
Edward dan Lily berjalan di melewati toko - toko dengan berbagai macam jualannya. Lily sangat menikmati jalan - jalan tersebut karena terbilang sangat nyaman bagi apalagi bersama sang suami. Pemandangan sekitaran jalan aspal tersebut sangat memanjakan mata terutama bagi wisatawan.
"Sayang kita ke taman itu yuk!" ajak Lily yang menunjuk ke arah taman di sebrang jalan.
"Ayo!" jawab Edward yang memegang erat tangan Lily lalu menyebrang jalanan mumpung jalanan sepi.
Mereka berdua sampai di taman tersebut. Taman tersebut seperti taman biasa yang sering kita jumpai mulai dari ada beberapa pepohonan,bangku panjang taman,orang - orang yang berkunjung dan masih banyak lagi. Lily mengajak Edward untuk duduk di bangku taman.
"Aduh.... Capeknya" ucap Lily yang memegangi perutnya.
"Baby mau air? Atau ada hal lain yang diinginkan?" tanya Edward yang mulai khawatir.
"Aku mau air minum" jawab Lily dengan membuat ekspresi wajah imut.
"Baiklah tunggu sebentar,ya? Tunggu saja disini dan jangan kemana - mana" sebelum Edward beranjak pergi dia mengelus perut istrinya dan menci umnya.
Edward beranjak dari sana untuk membeli minuman. Sambil menunggu sang suami, Lily melihat anak - anak yang bermain kesana kemari berlarian. Di mata Lily anak - anak tersebut seperti anaknya di masa depan dan dia berharap agar bisa melihat pemandangan seperti ini di masa depan.
"Lily! Hei kenapa kau ada disini?" tanya salah satu pria yang menepik bahu Lily.
"Ah! Siapa ya? Astaga kak Yohan! Aku sedang jalan.- jalan disini" jawab Lily yang langsung menoleh ke arah pria yang bernama Yohan yang juga merupakan kakak kelasnya di SMA.
"Hmmmm.... Sama siapa kau kesini? Sendirian? Atau bersama tim basketmu?" Yohan duduk di sebelah Lily.
"Aku sama seseorang tersayangku kok. Kalau kak Yohan kenapa disini? Apa ada latihan intensif?" Lily berusaha duduk tegak agar tidak terlihat perut berisinya.
"Iya! Aku ada latihan di pantai ini dari hari sabtu dan hari ini juga, apakah timmu tidak latihan juga?".
"Sudah kemarin dan hari ini mereka lakukan latihan individu saja".
"Ohh.... Apa kau mau jalan - jalan sama kakak? Atau mencari orangmu itu?".
"Tidak usah kak! Sebentar lagi pasti dia kembali".
Yohan mengangguk paham. Mata Yohan melihat tangan Lily yang menggunakan gelang yang dibeli saat pergi ke gedung olahraga. Tapi tanpa permisi sama sekali Yohan langsung menggenggam tangan Lily.
Sontak saja Lily terkejut dan menatap Yohan. Jujur saja Lily merasa tidak nyaman saat Yohan menggenggam tangannya. Tapi untungnya saja Edward sudah kembali. Saat Edward kembali matanya melihat ada pria lain yang menggenggam tangan istrinya.
"Minggir kau! Lepaskan tangan istriku!" Edward mendorong tubuh Yohan sampai genggaman tangannya lepas.
__ADS_1
"Sayang! Tenang dulu sayang!" Lily langsung bertindak untuk menenangkan sang suami.
"Kenapa kau menggenggam tangan istriku?! Apa maksudmu tadi,hah?!" tanya Edward dengan penuh emosi sambil memeluk sang istri.
"Istri katamu? Apa maksud ucapan pria ini,Lily? Kenapa dia mengatakan kalau kau adalah istrinya?! Katakan Lily! Aku butuh penjelasan!" bukannya menjawab pertanyaan Edward melainkan Yohan memberikan pertanyaan kepada Lily.
"Yang dikatakan Edward memang benar! Aku adalah istrinya! Kak, aku tahu kau itu memiliki perasaan kepadaku sejak SMA tapi sejak aku kelas dua belas aku sudah mulai berpacaran dengan Edward dan lulus SMA aku sudah melaksanakan pernikahan" jawab Lily yang membuka hubungan sebenarnya dengan Edward.
"Baby.... Aku tidak menyangka kau mempublish hubungan kita" Edward terkejut mendengar ucapan sang istri.
"Itu tidak mungkin Lily..... Tidak... Itu.... Itu tidak mungkin! Hahaha.... Itu tidak mungkin!" Yohan merasa tidak percaya apa yang di dengarnya.
