
Waktu terus berlalu sampai menunjukkan pukul sepuluh pagi dan Lily belum makan sama sekali. Saat Lily sedang menonton tv tiba - tiba saja perutnya terasa sangat sakit.
"Aduhhh.... Sakit sekali perutku.... Pinpin kamu apain ibumu? Perut ibu sakit...." ucap Lily yang merintih kesakitan sambil memegang perutnya.
Tangan Lily mengambil ponsel yang ada di atas meja lalu segera mengirim pesan kepada sang suami.
^^^"Sayang".^^^
^^^"Perut aku sakit sekali".^^^
^^^"Ayo jawab chatku ini sayang".^^^
^^^"Sayang aku lapar sekali".^^^
Lily sudah mengirimkan banyak pesan tapi tidak mendapat balasan sama sekali. Akhirnya Lily memutuskan menghubungi melalui panggilan telepon. Panggilannya berdering tapi tidak dijawab sama sekali oleh Edward. Lily kebingungan harus menelpon siapa lagi karena jika dia menghubungi Sean atau Yuri takutnya mereka akan dimarah oleh dosen sebab menjawab panggilan teleponnya. Tidak ada pilihan lain selain menghubungi kakak keduanya yaitu Zeta. Jika Lily menghubungi Hazel yang ada kakak pertamanya tersebut akan memarahi Edward habis - habisan.
Panggilan telepon sudah masuk dan Zeta sudah menjawabnya. Yang duluan bicara adalah Zeta.
"Halo Lily! Ada apa?".
"Halo kak... Aduh sakit sekali....".
"Kau kenapa dek?! Ada apa dengan dirimu?! Apa perutmu terasa sakit?!".
"Kak tolong panggilkan dokter".
"Iya! Iya! Aku sekarang kesana bersama dokter juga,tahan sebentar lagi ya? Ayo Lily! Kamu itu ibu yang kuat".
"Iya kak! Aku tunggu sebentar tapi cepatlah!".
__ADS_1
"Iya! Iya! Sekarang aku berangkat!".
Zeta mematikan panggilan tersebut lalu segera menghubungi dokter pribadinya dan berlari ke parkiran kantor. Tapi saat dia akan memasuki lift tiba - tiba saja Hazel ada di dalam lift tersebut saat pintu lift terbuka. Hazel kebingungan melihat keadaan adiknya yang panik dan tunggang langgang.
"Kau mau kemana?" tanya Hazel dengan nada bicara dingin.
"Aku mau ke rumah Lily. Perut Lily sakit" jawab Zeta dengan menyebutkan situasi sebenarnya.
"Apa katamu?! Perut Lily sakit?! Ayo kesana cepat! Panggil dokter juga!" Hazel juga ikut panik setelah mendengar situasi adiknya.
"Sudah aku panggil kak!" Zeta memasuki lift kemudian menekan tombol lantai paling bawah.
Lift tertutup dan mulai turun ke lantai paling bawah. Sebenarnya Zeta tidak mengetahui situasi sebenarnya yang terjadi antara Hazel dengan Edward. Yang dia tahu hanya Hazel menerima pernikahan Edward dengan Lily yang dimana itu hanya kebohongan belaka saja.
Mereka berdua sudah sampai di parkiran yang kebetulan juga dokter yang dipanggil sudah ada di parkiran. Mereka berdua memutuskan untuk menggunakan mobilnya Hazel saja. Mobil Hazel keluar dari parkiran kemudian megangkut dua penumpang dan berlalu pergi ke kediaman Edward.
Selama perjalanan Zeta tidak bisa berhenti memikirkan keadaan Lily tapi yang paling marah disini adalah Hazel. Kakal sulung dari tiga bersaudara itu sangat marah saat mengetahui kondisi adiknya seperti itu apalagi tidak ada Edward disana. Dia berjanji kalau sampai bertemu dengan Edward maka dia akan menghan tamnnya.
Saat mereka di dalam mereka berdua melihat keaeaan Lily yang tersungkur sambil memegangi perutnya. Zeta langsung meminta si dokter untuk mengecek kondisi sang adik. Si dokter mengecek pembuluh darah yang ada di pergelangan tangan Lily dan mengecek bagian lainnya.
"Kondisi nona Lily baik - baik saja dan sepertinya dia belum sarapan. Apakah nona Lily belum sarapan? Kalau nona belum sarapan ini sangat tidak baik dengan kondisi nona sekarang apalagi nona sedang mengandung" ucap si dokter yang menjelaskan kondisi Lily.
