Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Tim Sean vs Tim si Kembar 1


__ADS_3

Tim Hiko dan Hino bersama tim suporternya memasuki gedung olahraga. Sean bisa merasakan aura dominasi dari tim si kembar. Para suporter tim si kembar mulai menyemangati para pemain.


Sebelum memulai pertandingan kedua tim melakukan pemanasan. Lily memperhatikan setiap gerak tubuh setiap pemainnya,takutnya kalau ada salah satu pemain cedera seperti Dovan.


"Baiklah semuanya ayo berkumpul!" Sean mengumpulkan semua timnya.


Para pemain tim Sean berkumpul. Dovan agak sedih tidak bisa ikut bermain dan harus duduk di bangku cadangan. Saat melihat wajah Dovan sedih Lily memberikan tissue tapi Dovan menolaknya.


"Dengar ini baik - baik! Lawan kita adalah tim yang pernah memasuki babak semifinal di pertandingan nasional universitas dan institut jadi kita tidak boleh meremahkan mereka dan KITA HARUS BERJUANG LALU MENGHANCURKAN MEREKA! AYO SEMUANYA KITA HARUS BERJUANG!!!..." ucap Sean yang menyemangati timnya.


"WOAAHHHH!!!.... AHU!... AHU!... AHU!..." teriak semua pemain tim Sean.


Suporter kampus Dazzling Stars berteriak menyemangatinya terutama para wanita. Para wanita memanggil nama setiap pemain sekeras - kerasnya sampai orang yang duduk di sebelahnya harus menutup telinga.


"KAK SEANNNN!... SEMANGAT KAK SEAN!!!...".


"KAK KEVIN!... AKU PADAMU!!!... AKHH!...".


"KAK HENRYI SEMANGAT!!!... AKU CINTA KAK HENRYI!!!...".


"KAK JIA!!!... KAK DOVAN!!!... I LOVE YOU!!! AKHH!....".


Para pemain kampus Dazzling Stars melambaikan tangannya ke arah suporter. Para suporter wanita semakin histeris saat idola mereka melambai ke arah mereka. Namun, mereka merasa ada yang aneh dengan para pemain yang dimana ace tim mereka yaitu Dovan tidak diturunkan di lapangan.


Sebelum masuk turun ke lapangan, Lily beranjak dari bangku cadangan kemudian menahan Sean. Lily membisikkan sesuatu kepada Sean,


"Hiko memakai baju nomor punggung enam dan Hiko memakai baju nomor punggung sembilan. Kau harus berhati - hati terhadap ilusi mereka, sudah itu saja semangat ya Sean! Pinpin selalu mendukungmu".


Sean mengangguk paham bisikkan Lily dan melebarkan senyumnya. Kedua pemain sudah berdiri berhadap - hadapan di tengah lapangan. Lily sudah siap dengan kertas dan pulpennya.

__ADS_1


Kedua pemain tim berdiri pada posisi masing - masing. Yang melakukan tip off adalah Henryi dan Hino. Lily merasa ada yang aneh dengan Hino karena menurut pengalamannya yang biasa melakukan tip off adalah Hiko.


Wasit melempar bola ke atas yang menandakan pertandingan sudah dimulai. Yang pertama kali mengambil bola adalah Hino. Saat mendapatkan bola lalu melemparnya ke belakang atau lebih tepatnya ke point guard timnya.


Point guard itu langsung berlari ke menuju area lawan namun langsung dihadang oleh Jia. Semua pemain tim si kembar sudah dijaga oleh para pemain tim Sean. Point guard yang melihat ada celah di sisi kanan Jia dan melihat ada Hiko di belakangnya dengan mengulurkan tangannya. Dengan segera dia mengumpan bola tersebut ke arah Hiko dengan umpan pantul. Hiko yang berhasil mendapatkan bola yang hendak menyerang langsung ditahan oleh Sean.


"Wah... Wah... Wah... Aku tidak menyangka kapten tim kampus Dazzling Stars bisa menahan diriku" ucap Hiko dengan sombong yang mendrible bola di tangan kanannya.


"Tentu saja aku bisa Hiko! Sebab itulah aku ditunjuk sebagai kapten tim!" jawab Sean yang menepis bola dari drible an Hiko.


Kevin langsung menangkap bola tersebut dan mengumpannya kepada Jia. Point guard itu berlari menuju area lawan. Lily tampak tidak senang dengan cara permainan Sean.


"Payah!" ucap Lily yang menyatukan kedua alisnya.


"Kenapa kau berbicara seperti itu? Bukankah itu bagus?" tanya Dovan yang sedikit kebingungan dengan maksud ucapan Lily.