"Sudahlah! Kau itu tidak pantas untuk Lily! Kami berdua permisi!" Edward mengajak pergi Lily dari sana.
Lily tahu kalau saat ini perasaan Yohan pasti sedang hancur. Tapi ini lebih baik dari pada dibiarkan berharap terus maka, itu akan menambah banyak luka sehingga susah untuk disembuhkan. Yohan hanya terdiam dan membiarkan air matanya terjun membasahi pipinya.
Mereka berdua memutuskan untuk kembali ke villa. Tapi selama perjalanan Edward enggan mengajak Lily berbicara. Tangan Lily terus ditarik secara paksa oleh Edward.
...****************...
Di villa, pasangan suami istri itu duduk di sofa dengan posisi saling berhadapan. Edward melipat kedua tangannya dan menatap wajah Lily seolah - olah meminta penjelasan.
"Aku mau menjelaskan! Orang tadi itu adalah mantan kapten tim basket saat aku SMA,namanya Yohan. Kak Yohan itu memiliki perasaan terhadapku sejak aku mulai masuk SMA tapi dia tidak pernah mengungkpakannya. Terus yang tadi entah kenapa dia memegang tanganku begitu saja, maaf ya sayang?" jawab Lily yang menjelaskan tentang kejadian tadi.
"Kenapa kau tidak menepisnya saja? Kan bisa saja kau menepisnya".
"Aku takut dia curiga sayang".
"Alasan saja! Ya sudahlah aku mau mandi saja".
Edward beranjak dari sofa menuju kamar mandi. Lily merasa bersalah setelah melihat tindakan acuh Edward.
Di kamar mandi,Edward berusaha menahan dirinya agar tidak emosi dengan cara bersikap dingin kepada sang istri. Sebenarnya Edward masih ada rasa ragu dengan ceritanya tadi.
......................
Keesokan paginya pasangan suami istri sudah berada di kediamannya dan sudah selesai bersiap - siap melakukan aktivitas seperti biasa. Lily baru saja selesai menyiapkan sarapan dan bekal untuk sang suami.
Edward menuruni tangga dengan pakaian kerja beserta kopernya. Ekspresi wajahnya masih sama seperti kemarin. Sejak pertengkaran tersebut ekspresi wajah Edward tetap datar dan enggan berbicara kepada Lily.
__ADS_1
Edward menduduki kursi meja makan yang dimana semua hidangan sarapan pagi sudah siap. Kemudian diikuti dengan Lily yang duduk dihadapan Edward lalu meletakkan kotak bekal dihadapan Edward.
"Aku tidak mau" tolak Edward dengan ketusnya.
"Kenapa? Aku membuatkan makanan favoritmu" tanya Lily.
"Tidak usah! Aku beli makanan saja nanti,aku sudah selesai sarapan" Edward berdiri dari kursinya tanpa menyentuh sarapannya sama sekali.
"Sayang tunggu dulu! Aku belum sarapan tunggu sebentar" Lily menahan suaminya tapi apa dia sang suami sudah pergi lebih dahulu.
Ucapan Lily tidak di dengar sama sekali dia tetap saja berjalan meninggalkan sang istri. Lily mengepal salah satu tangannya karena kesal.
"Kau nanti diantar oleh Sean,sekarang aku ada rapat penting makanya aku tidak bisa mengantarmu" ujar Edward sebelum keluar dari kediamannya.
Lily hanya terdiam saja setelah mendengar ucapan Edward. Tangan Lily mengambil ponselnya dari tasnya lalu menghubungi Sean.
"Halo Sean!".
"Halo kak! Kenapa?".
"Aku tidak masuk kuliah nanti dan aku tidak ikut latihan".
"Kenapa kak? Apa terjadi sesuatu?".
"Tidak terjadi apapun, aku hanya ingin istirahat di rumah sebab kemarin aku jalan - jalan bersama Edward di pantai sampai sore".
"Oke kalau begitu kak nanti aku buatkan aku surat izin di ruang BP".
"Terima kasih".
"Sama - sama kak".
Lily mematikan panggilan tersebut lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Semua makanan yang sudah disiapkan Lily dimasukkan ke kotak - kotak plastik kemudian diletakkan di dalam kulkas. Setelah semua dipindahkan Lily memutuskan untuk duduk di sofa sambil menonton tv. Perutnya terasa lapar sekali karena dia sudah tidak ada nafsu makan.
MAAF YA AUTHOR TIDAK UPDATE KEMARIN KARENA ADA KESIBUKKAN
makasi yang sudah mampir dan baca
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>>
__ADS_1