
"Saya mencintai anak nyonya dengan sangat tulus! Saya tidak pernah meminta apapun kepada Sean! Yang saya minta hanya satu yaitu Sean mencintai saya dengan tulus" jawab Lola dengan tegas dan lantang.
Sean terharu mendengar jawaban Lola. Mama Kiana bisa melihat ketulusan di hati Lola. Mama Kiana meletakkan peralatan makannya kemudian mengatakan,
"Saya bisa melihat ketulusanmu saat kau menjawab pertanyaanku tadi. Kami merestui hubungan kalian".
Sean dan Lola sangat senang mendengar ucapan mama Kiana. Mama Kiana mempersilakan Lola untuk duduk di sebelah Sean. Terlihat kebahagiaan terpancar di keluarga Lola yang sangat senang anaknya mendapat restu. Dua keluarga tersebut makan malam bersama dengan nikmat sedangkan Edward dan Lily sibuk sendiri dengan dunianya.
Selesai makan malam Sean mengantar keluarga Lola pulang dan Edward juga ikut pulang bersama istrinya. Mama Kiana dan papa Jack hanya melambai kepada Edward dan Lily saja tidak dengan keluarga Lola.
...*************...
Keesokan harinya di gedung olahraga pukul sepuluh pagi sudah ada dua tim basket yang siap bertanding. Bukan hanya tim basket saja yang siap tapi para suporter dari dua tim juga sudah siap menyemangati tim masing - masing. Di bangku pemain ,Lily sedang memperban bahu Dovan sebagai penganjal agar saat bermain lebih nyaman. Para penonton wanita sudah berteriak histeris melihat ketampanan dari para pemain.
"Sudah selesai! Hati - hati saat bermain,ya Dovan?" Lily menepuk pelan bahu Dovan yang sudah selesai diperban.
"Makasi Ly! Aku akan berhati -hati" Dovan sedikit kagum dengan hasil perban Lily.
Para pemain pemanasan terlebih dahulu agar tidak mengalami hal yang tidak diinginkan. Suporter wanita berteriak histeris melihat para pemain.
"Kak Sean aku padamu!".
"Kak Dovan!!! Semangat!".
"Kak Jia!!! Kak Jia! Aku akan selalu mendukungmu!!! Semangat kak Jia!!!".
"HENRYI!!! Henryi!!! Semangat!!!".
"Kevinnn!!!... Aku sayang padamu!!! Akhhh!!! Kevin ganteng sekali!!!".
"Kak Sean!!! Kak Dovan!!! Kak Jia!!! Kak Henryi!!! Kak Kevin!!! Akhhhh!!!...".
Lily sangat terkejut mendengar teriakan - teriakan para suporter wanita. Para pemain tim musuh sudah berada di tengah lapangan. Randy melambaikan tangannya kepada Lily. Tangan Lily juga melambaikan tangannya kepada Randy. Sekarang giliran tim Sean yang berjalan ke tengah lapangan.
__ADS_1
"Aku tidak akan menahan diriku, Sean" ucap Randy yang mengulurkan tangannya.
"Aku sangat menantikannya" Sean menjabat tangan Randy.
Selesai berjabat tangan setiap pemain tim berdiri di posisinya masing - masing. Wasit berdiri di tengah lapangan kemudian melempar bola ke atas sebagai tanda tip off.
Yang mengambil pertama bolanya adalah rekannya Randy. Dengan cepat rekannya tersebut berlari ke area musuh tapi dihadang oleh Jia. Sayangnya rekan Randy langsung mengoper bola tersebut ke Randy. Setelah mendapat pass Randy langsung berlari ke dekat area shooting dan mengepass ke centernya. Dan sang center langsung melakukan lay up dan bola itu masuk ke dalam ring.
Para suporter tim musuh langsung bersorak ria. Randy memberi kode kepada Lily kalau dirinya berhasil memasukkan. Lily memberikan tanda jempol ke Randy atas cara bermainnya. Tiba - tiba ponsel Lily berdering. Lily keluar dari area gedung olahraga untuk menjawab panggilan telepon sang suami.
"Halo baby! Apakah pertandingannya sudah dimulai?".
"Halo sayang! Sudah kok sudah dimulai dari tadi".
"Vc yuk!".
"Oke kalau begitu sayang".
Lily mengganti mode panggilan telepon ke mode vc. Kamera ponsel Lily mengarah ke para pemain yang sedang bermain. Edward melihat adiknya yang juga sedang bermain.
