Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Yang sabar aja Sean


__ADS_3

Hari keempat Edward pergi dinas ke luar negri dan hari keempat Lily tanpa suaminya. Dia mulai terbiasa tanpa kehadiran suaminya tetapi tidak dengan Edward yang ingin segera pulang karena Rika semakin dekat dengannya.


Hari ini adalah hari terakhir perusahaan Davis melakukan rapat dengan perusahaan si pelakor. Sejujurnya Edward tidak mau datang tapi karena paksaan dari sang ayah jadi Edward harus ikut.


Di ruang rapat kantor perusahaan ayahnya Nika, ada beberapa orang penting menghadiri rapat tersebut. Edward merasa beruntung dirinya tidak duduk bersebelahan dengan si wanita genit itu. Rapat berlangsung secara aman dan lancar.


Seusai rapat papa Jackie menjabat tangan pak Tony. Kemudian semuanya keluar dari ruangan tersebut dan saat Edward akan keluar Rika langsung menahannya.


"Tunggu sebentar tuan Edward! Saya ingin berbicara dengan tuan" ucap Rika yang menahan Edward.


"Katakan!" jawab Edward dengan nada bicara dingin.


"Bisakah saya mengajak tuan untuk jalan - jalan sebentar di kota ini? Jika tuan mengizinkan maka itu merupakan sebuah kehormatan terbesar saya" Rika semakin tinggi rasa bangganya.


"Tidak! Saya harus segera berkemas dan pulang ke negara C" Edward menepis tangannya lalu segera pergi dari sana.


Rika semakin senang ingin mendapatkan Edward karena sifat dinginnya. Wanita genit itu berniat untuk mengikuti Edward kemanapun.


Edward yang telah sampai di hotel tempat dia menginap. Dengan segera Edward mengemasi barang - barangnya. Untungnya Edward sudah memesan tiket pesawat untuk hari ini.


Selesai berkemas Edward langsung tancap gas menuju bandara. Sedangkan papa Jackie memutuskan untuk bermain sebentar di sekitaran kota.


Di sisi lain lebih tepatnya negara C, Lily dan Sean berkelahi gara - gara hal kecil yaitu hanya masalah coklat. Lily inginnya makan coklat dingin dan Sean tidak mengizinkannya.


"Aku mau makan coklat Sean!" rengek Lily yang membentak - bentak Sean.


"Tidak! Tidak boleh! Kalau kakak kenapa - napa siapa yang repot?! Siapa yang bakal elus - elusin perut kakak?!" bantah Sean yang menyembunyikan batangan coklat di belakang tubuhnya.


"Makan sedikit saja Sean, ayolah~...".


"Tidak! Kakak sudah makan beberapa gigit coklat tadi! Jadi tidak boleh lagi! Sekarang tidur karena besok adalah hari pertandingan persahabatan kita dengan sepupu kakak!".


"Makan sedikit lagi! Siapa sih yang bikin aturan kalau ibu hamil tidak boleh makan coklat?!".


"Dokter ahli kandungan dan anak yang tidak mengizinkan! Karena mengandung lemak dan ibu hamil tidak boleh makan yang makanan yang mengandung lemak! Ibu hamil hanya boleh makan coklat beberapa gigit saja".


"Aku juga baru makan dua gigit Sean jadi boleh - boleh saja dong".


"Tidak kak! Kakak sudah makan hampir seperempat jadi tidak boleh lagi! Sekarang tidur!".


"Ishhh... Sean ini!".

__ADS_1


"Tidur kakak! Jangan ngambek kayak gitu nanti siapa yang mau buatin makanan selain diriku. Semuanya sudah pulang dan sekarang yang menempati rumah ini hanya kakak dan aku".


"Tapi Sean~... aku belum mengantuk sama sekali yang aku inginkan adalah hanya makanan dan elusan perut saja".


"Makanan apa yang kakak mau?".


"Tidak tahu~...".


"Hadeuhhh... Katakan kak! Katakan apa saja yang mau asalkan jangan coklat".


"Aku mau makan..........


Apel sama jeruh,boleh ya?".


"Mau dipotong?".


Lily mengangguk iya sambil menggembungkan pipinya. Sean segera melaksanakan tugasnya. Ibu hamil itu duduk di sofa yang sudah diubah menjadi ranjang.


Sean mengalami kesulitan selama menjaga kakak iparnya. Kesulitan Sean yaitu harus membuatkan makanan dan minuman untuk Lily, menjaga Lily, mengelus perut Lily, dan harus banyak - banyak sabar ketika mood ibu hamil itu berubah.


