Bunga Lily Milik Tuan Edward

Bunga Lily Milik Tuan Edward
Sean sangat diperlukan di rumah Lily


__ADS_3

Setelah merasa tenang Yuri mengajak Lily tidur di kamarnya. Melihat kedua gadis tersebut sudah masuk kamar, Sean maju menghadap Hazel dan Zeta.


"Kenapa kak Hazel membentak kakak ipar?! Apa kak Hazel tidak tahu kalau kakak ipar sedang hamil?!" tanya Sean yang meninggikan nada bicaranya.


"Sebelum aku datang ke sini dan setelah aku datang kesini baru aku tahu, tadi itu aku lupa maaf!" jawab Hazel dengan juteknya.


"Kok kak Hazel bisa lupa? Seharusnya kak Hazel ingat! Meskipun kak Hazel lupa seharusnya kak Hazel tidak membentaknya seperti tadi!" Sean tidak terima Lily dibentak seperti tadi.


"Kau tau namanya lupa?! Aku lupa! Sekarang Lily sudah tenang jadi tidak perlu dipermasalahkan lagi!" Hazel mulai malas membahas kejadian tadi.


"Tidak perlu dipermasalahkan?! Bagaimana kalau kejadian seperti terulang terus kakak ipar gimana - gimana?! Memangnya kak Hazel bisa menangani kejadian tadi?! Tidak kan?!".


"Bisa diam tidak?! Kenapa harus dibahas lagi?!".


"Dengar baik - baik kak Hazel! Kak Lily adalah adik kak Hazel,istri dari kakakku, dan kakak iparku juga! Kita para pria disini seharusnya menjaga kak Lily dan Yuri tadi sedangkan kak Hazel malah membentaknya hanya karena masalah sepele?".


"Aku panik! Aku belum pernah mendapatkan masalah seperti ini makanya aku tidak bisa menanganinya! Puas?!".


"Paling tidak bisa menenangkan kak Lily! Jangan diam berdiri seperti tadi!".


"Sudahlah Sean! Jangan berdebat lagi! Nanti didengar Lily" Max menahan Sean agar tidak berdebat lagi.


Hazel dan Zeta berjalan masuk ke kamarnya. Sean menatap tajam Hazel. Max menarik Sean sampai ke sofa.


"Cukup Sean! Jangan sampai Lily tahu! Jika tidak Lily akan merasa khawatir dan merasa bersalah" Max berusaha memperingati Sean.


"Aku tidak bisa menerimanya! Aku merasa kasihan sama kak Lily" Sean mengepal kedua tangannya.


"Jangan dibahas lagi! Jangan dipikirkan lagi! Kau paham?".


"Iya aku paham!".

__ADS_1


"Aku tidur di sofa saja takutnya nanti kak Lily ngidam malam".


"Aku tidur di sofa juga, aku ambil bantal guling dulu".


Max berjalan masuk ke kamar Hazel untuk mengambil bantal guling. Sean mengubah sofa tadi menjadi tempat tidur. Max terkejut melihat perubahan sofa tersebut.


"Kenapa bisa jadi tempat tidur? Bagaimana caranya" tanya Max yang melempar bantal kepada Sean.


"Sofa ini bisa diubah jadi tempat tidur juga karena aku yang membelinya bersama kak Lily jadi aku tahu cara mengubahnya" jawab Sean yang melempar dirinya ke ranjang.


Max ikut tiduran di sebelah Sean. Mereka saling hadap - hadapan dengan posisi tidur. Sean membuat wajah jijik saat menatap Max. Dengan segera Sean membalik badannya. Sean be like: iuuhhh jijik banget.


...****************...


Suasana malam begitu tenang tidak ada bunyi apapun. Di kamar Lily tiba - tiba sang pemilik kamar terbangun dan berjalan menuju dapur dengan membawa ponselnya. Jam di ponsel Lily menunjukkan pukul tiga pagi. Meskipun begitu mata Lily terbuka sempurna.


