berlari mengejar Lily.
"Kumohon Lily! Jangan lari lagi! Aku hanya ingin bertemu denganmu! Masalah kemarin aku sudah melupakannya " ucap Brian yang mengeratkan pelukannya.
"Brian lepaskan aku! Kalau kau tidak melepaskanku bisa bahaya nanti!" Lily menggerak - gerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri agar bisa lepas dari pelukan Brian.
"Aku tidak peduli! Mau itu bahaya atau tidak yang penting aku bisa bertemu denganmu!" Brian sama sekali tidak melonggarkan pelukannya.
Lily yang sudah tidak tahan dengan tingkah Brian tiba - tiba meneteskan butir air mata. Dada Lily serasa sesak saat dipeluk oleh Brian, bukan karena pelukannya yang terlalu erat melainkan Lily tidak terbiasa berpelukan dengan orang lain kecuali suaminya sendiri.
"Huhu... Brian! Lepaskan aku! Hah?! Edward? Waaa... Edward" Lily yang masih berusaha melepaskan diri dan secara tidak terduga dia melihat suaminya yang ada dihadapannya itu juga membuat tangisan Lily pecah.
Edward yang melihat istrinya menangis yang disebabkan oleh Brian,dia langsung mengambil tindakan cepat. Edward masuk ke wilayah kampus untuk menyelamatkan istrinya.
"Lepaskan istriku!" Edward menarik kerah baju Brian hingga terhempas.
Lily langsung memeluk suaminya tersebut. Edward menutupi wajah Lily dengan lengannya agar tidak dilihat oleh orang - orang di kampus.
__ADS_1
"Edward!... Dia terus mengejarku dari tadi... Aku takut!" Lily menangis dalam pelukan Edward.
Edward sangat marah mendengar ucapan Lily. Dia sudah mendengar semua pengakuan Lily tanpa permisi Edward langsung menggendong Lily seperti mengangkat karung beras.
"Hei kamu! Kali ini aku lepaskan kamu! Tapi untuk selanjutnya tidak akan kubiarkan!" Edward menoleh untuk mengucapkan beberapa kata kemudian pergi membawa istrinya pulang.
Brian sangat kesal melihat Lily dibawa oleh seseorang yang tidak kenal. Dia melempar batu yang di dekatnya saking kesalnya.
...****************...
Edward yang membawa istrinya masuk ke dalam mobil. Yang pertama dia lakukan adalah menenangkan istrinya yang kesakitan tersebut. Tangan Edward mengusap surai hitam Lily, lalu menanyakan beberapa hal.
"Siapa nama pria tadi itu?".
"Namanya Brian... Uhuk... Dia temanku" jawab Lily yang terisak dan sedikit tersedak.
"Kenapa dia mengejarmu tadi?".
"Aku tidak tahu... huhuhu... Mungkin karena kejadian kemarin".
"Saat kau dan aku melakukan video call?".
"Iya... Ahak!... Dia menyatakan perasaanku kemarin dan aku menjawab aku sudah memiliki kekasih".
Lily masih belum berhenti menangis akibat perlakuan Brian tadi. Edward memeluk Lily lalu mengelus - elus punggung Lily.
"Baiklah sayang! Ayo kita pulang! Nanti aku berikan pelajaran pria tersebut" ucap Edward yang berusaha menenangkan istrinya tersebut.
Saat Edward ingin pindah ke kursi kemudi tapi dia ditahan oleh Lily. Edward yang memahami sistuasi tersebut mengajak Lily duduk d kursi kemudi dengan cara memangkunya dan wajah Lily berada berhadapan dengan dada Edward. Merasa tidak terganggu sama sekali Edward tetap melajukan mobilnya menuju ke kediamannya.
Tidak beberapa lama kemudian Edward sampai di rumahnya. Edward membuka pintu mobil sambil menggendong Lily yang tertidur. Tangan kanan Edward menutupi kepala Lily agar tidak kejedot dengan atap mobil.
"Memang bayiku besar sekali ditambah dia manja, hahaha... Sudahlah" ucap Edward yang berjalan sambil menggendong istrinya tersebut seperti koala.
Edward menidurkan Lily di ranjang kamar tidur mereka. Terlihat Lily sangat lelap sekali tidurnya. Edward melihat bekas air mata yang mengering di pipi istrinya tersebut. Edward mengepal tangannya dan tidak akan membiarkan Brian lepas begitu saja mungkin ini baru awalnya tapi berikutnya pasti akan lebih parah lagi.
MAKASI YANG SUDAH BACA
__ADS_1
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>