Selesai memotong apel dan jeruk eitssm... Maksud author bukan dipotong jeruknya tapi dikupas. Sean membawa mangkuk berisi dua buah yang diminta tadi.


"Ini kak apel dan jeruknya" Sean meletakkan mangkuk tersebut di atas meja.


"Tadi kakak minta terus sekaranh tidak mau, kakak sayangku maunya apa?" Sean sudah pusing memikirkan keinginan ibu hamil tersebut.


"Terserahku dong! Sudahlah aku mau tidur dan biarkan tvnya menyala itu merupakan lantunan musikku saat tidur" Lily langsung membaringkan tubuhnya di ranjang dan membelakangi Sean.


Sean sudah lelah dengan tingkah ibu hamil satu ini. Tapi muncul satu pemikiran di kepalanya yaitu dimana dirinya di masa depan pasti akan memiliki istri yang mengandung anaknya sebab itulah dia harus sangat sangat sabar menangani Lily, ya hitung - hitung ada bekal ilmu di masa depan.


...****************...


Di pagi harinya, Lily dan Sean sudah berada di gedung olahraga untuk menyiapkan segala keperluan. Lily hanya membantu mengecek persiapan sedangkan Sean yang mengangkat barang - barang.


Lily melihat sekeliling untuk melihat barang - barang yang diperlukan. Dia merasa ada yang kurang di gedung tersebut.


"Sean!" panggil Lily.


"Kenapa kak?" tanya Sean yang menoleh ke arah Lily.


"Dimana bola basketnya lagi dua? Bukankah kita akan memakai lima bola basket tapi yang ada disini hanya tiga" jawab Lily yang menunjuk ke arah bola basket.

__ADS_1


"Dovan dan Kevin yang membawanya aku sudah memberitahu mereka tadi pagi untuk membawa bola tersebut" Sean berjalan menghampiri Lily.


"Hmmm... Oh ya Sean! Dimana kak Lola? Akhir - akhir ini aku tidak melihat dia" Lily mengetuk - ngetuk pulpennya di papan alasnya.


"Aku ada masalah sama dia" Sean mengacak - acak rambutnya mengingat masalah dia dengan Lola.


"Memangnya masalah apa?".


"Jadi si Lola itu bosan sama aku karena aku perhatiannya terus ke kamu bukannya ke dia. Lola merasa kalau aku tidak mencintai dia lagi padahal aku masih mencintai dia dan lagi dia juga tahu kalau kakak adalah istri kakakku. Untuk apa dia marah? Bikin heran saja".


"Ohh... Begitu rupanya. Kenapa kau tidak jelaskan saja kepada dia? Maksudku dengan lebih jelas lagi".


"Sudah aku jelaskan berkali - kali tapi dianya yang tidak mengerti sama sekali. Lama - lama bisa putus aku sama dia".


"Kalau begitu putusin saja apa susahnya".


"Kak! Aku masih mencintai Lola! Dia itu pembawa keberuntungan in my life! Sebab itu aku tidak akan memutuskan hubungan sama dia".


"Cih... Sudahlah! Sean~... Aku rindu Edward".


"Yang sabar saja kak palingan sebentar lagi kak Edward pulang".


"Tapi lama sekali tahu! Apa dia tidak mengetahui kalau istri dan anaknya sangat sangat merindukannya?!".


"Kan aku sudah katakan kak yang sabar saja".


Lily berjalan menuju kursi di sebelah sana. Sean hanya garuk - garuk kepala melihat tingkah ibu hamil tersebut.


Waktu terus berlalu hingga jam menunjukkan pukul delapan tiga puluh. Tapi tim basket Sean mengalami masalah yang dimana dirinya harus kehilangan satu pemain karena cedera.


"Adehh...deh... Pelan - pelan Lily! Sakit tahu!" ucap Dovan yang merintih kesakitan.


"Sudah tahu cedera ada - ada saja kelakuannya! Tahu luka jangan banyak tingkah" jawab Lily yang memarahi Dovan.


"Ya mana aku tahu Ly! Tadi aku berlari ke kampus terus ada becak oleng ke arahku dan nabrak tubuhku terus aku jatuh ke selokan depan kampus" Sean menjelaskan kronologi kejadian dia bisa cedera.


"Cuman gara - gara becak aja?! Memang aneh kau!" Lily menepuk bahu Dovan yang diperban.


Selesai memperban Dovan,Lily kembali mengecek jumlah pemain tim. Dengan terpaksa Dovan harus duduk di bangku cadangan tetapi dia tidak sendirian karena ada ibu hamil yang menemaninya.


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA

__ADS_1


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>


__ADS_2