
Edward merasa marah setelah mendengar tindakan yang dilakukan oleh pegawainya. Lily memeluk Edward saat berada di dalam lift.
Jujur saja ini pertama kalinya Lily masuk ke gedung perusahaan suaminya sebelumnya tidak pernah sama sekali. Edward tidak memberikan izin Lily keluar karena dia takut kalau istrinya diejek atau dibully dan segala macam oleh orang - orang kantor.
Mereka pun sampai di lantai paling atas tempat ruangan Edward berada. Saat Lily masuk ke ruangan tersebut dia sangat terkejut dengan dekorasi kantor Edward yang berbeda dari yang lain. Edward memilih interior yang bersifat menyejukkan dan sederhana karena itu mampunya berpikir saat bekerja.
"Wow sayang! Ini sangat indah sekali! Aku suka" puji Lily terhadap interior ruangan tersebut.
"Kalau kau ingin satu katakan saja" Edward mengajak Lily untuk duduk di pangkuannya.
Edward duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Lily pun duduk di pangkuan Edward dengan posisi berhadapan langsung dengan Edward. Mereka saling tatap menatap satu sama lain.
"Sayangku jangan marah,ya?" Lily berusaha membujuk Edward supaya dia mau memaafkan dirinya.
"Tidak! Aku masih marah padamu! Aku butuh penjelasan yang jelas mengenai kejadian yang tadi" jawab Edward yang meminta penjelasan dari sang istri.
"Jadi begini sayangku tercinta tadi saat aku ingin bertemu teman cewekku setelah itu ada tiga teman cowokku datang dan aku tidak tahu kalau salah satu teman cowokku akan menyatakan perasaan kepadaku" Lily menjelaskan semua kejadian yang terjadi tadi.
"Apa ada hal lain lagi?" tanya Edward yang masih curiga kepada Lily.
"Ada! Dia menyatakan perasaannya menggunakan buket bunga mawar padahal aku sukanya bunga Lily" jawab Lily yang kembali menambahkan beberapa kata di penjelasannya.
"Aku sudah bilang sayangku tercinta jangan dekat - dekat dengan tiga teman cowokmu itu".
"Aku sudah menjauhi mereka tapi mereka yang terus mendekati aku".
"Tetap jauhi mereka apa pun caranya".
"Akan aku usahakan sayangku tercinta".
"Apa mereka tahu hubungan kita?".
"Mereka bertiga tidak tahu tapi teman cewekku mengetahuinya karena di saat kau menelponku tadi dia sedang meminjam handphone jadi dia melihat tulisan nama yang tertera di layar".
"Memangnya nama apa kau tulis di kontak namaku?".
"My husband♡~...".
"Bagus! Kau memang yang terbaik istriku tercinta".
__ADS_1
"Kalau aku bagaimana?".
"Namamu? Aku tulis nama My sweetie wife♡~...".
"Ya ampun sayang! Jadi malu aku".
"Tidak usah malu sayangku" Edward mendekatkan wajahnya dengan wajah Lily.
Wajah Lily memerah setelah mendengar nama kontak yang ditulis oleh Edward di handphone juga tindakan Edward yang semakin membuatnya malu. Lily menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Sayang! Apa kau terluka tadi saat pegawaiku mengenaimu?" tanya Edward yang langsung mengecek kondisi kedua lengan Lily.
"Hanya sedikit sakit saja tapi aku rasa sepertinya tidak ada luka apa pun" jawab Lily yang memperlihatkan kedua lengannya.
"Aku akan memperingatkan dia nanti dan aku akan memberinya hukuman" ucap Edward sambil mengelus - elus salah satu lengan Lily.
"Tidak perlu begitu sayang itu hanya kecelakaan kecil saja" Lily melarang suaminya untuk menghukum pegawainya.
"Kecelakaan kecil? Tapi lama - lama tindakan dia akan semakin arogan sayang, aku hanya akan memberikan dia hukuman kecil saja".
"Ya sudah terserah kau saja itu tergantung padamu".
"Tok...tok...tok...".
"Permisi tuan EdwaRD?!!!...Siapa anda?! Kenapa anda memeluk tuan Edward?!" tanya seorang pegawai wanita yang sangat terkejut melihat pemandangan suami istri yang sedang bermesraan.
"Diam kau! Ada apa, Wiya?" Edward menolak menjawab pertanyaan dari pegawai wanita yang bernama Wiya tersebut.
