Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Tim Sean vs Tim si Kembar 2


__ADS_3

Kini lemparan ke dalam dilakukan oleh salah pemain dari tim si kembar. Lemparan tersebut mengarah tepat ke Hiko dan Hiko langsung memasukkan bola tanpa pikir panjang dengan cara shooting. Hiko memberikan salam jari tengah kepada Sean atas kegagalannya menjaga ringnya. Sean yang melihat salam tersebut langsung terpancing emosi.


Tim Sean mengalami kesulitan selama pertandingan yang dimana Sean bermain sendiri dan tidak mau mengoper kepada anggota timnya lain. Kevin sudah memberitahu Sean agar tidak bermain sendiri tapi Sean tidak mau dengar dan tetap bermain sendiri. Dia sengaja melakukan hal tersebut untuk membuktikan diri dihadapan Hiko.


Selisih skor sekarang cuman satu poin. Tim si kembar lima puluh dan tim Sean empat puluh sembilan. Lily meminta kepada pak pelatih untuk meminta waktu istirahat.


Waktu istirahat Lily berdiri dihadapan Sean. Sepertinya akan terjadi perdebatan hebat antara kapten dan manager tersebut.


"PLAK!..." suara tamparan yang mengenai wajah Sean dari Lily.


"Apa maksudmu menamparku?" tanya Sean dengan nada bicara dingin dan menyentuh pipinya yang ditampar tadi.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu apa maksudmu bermain seperti tadi? Apa kau lupa dirimu seorang kapten? Apa kau lupa kau itu bermain bertim? Jawab!" bukannya menjawab pertanyaan Sean melainkan Lily memberi pertanyaan kepada Sean.


"Terserah aku saja! Situ siapa?! Apa maksudmu bertanya seperti itu?!" Sean memberikan jawaban ketus terhadap pertanyaan Lily.


"Disini aku manager klub ini! Kau itu bermainnya bertim bukan sendiri! Kau tidak boleh main sendirian seperti itu! Kau sebagai kaptem seharusnya menjadi penghubung bagi para rekan timmu!" Lily mulai kesal dengan sikap Sean dan dia merasakan kram di perutnya.


"Seharusnya kau sebagai manajer kau jangan banyak bicara! Apa kau paham?! Ini timku!".


"Berani sekali kau berbicara seperti itu! Lihat saja nanti! Kau itu kapten! Kapten! Pemimpin tim bukan bos! Sadar lah Sean! Lihat cara bermainmu seperti tadi! Apa kau tidak melihatnya?! Apa aku perlu mengatakan cara bermainmu?!".


Sean hanya terdiam saja tapi mata dia melihat tangan Lily yang mengelus pelan perutnya. Dia merasa bersalah telah membentak Lily seperti tadi. Kapten tim tersebut akhirnya menyadari kesalahannya dan tidak akan mengulanginya lagi.


Waktu istirahat sudah habis dan kedua tim kembali ke lapangan. Sebelum masuk ke lapangan, Sean menyentuh sebentar perut Lily dan menoleh ke arahnya.


Pertandingan kembali dimulai. Kali ini pertandingan dipimpin oleh tim Sean. Tim Sean bermain dengan sangat baik dan bisa menghancurkan dinding pertahan tim si kembar. Juga kali ini dia tidak bermain sendiri dia memilih bermain dengan cara bermain dengan timnya.


Lily yang melihat cara bermain timnya mulai merasa lega. Dovan melihat ke arah Lily yang dimana ibu hamil itu tersenyum lebar tapi dia merasa ada yang aneh dengan tindakan Sean tadi. Ace tim itu ingin bertanya tapi dia tidak berani.


"Kau kenapa Dovan? Apa bahumu sakit lagi?" tanya Lily yang menyadari dirinya terus diperhatikan.


"Ehm? Tidak kok aku baik - baik saja. Lily boleh aku bertanya tidak?" jawab Dovan yang menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Boleh! Kau mau menanyakan apa?" Lily kembali mengelus perutnya.


"Kenapa Sean menyentuh perutmu tadi? Aku hanya merasa aneh saja melihat adegan tadi makanya aku bertanya" Dovan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


"Nanti saja aku cerita saat permainan sudah selesai" Lily kembali fokus ke pertandingan.


Dovan sebenarnya masih penasaran tapi dirinya harus menunggu pertandingan selesai baru bisa mendapat jawabannya. Lily kembali menyusun taktik untuk memperoleh banyak poin.


Tim Sean berhasil mengejar tertinggalan dan terus menambah banyak poin. Si kembar mengalami kesulitan untuk melawan kerja sama tim Sean. Yang dikatakan Lily memang benar, untuk mengalahkan si kembar adalah dengan memperkuat kepercayaan sesama tim.


Jia mengumpan bola kepada Sean yang tidak dijaga. Sean berhasil mendapatkan bola tapi dirinya langsung ditahan oleh Hiko. Keduanya saling beradu skill masing - masing.


"Hahaha... Kelihatannya kapten tim ini tidak berpengaruh sama sekali ternyata hebat juga" ucap Hiko yang memuji kemampuan Sean.


"Terima kasih banyak atas pujiannya saya merasa tersanjung. Kalau begitu saya permisi" jawab Sean yang mengumpan bolanya ke belakang.