Lily berjalan perlahan menuruni tangga. Mata Lily melihat Max dan Sean tidur di sofa. Lily melangkah menghampiri Sean.


"Sean... Sean... Bangun dong... Aku lapar...." ucap Lily yang menggoyang - goyangkan tangan Sean.


"Aku lapar! Aku mau makan bubur ayam! Ayo Sean!" Lily duduk di pinggir ranjang dengan kedua lengannya dilipat.


"Ah? Dimana mau cari bubur ayam jam segini?" Sean mendudukkan tubuhnya.


"Jangan beli! Aku mau kamu yang masak" Lily membuat wajah imutnya agar Sean mau menuruti keinginannya.


"Aku tidak masak kak Lily! Beli aja ya?" Lily mengelus rambut kakak iparnya.


"Isshhh!... Tidak mau! Maunya kamu yang masak! Harus Sean yang masak! Ini permintaan Pinpin!".


"Kak Lily tahu cara masak bubur ayamkan?".

__ADS_1


"Tidak!".


"Terus bagaimana caranya kita masak kak? Kakak saja tidak tahu cara masaknya".


"Maunya Sean yang masak! Pokoknya Sean yang masak!".


Sean sudah tidak terpikiran ide apapun untuk membujuk sang kakak ipar. Max yang mendengar suara rengekan Lily akhirnya terbangun dari tidurnya. Max mendudukkan tubuhnya dan bertanya kepada Sean,


"Ada apa ini pagi - pagi? Kenapa pada ribut?".


"Ini kak Max Kak Lily minta bubur ayam tapi aku disuruh masak dan saat aku tanya kak Lily tahu cara masaknya dia tidak tahu" jawab Sean yang menjelaskan situasi hari ini.


"Ohh... Kalau begitu aku saja! Aku bisa buat bubur ayam" Max beranjak dari ranjangan menuju dapur.


"Yeayyy!... Pak dosen masak bubur ayam" Lily berjalan mengikuti Max di belakang.


Max mulai memasak bubur ayam. Lily menyalakan lampur dapur dan ruang tamu. Sean ikut membantu Max. Lily duduk manis sambil memainkan ponselnya.


Author skip aja proses pembuatannya karena author tidak tahu cara pembuatan bubur,makasi.


Setelah beberapa menit memasak bubur ayam akhirnya bubur ayam pun jadi. Saat Sean akan membawa mangkuk berisi bubur ke meja makan dia mendapati Lily sudah tertidur pulas. Sean menoleh ke arah Max dan mengangkakmt mangkuk itu seolah memberikan tanda harus diapakan bubur ini. Max mengambil mangkuk tersebut lalu dibungkus alumunium foil dan dimasukkan ke kulkas.


Sean menggendong kakak iparnya kemudian memindahkannya ke ranjang tempat Sean tidur tadi. Max dan Sean memutuskan tidur dilantai saja agar kedua kakaknya tidak curiga.


...****************...


Keesokan paginya semua orang yang ada di kediaman Edward sudah selesai bersiap - siap. Max satu mobil dengan Lily,Sean,dan Yuri sedangkan kedua kakak Lily sudah pergi terlebih dahulu ke kantor. Lily sebenarnya tidak ingin berangkat ke kampus tapi karena tawaran Sean akhirnya dia memutuskan untuk masuk saja.


Mereka berempat sampai di parkiran dosen. Lily dan Yuri segera menyingkir dari sana agar tidak dicurigai. Max dan Sean berjalan dengan penuh kharisma. Semua mahasiswi yang mereka lalui langsung terpukau melihat penampilan dosen dan mahasiswa favorit kampus.


SEGINI DULU GUYSSS UNTUK BESOK YANG DOUBLE ADALAH CAFE AND RESTORAN MAKASI

__ADS_1


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>


__ADS_2