
Dalam perjalanan tidak ada pembicaraan antara Brian dan Lily sedangkan di motor yang satuan Tito dan Yuri tampak ricuh sampai motornya goyang - goyang. Lily sedikit bingung melihat motor Tito yang goyang - goyang gara - gara Yuri.
"Brian! Kenapa dengan motornya Tito? Seperti akan jatuh saja" tanya Lily yang akhirnya menemukan topik pembicaraan.
"Tidak tahu! Mungkin lagi dangdutan, Tito memang suka sama dangdut dari pada wanita" jawab Brian yang mengarang ucapannya tentang temannya tersebut.
"Hahaha... Ada - ada saja kau, Brian" Lily sedikit memukul pundak Brian.
"Itu memang benar Lily! Diantara aku dan dua temanku cuman aku yang normal sisanya gila" Brian kembali mengarang cerita tentang dua temannya.
"Hahahaha... Ya ampun! Brian jangan berkata seperti itu! Mereka itu dua temanmu" Lily kembali tertawa mendengar ucapan Brian.
"Aku sangat senang mendengar tawamu itu sangat membuatku bahagia" Brian memuji tawa Lily yang membuat dia bahagia.
"Memangnya ada apa dengan tawaku? Apa suara tawaku aneh?" Lily sedikit bingung dengan pujian yang diberikan oleh Brian.
"Tidak ada! Aku hanya senang mendengar suara tawamu" sekarang Brian yang tertawa mendengar pertanyaan dari Lily.
...•••●●●
Mereka pun akhirnya sampai di sebuah warung di pinggir jalan. Lily dan hanya Yuri yang turun dari motor untuk ketiga pria itu menunggu di atas motor. Lily membeli beberapa sayur seperti sayur sawi, sayur kol, kemangi dan sayur bayam ditambah di mengambil dua puluh telur. Yuri terkejut dengan cara menawar belanjaan yang diambil, memang ibu rumah tangga tidak ada tandingnya masalah berbelanja masalah kebutuhan rumah. Lily dan Yuri sudah selesai berbelanja mereka pun kembali ke tumpangan mereka.
"Harus sebanyak ini? Apakah tidak terlalu banyak?" tanya Brian yang terkejut dengan dua kantung plastik berukuran besar yang dibawa oleh Lily.
"Iya! seseorang kalau memulai sesuatu pasti tidak langsung bisa,bukan? Jadi ini hanya jaga - jaga saja jika Yuri gagal" jawab Lily yang menggantung belanjaan tersebut di motor Leo karena hanya Leo saja yang tidak memiliki penumpang.
Setelah menggantung belanjaannya Lily dan Yuri naik ke tumpangan masing - masing kemudian pergi ke rumah Brian. Lily sangat senang bisa mengajarkan temannya masalah dapur karena dia sudah mempelajari dapur selama satu tahun lebih.
"Brian! Kau tinggal sama siapa saja di rumah?" tanya Lily mengenai orang - orang yang tinggal bersama Brian.
"Ada ayah dan ibuku... Ada dua adikku yang pertama perempuan yang kedua laki - laki. Dua adikku sering sekali berkelahi baik itu mengenai hal kecil atau mengenai hal besar, hadeh..." jawab Brian yang menyebutkan orang - orang di rumahnya.
"Hmm... Kau pasti jadi tulang punggung keluarga,ya? maksudku selain ayahmu" Lily sedikit kasihan dengan kondisi Brian.
__ADS_1
"Tidak juga sih... Tapi suatu hari iya saat ayahku pensiun nanti" Brian sedikit mengkhawatirkan kondisi ayahnya.
Pembicaraan Brian dan Lily di motor.
"Apa pekerjaan ayahmu?".
"Ayahku adalah bekerja sebagai kepala manager di perusahaan Lawrence. Di tempat kerja ayahku direkturnya masih muda dan sangat mempercayai ayahku karena sikap kejujuran ayahku".
"Ohh... Siapa nama direktur muda tersebut?".
"Kalau tidak salah namanya... Lawrence Aston Hazel".
"Oh... Apakah kau tidak ada niatan kerja di perusahaan Lawrence?".
"Ada sih... Tapi kata orang - orang disana perlu perjuangan besar dan kecerdasan luar biasa untuk bekerja disana makanya dari sekarang aku harus belajar yang rajin agar bisa bekerja disana".
"Kalau begitu semangat Brian! Aku yakin kau pasti bisa!".