"Itu salah! Seharus Sean menunggu Hiko mengumpan kepada teman timnya kemudian saat teman timnya akan menembak barulah Henryi akan menahan shooting teman Hiko. Di kesempatan itu lah Kevin mengambil bola. Kalau sekarang mereka mengambil bola maka, si kembar itu memulai tekniknya" jawab Lily dengan kesalnya.


"Jangan pak! Biarkan Sean yang melakukannya" ujar Lily yang memegang tangan pak pelatih.


Pak pelatih kembali duduk di bangkunya. Sean langsung menghampiri Jia yang linglung. Untungnya Lily sudah memberitahu Sean cara menyadarkan ilusi trik si kembar.


"Jia tarik nafas dalam - dalam kemudian hembuskan. Tenang oke? Sekarang tenang oke? Kita masih di pertandingan kita masih bermain jadi sadarlah. Ingatlah Dovan punya hutang kepadamu sebesar sepuluh juta" ucap Sean yang meletakkan tangannya di dada Jia.


Perlahan - lahan Jia mulai sadar dan tidak ketakutan lagi. Sean terus mengulang kalimat mengenai Dovan yang mempunya hutang sebesar sepuluh juta agar bisa merilekskan Jia. Akhirnya Jia tersedar dan dia melihat sekitarnya.


"Kau baik - baik saja Jia? Apa kau ingat aku siapa?" tanya Sean yang memegangi telapak tangan Jia.


"Astaga! Aku merasa diriku di suatu tempat tadi dan sekarang aku sudah kembali. Kenapa kita berhenti bermain?" jawab Jia yang pulih sepenuhnya.

__ADS_1


Sean merasa lega bisa menyadarkan Jia. Para suporter yang awalnya senyap melihat keadaan Jia kini kembali menyemangati Jia.


Hiko dan Hino tersenyum miring melihat Jia. Permainan terus berlanjut dan si kembar belum memakai trik ilusinya. Lily mulai memikirkan taktik untuk mengalahkan ilusi si kembar tapi dia tidak sendirian untuk membahasnya karena ada pak pelatih dan Dovan yang membantu.


Selisih skor tim si kembar dan tim Sean adalah dua belas poin. Skor tim si kembar yaitu tiga puluh enam dan tim Sean adalah dua puluh empat. Permainan baru berlangsung selama enam belas menit. Tim musuh meminta jeda sebentar.


Lily langsung memberitahu taktik permainan agar bisa meruntuhkan pertahanan tim musuh. Ditambah ibu hamil itu memarahi sikap gegabah Sean.


"Sean! Kenapa kau bertindak gegabah tadi? Seharusnya kau menunggu Henryi melakukan rebound baru kita menyerang" ucap Lily.


"Kelamaan Lily jika kita menunggu rebound yang ada musuh itu langsung mendapatkan skor dan menurutku tindakanku ini benar" jawab Sean yang meremas botol airnya.


"Aku tahu! Tapi apa kau tidak melihat kondisi Jia tadi? Itu baru efek sementara dan syukur aku bisa memberitahumu cara menyembuhkan ilusi itu. Lain kali jangan seperti itu kak!" Lily menatap tajam Sean.


"Terserah kau saja!" Sean melempar botol airnya kepada Lily.


"Sean! Sean! Ishhh!!!... Awas saja kau" Lily kelihatan geram kepada Sean.


Pertandingan kembali berlanjut dan semakin seru pertandingannya. Tim Sean terus menyusul ketertinggalan mereka dan tim si kembar terus menambah poin mereka. Hiko terus mengincar Sean agar terkena triknya.


"Awas saja dia kena trik itu aku tidak akan membangunkannya! Lihat saja nanti! Ehm!" Lily melipat kedua tangannya lalu buang muka.


Kali ini Hiko yang memegang bola dan dijaga oleh Sean. Hiko mendapatkan kesempatan untuk menggunakan triknya tapi sayangnya sang adik memberi tanda untuk menggunakannya nanti saja dan menggunakan trik miror.


Hiko mengumpan bola kepada adiknya yang tidak dijaga. Hino berhasil mendapatkan bola lalu saat hendak melakukan shooting dirinya langsung ditahan oleh Henryi. Eitss... Tidak semudah itu karena Hino langsung mengubah shooting menjadi passing ke arah temannya yang tidak terjaga. Tapi Sean langsung menggagalkan lay up tersebut dengan cara mendorong bola tersebut dari tangan musuhnya. Bola tersebut jatuh dan keluar lapangan.


Pertandingan semakin sengit dan semakin seru. Jika kalian penasaran dengan lanjutannya silakan nantikan chapter terbarunya.


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA

__ADS_1


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>


__ADS_2