"Kelihatan, apa kamu tidak capek pegang?".
"Capek sih tapi tidak apa - apa".
"Letakkan di suatu tempat saja baby".
"Tidak apa - apa kebetulan aku bawa gantungan ponselku".
Lily mengambil gantungan ponselnya kemudian mengaitkannya di casing hpnya tapi sebelum itu dia harus membalik ponselnya agar sang suami bisa melihat dengan jelas. Kebetulan tali gantungan ponselnya panjang jadi bisa dikalungkan di lehernya. Edward bisa melihat jalannya permainan tersebut.
Kembali ke lapangan yang dimana skornya sudah menunjukkan kalau tim Sean sudah tertinggal jauh dengan timnya Randy. Perbedaan selisih angkanya yaitu dua belas poin. Lily mulai sedikit khawatir dengan alur permainan timnya. Dia melihat waktu yang baru berjalan enam menit tetapi dia berpikir untuk terlalu cepat meminta waktu istirahat. Lily menghampiri sang pelatih kemudian membahas strategi baru.
Dovan menghadang Randy yang memantulkan bola. Randy bersiap - siap dalam posisi shooting sayangnya shootingnya berubah menjadi passing dan Dovan terkecoh. Sean mengejar rekan Randy yang membawa bola dan lagi bolanya diumpan ke Randy. Dovan berusaha menghadang Randy agar tidak menembak dan Dovan terkecoh lagi, Randy mengubah posisi shootingnya menjadi lay up. Para penonton semakin bersorak ria melihat skill yang dimiliki oleh Randy.
__ADS_1
"Hehehehe... Kalau punya manajer itu dipakai jangan dianggurin apalagi modelan seperti Lily" ejek Randy kepada Dovan.
"Diam kau!" Dovan merasa kesal dirinya diejek seperti itu.
Dovan mengambil bola kemudian berlari sendiri tanpa mengumpan kepada siapapun namun tindakannya itu menyebabkan dia pelanggaran. Dengan kesalnya Dovan membanting bola itu. Randy yang melihat Dovan yang termakan emosi seketika memiliki rencana licik.
Randy kembali dijaga oleh Dovan yang dalam kondisi emosi. Kali ini Randy berlari melingkar Dovan kemudian dalam posisi shooting tapi trik yang sama tidak bekerja lagi. Dovan melompat kemudian menggunakan tangannya untuk menghadang tembakan Randy. Bolanya gagal ditembakan lalu Jia mengambil bola tersebut dan berlari.
Dovan mengikuti Jia dari belakang. Jia mengumpan bolanya kepada Dovan. Dengan kakinya yang sudah di garis three poin Dovan mengambil posisi shooting tapi dengan cepat Randy melompat di belakang Dovan dan menggunakan tangannya sebagai block. Dovan sangat terkejut melihat tangan Randy yang sangat panjang. Bola gagal masuk dan dua pemain jatuh bertumpuk. Randy dikenai pelanggaran karena mendorong. Sean membantu Dovan berdiri tetapi saat Dovan mengulurkan tangannya tiba - tiba saja bahunya terasa sangat sakit.
"Akh! Sakitnya!" rintih Dovan yang memegangi bahunya.
Lily yang melihat tanda itu langsung meminta pelatih meminta waktu istirahat. Sean memopong Dovan yang kesakitan. Lily meminta Sean untuk mendudukkan Dovan di bangku pemain kemudian Lily membuka perban tadi dan cedera semakin membesar. Tangan Lily mengambil sebungkus es batu lalu menempelkannya di bahu kanan Dovan.
"Akh! Aduhhh! Sakit Ly!".
"Iya aku tahu sakit! Tahan sebentar saja".
"Apa aku bisa bermain lagi?".
"Sebaiknya jangan! Yang lain akan menggantikanmu. Pak pelatih Dovan tidak bisa bermain lagi".
"Hei! Aku bisa!".
"Jangan membantah! Apa kau ingin mati?!".
Lily menampar bahu Dovan yang membengkak. Dovan langsung tersungkur saat bahunya ditampar.
"Makanya kalau dikasi tahu denger! Anak nakal!" Lily kembali menempelkan sebungkus es di bahu Dovan.
Edward yang bisa melihat pertengkaran Lily dengan temannya hanya bisa tertawa kecil saja. Dia bisa melihat kegembiaraan istri kecilnya saat di kampus.
MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA UNTUK HARI INI DOUBLE UPDATENYA
__ADS_1
To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>