Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Insiden hampir dinodai


__ADS_3

Beberapa menit setelah dua ibu membicarakan tentang anak mereka masing - masing. Percakapan mereka pecah saat Lily izin ke belakang. Tapi di saat yang bersamaan Fredry juga ingin ke belakang.


"Sayang kalau begitu tolong antarkan nak Fredry ke belakang ya" ucap mama Kiana.


"Baik ma" jawab Lily yang berjalan terlebih dahulu baru diikuti oleh Fredry.


Lily mendapatkan perasaan tidak enak saat sampai di kamar mandi. Yang pertama masuk adalah Fredry. Lily sengaja membiarkan Fredry untuk lebih dahuly karena dia tahu kalau feelingnya mengatakan untuk membiarkan teman anak mamanya.


Tidak lama Fredry keluar dari kamar mandi. Lily pun masuk tapi tiba - tiba saja Fredry memegang tangan kanan Lily.


"Hah! Jangan! Lepaskan aku!" teriak Lily yang menarik tangannya.


"Shhtt! Jangan teriak atau aku perkaos kamu!" bentak Fredry yang sontak membuat Lily terdiam.


Lily hanya mengangguk paham menuruti perintah Fredry. Pria itu langsung mengajak Lily masuk ke kamar mandi bersamaan. Fredry memegang kedua tangan Lily lalu menyatukan dan mengangkatnya ke atas. Lily menjauhkan wajahnya saat wajah Fredry mendekat.


"Lihat wajahku wanita! Aku baru sadar ternyata kau semenarik ini dan semanis ini,hahaha...." ucap Fredry yang diakhiri tawa jahat.


"Apa... Yang mau kau... Lakukan?" tanya Lily dengan suara gemetar.


"Aku hanya ingin mencicipi rasa manis bibirmu" jawab Fredry yang kembali mendekatkan wajahnya kembali.


Lily sangat ketakutan sampai - sampai dia berharap agar suaminya segera datang. Tiba - tiba.... saja mama Kiana mendobrak pintu dan mendapati Fredry sedang berusaha menci um bibir menantunya sontak saja mama Kiana langsung menampar wajah Fredry dan mendorong tubuh Fredry. Bu Luna langsung menyeret anaknya keluar kamar mandi dan mama Kiana memeluk menantunya yang masih ketakutan.

__ADS_1


"Tenang ya nak ada mama disini, tenang sebentar lagi mama telpon Edward" ucap mama Kiana yang mengelus punggung Lily.


"Ma... Mau ketemu Edward... Mau peluk...." jawab Lily yang masih gemetaran.


"Iya,iya mama telponin Edward sekarang" mama Kiana mengambil ponselnya lalu segera menghubungi Edward.


Tuttt.... Tutt.... Tutt...


"Halo ma! Ada apa? Apa Lily nakal?".


"Nak lebih baik kamu kesini sekarang juga Lily membutuhkanmu".


"Lily kenapa ma?! Ada apa dengan Lily?!".


"Pokoknya kesini sekarang juga! Nanti mama ceritain pas kamu sudah sampai disini".


Panggilan telepon dimatikan dan Edward langsung pergi ke kediaman lama. Mama Kiana memeluk erat menantunya tersebut. Di luar kamar mandi bu Luna habis - habisan memarahi anaknya yang tidak ada malunya mau memperkaos menantu temannya sendiri.


Keadaan mulai mereda dan Lily tidak gemetar lagi. Mama Kiana tetap berusaha menenangkan Lily takutnya nanti menantu dan calon cucunya kenapa - napa lagi. Lily menarik nafas dan menghembuskannya kemudian perlahan - lahan meminum segelas air putih sampai habis.


"Bagaimana sayang? Sudah lebih baik?" tanya mama Kiana dengan lembutnya.


"Lumayan ma,tapi kenapa Edward belum datang juga?" jawab Lily yang mengkhawatirkan Edward.

__ADS_1


"Sebentar lagi Edward pasti datang,tunggu saja ya" mama Kiana mengusap punggung Lily supaya keadaan Lily tidak khawatir.


Lily mengangguk paham dan menuangkan kembali air dari teko menuju gelas. Bu Luna dan Fredry sudah pamit pulang dan bu Luna punya rencana akan memarahi putranya lagi di rumah. Mama Kiana tidak menyangka kalau Fredry akan melakukan tindakan seperti tadi padahal mama Kiana mengenal baik nak Fredry. Mungkin saja mama Kiana hanya melihat dari luar saja tapi tidak melihat di dalamnya juga, biasanya ada orang yang hanya menunjukkan sikap luarnya kepada semua orang dan sikap lainnya kepada orang - orang tertentu.


Tidak lama kemudian Edward berlari masuk dengan keadaan panik. Edward melihat istrinya yang sedang mengelus - elus perutnya. Tanpa basa basi lagi Edward menghampirinya lalu memeluknya.


"Baby kenapa? Tadi mama telpon aku kalau terjadi sesuatu dengan baby" ucap Edward yang menghujani istrinya dengan ciu man di bagian wajah.


"Tadi ada teman kamu yang hampir memperkaos baby. Ceritanya baby mau ke toilet kebetulan dia juga mau ke toilet terus mama bilang tunjukkin jalannya. Baby biarin teman kamu duluan pakai toiletnya terus saat giliranku tiba - tiba saja dia memegang tangan baby dan mau dici um tadi" jawab Lily yang menceritakan sedikit tentang kejadian tadi.


"Siapa sih ma? Berani - beraninya dia mau menodai my baby" Edward sudah siap - siap untuk balas dendam.


"Itu anaknya bu Luna,Fredry. Mama juga tidak mengerti kenapa dia bisa bertindak seperti itu" mama Kiana memijat pelipisnya mengingat kejadian tadi.


"Astaga ma! Fredry orangnya hyper s e x dari dulu jadi siapapun yang dia lihat yang dianggap menarik maka dia tidak segan - segan akan memperkaosnya, aku saja pernah hampir dinodai" Edward memberitahu alasan sebenarnya Fredry mau memperkaos istrinya.


"Ya ampun! Maaf ya sayang mama tidak tahu" mama Kiana memeluk menantunya.


Lily hanya mengiyakan permintaan maaf mertuanya. Menurut dia itu bukan salah mertuanya melainkan salahnya si Fredry. Edward kembali mengecek keadaan istrinya. Dia takut kalau ada beberapa bagian yang terluka atau bagaimana - bagaimana.


"Ya sudah kalau begitu kita pulang sekarang ya baby" Edward menggendong istrinya menuju mobilnya.


Mama Kiana melambaikan tangannya kepada anak dan menantunya. Mobil Edward mulai menjauh meninggalkan kediaman lama. Lily sudah merasa sangat tenang dan aman saat di sisi suaminya. Edward bisa melihat kebahagiaan terukir kembali di wajah istrinya.

__ADS_1


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>


__ADS_2