Kevin yang melihat umpan tersebut langsung mengambil bola dan berlari ke bawah ring. Awalnya Kevin ingin mengumpan kepada Henryi tetapi center tersebut ditahan. Karena tidak ada pilihan lain Kevin melakukan shooting namun secara tiba - tiba muncul Hino dihadapannya. Gagal melakukan shooting disebabkan bolanya ditepis oleh Hino dan tubuh Kevin ditambah ditindih oleh Hino.


"Prit!" wasit membunyikan peluit yang menandakan pelanggaran.


Suporter kampus Dazzling Stars bersorak ria. Mereka terus menyemangati para pemain dan suporter tim si kembar juga melakukan hal yang sama. Kedua suporter itu kini beradu teriakan yang mana paling heboh maka tim tersebut lah yang dianggap menang.


Waktu pertandingan tersisa sepuluh menit dan skor tim Sean terus meningkat. Pelatih tim si kembar meminta waktu break. Tim Sean mendapatkan keuntungan dari terdesaknya tim si kembar.


Lily memperhatikan si kembar menukar jersei mereka masing - masing. Dengan cepat Lily memberitahu timnya agar waspada kepada si kembar dan dia juga memberitahu cara agar terhindar dari ilusi Hiko setelah melalui hasil riset.


Pertandingan kembali dimulai, Sean melihat Lily yang terus mengelus perutnya. Sean mengelus sebentar perut Lily dan mengatakan,


"Maafkan aku dan tenanglah kita akan menang karena aku akan menggunakan meteor jump".


Lily terkejut mendengar ucapan Sean tersebut. Sean dengan segera kembali ke lapangan. Sekarang Hiko menggunakan jersei adiknya dan Hino menggunakan jersei kakaknya. Pertandingan kembali berlanjut walaupun waktu masih tersisa tinggal sepuluh menit lagi. Pertahanan tim Sean semakin ditingkat dan membuat tim si kembar susah menembusnya. Point guard tim si kembar mendrible bola sementara yang lainnya masih dihadang. Karena merasa kesal point guard tersebut menabrak Jia.


"Prit!" wasit membunyikan peluit atas pelanggaran point guard tadi.

__ADS_1


Tim Sean mendapatkan bola untuk masuk ke area lawan. Jia mendrible tersebut dengan keadaan sebab sebelumnya dirinya sudah diperingatkan oleh Lily untuk terbawa emosi saat berhadapan dengan point guard lawan. Jia mengecoh lawan dengan seolah - olah akan mengumpan nyatanya dia hanya melewati lalu mengumpan kepada Kevin. Si nomor dua itu berhasil mendapat bola kemudian dia berlari mendekati ring.


Namun saat memasuki area ring Kevin dihadang oleh Hino dengan terpaksa dirinya mengumpan ke Sean. Kapten tim tersebut dengan cepatnya berlari sambil mendrible bola tersebut eitss... Ada yang menghadangnya yaitu Hiko. Sepupu Lily berlari ke arah berlawanan dengan Sean dengan posisi berhimpitan dan BLAK!....


Sean terjatuh serta bolanya lepas dari pegangannya. Hiko berhasil menggunakan ilusinya di Sean. Karena pertahanan tim Sean lengah, tim si kembar langsung mencetak poin kembali. Sean nampak linglung ditambah ada tatapan kosong.


Pak pelatih langsung meminta break. Lily berlari menghampiri Sean. Para suporter terlihat khawatir dengan kondisi Sean yang linglung.


"Sean! Woi! Bangun! Nanti tidak kasi uang jajan loh!" teriak Lily dihadapan Sean.


Namun tidak ada respon sama sekali dari sang kapten. Lily melihat Jia dan Dovan. Manager klub basket tersebut tahu kalau Jia dan Dovan adalah orang paling sering mengganggu Sean.


"Jia tampar dia" perintah Lily kepada Jia.


"Tampar beneran ini? Bagaimana kalau dia akan memarahiku?" tanya Jia yang kelihatan ketakutan.


"Lakukan saja!" jawab Lily dengan keras.


"PLAK!PLOK!PLAK!PLOK!" tamparan sudah dilayangkan sebanyak empat kali dari Jia namun Sean belum ada reaksi.


Rekan - rekan Sean semakin khawatir dan waktu pertandingan tinggal tujuh menit. Dovan maju dan berjongkok dihadapan Sean.


"Woi! Lola minta putus sama kapten dan juga dia bilang mau pacaran sama diriku yang tampan ini" ucap Dovan di depan wajah Sean.


Lily dan yang lainnya bingung dengan ucapan Dovan. Tapi ucapan Dovan membuahkan hasil yang dimana tangan Sean bergerak menampar wajah Dovan.


"Dengar ya Dovan! Lola itu cuman milikku dan aku sangat mencintainya! Apa kau paham?!" bentak Sean yang tersadar dari trik ilusi.


BESOK LAGI GUYSSS DAN UNTUK UPDATE CAFE AND RESTORAN NANTI MALAM


EH BTW HAPPY EID MUBARAK BAGI YANG MERAYAKAN LOVE YOU GUYS


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA

__ADS_1


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>


__ADS_2