"Ah?! Ekhem! Ada tuan Prino ingin menemui anda" jawab Wiya yang langsung menunduk hormat.
"Katakan padanya untuk pergi dari sini! Aku sedang sibuk!" Edward membenarkan posisi duduk yang merosot dan memeluk Lily kembali.
"Laksanakan tuan" Wiya langsung melaksanakan tugasnya.
"Untuk apa dia datang kemari?! Aku sudah katakan padanya kalau aku tidak tertarik pada adiknya sama sekali" batin Edward yang sedang memarahi seseorang.
Edward melihat istrinya yang hanya terdiam saja kemudian dia melihat ke wajah Lily yang ternyata istri manisnya tersebut sudah tertidur. Tangan Edward tidak melonggarkan sedikit pun pelukan tersebut malahan Edward menguatkan pelukan tangannya agar Lily tidak terjatuh.
Di gedung perusahaan lebih spesifiknya di ruang tunggu tamu , ada seorang pria dengan seorang gadis sedang menunggu sesuatu. Sang gadis terlihat tidak senang sama sekali dia terus mengerutkan wajahnya.
__ADS_1
"Kakak! Kapan kak Edward akan sampai?!" tanya gadis tersebut kepada pria yang duduk di sebelahnya yang merupakan kakaknya.
"Aku juga tidak tahu! Yang penting aku sudah memanggilnya!" jawab pria tersebut dengan nada bicara ketus sekali.
Pintu ruang tunggu yang menampakkan Wiya. Kemudian Wiya menundukkan tubuhnya dan menyampaikan pesan tuannya.
"Tuan Prino dan nona Viona anda disuruh pergi dari sini! Ini adalah perintah tuan Edward".
"Apa maksudmu?! Edward tidak mungkin berbicara seperti itu! Kemarin - kemarin aku bisa memasuki gedung ini sesukaku!" bantah gadis yang bernama Viona.
"Kenapa kak Edward ingin mengusir kami?! Apa dia memiliki dendam pada kami?!" tanya pria yang bernama Prino.
"Tuan Edward mengatakan kalau dirinya saat ini sedang sangat sibuk" jawab Wiya yang berusaha menahan emosinya.
"Biarkan kami masuk! Aku ingin bertemu dengannya! Sudah sebulan ini aku tidak bertemu kak Edward!" Viona semakin menjadi - jadi untuk memarahi Wiya.
"Itu karena nona Wiya tidak tahu malu! Tuan Edward sudah menolak anda ribuan kali dan nona masih berani datang kesini! Apakah nona tidak berpikir kalau nona Viona tidak tahu malu ?!" Wiya sudah tidak bisa menahan lagi emosinya yang meledak.
"Kenapa kau berbicara seperti?! Kau itu hanya seorang sekretarisnya kak Edward! Aku bisa meminta kak Edward memecatmu!" Viona juga tidak mau kalah dalam perdebatan ini.
"Nona Viona pikirkan baik - baik dong dengan otak cerdas nona! Betapa tidak tahu malunya nona yang rela mengejar tuan walaupun sudah ditolak ribuan kali!".
"Kamu jangan sembarangan bicara! Kak Edward masih menyayangiku layaknya kekasih!".
"Kekasih! Hahaha... Nona Viona bukan apa - apa dibandingkan wanita yang dibawa oleh tuan Edward".
Viona terkejut mendengar ucapan Wiya. Dia tidak percaya kalau Edward membawa seorang wanita ke kantornya bahkan untuk masuk ke ruangannya saja itu membutuhkan usaha.
Viona mendorong Wiya sampai terjatuh lalu menuju ruangan Edward. Kakaknya membantu Wiya berdiri kemudian segera mengikuti adiknya yang sedang marah.
Edward sedang mengelus - elus punggung yang tertidur dalam pelukkannya. Saat sedang memanjakan istrinya tiba - tiba saja Edward mendapatkan ide untuk menjaili istrinya. Edward mengambil handphonenya kemudian memfoto Lily yang sedang tertidur di bahunya.
Edward tidak menyangka kalau istrinya akan secantik dan imut ini. Dia lumayan banyak mengambil foto kemudian dia jadikan sebagai wallpaper handphonenya.
"BLAKK!!!..." suara pintu ruangan Edward dibuka dengan cara dibobrak.
"Edward! Apa maksudmu ini?!" tanya Viona yang melihat pemandangan tersebut.
Makasi yang sudah baca dan jangan lupa kasi support
__ADS_1
To be contiuned\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>