"Bagaimana aku bisa makan kalau suamiku saja tidak makan, Edward tidak sarapan dan tidak membaqa bekalnya sebab itulah aku tidak sarapan" jawab Lily yang masih memiliki sedikit tenaga.
"Sarapan dulu ya Ly? Aku siapkan makanan sekarang ya? Jangan begini Ly! Ini tidak baik untuk kondisimu" ujar Zeta yang berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan.
"Tidak mau! Aku tidak mau! Aku maunya Edward! Aku mau Edward makan bersamaku!" bantah Lily yang mulai bergelinang air mata.
"Iya habis ini kau makan bersama Edward tapi kau harus makan sedikit saja ya? Makan sedikit saja" Zeta berusaha membujuk sang adik.
__ADS_1
"Aku mau roti selai coklat kak, aku maunya roti yang berukuran besar" akhirnya Lily menerima bujukan Zeta.
"Nih rotinya!" ucap Hazel yang melempar roti yang diminta oleh Lily.
"Makasi kak Hazel" Lily berusaha mendudukkan tubuhnya dengan dibantu oleh Zeta.
Bungkus roti dibuka oleh Zeta dan menyuapi sang adik. Hazel sudah mendengar semua apa yang dibicarakan oleh kedua adiknya dan kali ini dia akan memberikan pelajaran yang setimpal kepada Edward. Hazel melangkah keluar dan tiba - tiba saja dirinya dipertemukan oleh Edward yang akan memasuki ruang tamu.
Baru saja akan melangkah masuk ke ruang tamu, Edward langsung disambut oleh hantaman dari Hazel. Zeta,Lily dan si dokter sangat terkejut melihat tindakan yang dilakukan oleh Hazel. Zeta berlari ke arah Hazel kemudian menahannya.
"Tenang kak.Hazel! Tenang kak! Jangan membuat Lily semakin takut!" ucap Zeta yang berusaha menahan kakaknya.
"TIDAK! AKU TIDAK TERIMA! DIA ITU SUDAH MENCAMPAKKAN ADIKKU! KAKAK YANG MENERIMA ADIKNYA DIPERLAKUKAN SEPERTI INI,HA?!!! LEPASKAN AKU ZETA!" jawab Hazel yang memberontak minta dilepaskan.
"Sayang! Kau tidak apa - apa? Apa wajahmu tidak apa - apa? Bagian mana yang sakit?" tanya Lily yang berjongkok di sebelah Edward.
"Kenapa kau memanggil Zeta dan Hazel untuk kesini?" bukannya menjawab pertanyaan Lily, Edward memberikan pertanyaan dingin kepada Lily.
"Aku hanya menghubungi kak Zeta saja kalau kak Hazel disini aku juga tidak tahu kenapa kak Hazel bisa ikut. Sayang perutku sakit dari tadi" Lily menjelaskan kenapa kakaknya bisa disini.
"Seharusnya kau bisa memanggil Sean atau Yuri! Kenapa kau memanggil kedua kakakmu kesini?! Kau bisa menghubungiku juga" Edward membentak Lily tepat dihadapan kedua kakaknya.
Lily sangat terkejut setelah mendengar bentakan Edward sampai dibuat terdiam. Kedua kakak Lily tersentak mendengar bentakan tersebut dan tampak semakin murka.
"Aku takut menghubungi Sean dan Yuri karena mungkin saja mereka ada sedang kelas. Aku sudah mengirim pesan kepadamu,sudah menghubungi melalui panggilan telepon tapi kau tidak menjawab sama sekali! Itu sebannya aku menghubungi kak Zeta dan untuk kak Hazel aku juga tidak tahu kalau kak Hazel juga ikut!" Lily membalas bentakan sang suami dengan lebih keras.
"Maaf aku telat membalas chat dan panggilan tadi karena aku saat itu aku sedang dalam emosi dan aku tidak ingin menghubungi siapapun. Aku merenungkan tindakanku tadi" Edward akhirnya meminta maaf kepada Lily.
"Jangan begitu lagi sayang! Aku tidak kuat! Aku tidak bisa dicampakkan! Aku rela melakukan apapun asalkan kau tidak mencampakkanku lagi! Aku rela berhenti jadi manajer klub basket! Aku rela berhenti kuliah asalkan kau itu jangan mencampakkanku seperti ini! Aku tidak kuat" Lily membiarkan air matanya jatuh sampai membasahi pipinya.
__ADS_1
Makasi yang sudah mampir dan baca
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>>