"Terima kasih Lily! Kalau kau dimana akan bekerja nanti?".
"Kalau begitu kau harus segera memutuskannya jika tidak kau akan kesusahan".
"Terima kasih untuk saranmu".
Pembicaraan mereka selesai setelah membahas tentang keluarga Brian. Lily dari tadi ingin sekali tertawa mendengar jika ayahnya Brian bekerja di perusahaan keluarganya. Direktur perusahaan Lawrence adalah kakak laki - laki pertama Lily yang bernama Hazel dan Lily juga memiliki kakak kedua laki - laki yang bernama Zetta. Lily adalah anak bungsu dari tiga saudara dan yang paling disayang. Untuk.menghormati ucapan Brian, Lily harus menahan tawanya.
...****************...
Mereka pun telah sampai di rumah Brian, dua adik Brian langsung menyambut kedatangan kakaknya tersebut. Lily terkejut dengan bentuk rumah Brian yang terbilang sederhana walaupun ayahnya adalah kepala manager tapi Lily menerima hal itu. Tito dan Leo memberi salam kepada ibu Brian dengan membawa barang belanjaan tadi juga diikuti oleh Lily dan Yuri.
"Kak Brian! Siapa dua cewek itu? Apakah mereka teman kakak ?" tanya adik perempuan Brian mengenai Lily dan Yuri.
"Mereka teman kakak di kampus namanya Lily yang sebelah kanan dan Yuri di sebelah kiri" jawab Brian yang memperkenalkan dua teman wanitanya kepada adiknya.
__ADS_1
"Halo!" sapa Lily dan Yuri kepada dua adik Brian.
"Ibu! Kak Brian punya pacar! Cantik sekali!" teriak adik laki - laki Brian yang menyebut Lily sebagai pacar Brian.
"Hei! Jangan berbicara seperti! Mereka adalah tamu kita! Maafkan adiknya Brian" ucap ibu Brian yang langsung menegur anak bungsunya.
"Tidak apa - apa kok tante! kan belum kenal makanya asal sebut saja" jawab Lily yang tidak mempermasalahkan tindakan adik Brian.
"Ibu! Kita semua mau pakai dapur untuk mengajari Yuri belajar masak,boleh ya?" Brian meminta izin kepada ibunya untuk menggunakan dapur.
"Silakan saja nak! Selesai pakai ingat bersihkan" ibu Brian mengizinkan anak dan teman - temannya memakai dapur.
Mereka berlima menunduk sebagai tanda terima kasih. Brian masuk ke rumahnya dan diikuti oleh teman - temannya. Tapi saat Lily akan masuk ditahan oleh ibu Brian dan untungnya Lily urutan terakhir masuk.
"apakah anda adik tuan Hazel dan tuan Zetta?" bisik ibu Brian yang menanyakan hubungan Lily dengan atasan ayah Brian.
"Iya bu! Saya adik dari Hazel dan Zetta, ada apa ya bu?" jawab Lily yang membenarkan ucapan ibu Brian.
"Astaga! Maafkan saya atas tidak kenyamanan nona Lawrence" ibu Brian langsung menggenggam kedua tangan Lily.
"Santai saja bu! Lagipula sekarang saya adalah teman anak ibu jadi santai saja dan lagi satu, jangan beritahu Brian mengenai statusku" Lily langsung menggenggam balik tangan ibu Brian untuk menenangkannya.
Ibu Brian mengangguk paham dan mempersilakan Lily masuk. Lily masuk ke dalam rumah sederhana Brian. Dia terkejut dengan interior ruang tamu beserta ruangan lainnya.
"Apa yang kau lakukan disana Lily? Ayo masuk" panggil Brian yang mengajak Lily masuk ke dapurnya.
Lily segera pergi ke dapur. Saat di dapur Lily sangat terpukau dengan koleksi perabotan dapur yang sangat lengkap. Brian melihat Lily terpukau hanya bisa tersenyum.
"Woi! Jangan cinta - cintaan dulu! Sebaiknya beritahu cara memasak dulu!" bentak Leo yang di dekat Brian.
"Iya sabar! Dasar kau ini!" Brian memukul lengan Leo yang membentaknya secara tiba - tiba.
Yuri mengambil salah sati kursi diikuti tiga pria lainnya. Yang pertama menunjukkan bagaimana cara menggoreng telur adalah Lily.
__ADS_1
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>